Perang saudara Sudan bukan sekadar pertikaian internal, tapi perebutan kekuasaan dua jenderal militer yang dahulu bersekutu menggulingkan rezim lama mengorbankan rakyat menjadi genosida mengerikan
Hidayatullah.com | APA yang sedang terjadi di Sudan? Mengapa peristiwa ini disebut krisis kemanusiaan terbesar di dunia saat ini? Berikut fakta dan Kronologi untuk memahami musibah dan penderitaan warga Sudan.
Sebelum Sudan dikenal karena perang, ia dikenal dunia sebagai “Negeri Dua Nil” (pertemuan Nil Biru dan Nil Putih di Khartoum) dan salah satu mercusuar peradaban Islam di Afrika.
Selama ratusan tahun, Sudan adalah pusat zikir dan ilmu. Wilayah ini dipenuhi ribuan khalwa (sekolah Qur’an tradisional) yang melahirkan jutaan Huffaz (penghafal Al-Qur’an).
Tanah yang diberkahi dengan cinta yang luar biasa pada Kitabullah, kini porak-poranda oleh konflik.
Fakta Darurat Kemansuaiaan
Apa yang terjadi di Sudan adalah bencana kemanusiaan global. Perang saudara yang menimpa rakyat menjelma mimpi buruk umat Islam sedunia pada hari-hari ini.
Ini data-datanya:
- 25,6 JUTA jiwa total populasi yang membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak.
- 18 JUTA orang menghadapi kelaparan akut.
- 11+ JUTA orang telah mengungsi (krisis pengungsian terbesar di dunia saat ini).
- 14 JUTA anak-anak membutuhkan bantuan. Mereka adalah generasi yang paling rentan terhadap kelaparan, penyakit, dan trauma perang.
- 3 RIBU korban tewas akibat brutalitas yang terjadi dari pihak-pihak yang berkonflik. (Sumber: PBB OCHA & IOM, data per Oktober/November 2025).
“Sudan menghadapi kehancuran total jika perang ini tidak segera dihentikan,” kata Martin Griffiths, Kepala Urusan Kemanusiaan PBB, dikutip dari Reuters, 28 Oktober 2025).
Mengapa Perang Saudara Terjadi?
Apa yang terjadi di Sudan bukanlah sekadar perang saudara biasa. Ini adalah perebutan kekuasaan brutal antara dua faksi militer yang dulu bersekutu.
Keduanya menggunakan senjata berat di tengah kota padat penduduk, seperti kota El Fasher. Sehingga warga sipil tak ubahnya tameng dan target.
Intinya: Ini adalah perang antara dua Jenderal yang mengorbankan 48 juta rakyat Sudan demi kekuasaan.
Siapa Pihak yang Berkonflik?
Pertama, Jenderal Al-Burhan pemimpin SAF (Sudanese Armed Forces), tentara nasional resmi Sudan, merupakan kepala negara de facto setelah revolusi 2019.
Kedua, Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, dikenal sebagai Hemedti, memimpin pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) sangat kuat dan terkenal kaya karena menguasai tambang emas dan mendapat dukungan logistik dari Uni Emirat Arab (UEA).

Hemedti sebelumnya adalah wakil Al-Burhan sebelum mereka saling serang. Kedua pihak menggunakan senjata berat di wilayah padat penduduk seperti Khartoum dan El-Fasher, menyebabkan ribuan warga sipil menjadi korban.
Dalam rangka penguasaan emas, RSF didukung dengan persenjataan yang dipasok dari Uni Emirat Arab (UAE), sekutu Israel di Timur Tengah.
RSF terkenal brutal dan dituduh melakukan kejahatan perang serta pembersihan etnis di Darfur — tuduhan yang telah diselidiki oleh Amnesty International dan Human Rights Watch.
Kronologi Perang Saudara
1. Jatuhnya Diktator Omar al-Bashir (2019)
Selama tiga dekade, Sudan dipimpin oleh diktator Omar al-Bashir. Gelombang protes rakyat pada 2019 menggulingkannya. Saat itu, al-Burhan dan Hemedti tampil sebagai “penjaga revolusi” dan berjanji mengantar negara menuju pemerintahan sipil. Namun, janji itu menjadi awal dari perseteruan.
2. Harapan dan Pengkhianatan (2021)
Pada 2020, pemerintah transisi di bawah Perdana Menteri Abdalla Hamdok sempat memberi harapan demokrasi. Tapi pada Oktober 2021, kedua jenderal melakukan kudeta militer yang menggulingkan Hamdok dan membubarkan pemerintahan sipil.
“Sudan kembali ke titik nol. Kudeta ini mencuri impian rakyat,” kata Hamdok dalam wawancara dengan BBC Africa (1 November 2021).
3. Meledaknya Perang Total (2023)
Ketegangan meningkat setelah SAF menuntut integrasi pasukan RSF ke dalam tentara nasional. Hemedti menolak, khawatir kehilangan kekuatan ekonomi dan militer.
Maka pada 15 April 2023, bentrokan besar pecah di Khartoum dan dengan cepat meluas ke Darfur serta Kordofan.
Laporan Al Jazeera menyebut serangan udara dan artileri menewaskan ribuan warga sipil. RSF diduga melakukan pembersihan etnis terhadap kelompok Massalit di Darfur Barat — peristiwa yang disebut “Darfur 2.0” oleh The Guardian.
Kota-kota yang Runtuh
Hingga akhir 2025, pertempuran masih berlangsung di Khartoum, Omdurman, dan El-Fasher. Fasilitas rumah sakit hancur, jaringan listrik lumpuh, dan harga bahan pangan melonjak lebih dari 300 persen menurut laporan World Food Programme (WFP).
“Tidak ada tempat yang aman di Sudan. Setiap hari kami mengubur anak-anak,” ujar Dr. Alaa el-Din, relawan medis di Darfur kepada Associated Press (20 Oktober 2025).
Lembaga kemanusiaan memperingatkan risiko kelaparan massal jika jalur bantuan tidak segera dibuka. Hingga kini, perundingan damai yang dimediasi Arab Saudi dan Uni Afrika belum membuahkan hasil.
Mengapa Muslim Wajib Peduli?
Sebagian besar korban perang adalah warga sipil Muslim yang tidak terlibat dalam konflik bersenjata. Mereka hidup di bawah ancaman kelaparan, kekeringan, dan kekerasan bersenjata tanpa perlindungan apa pun.
Menurut UNICEF, lebih dari 70% anak Sudan kini tidak bersekolah dan berisiko tinggi mengalami gizi buruk.
“Sudan adalah luka terbuka di dunia Islam,” tulis Al Jazeera Arabic dalam editorialnya (November 2025). “Kita tidak boleh diam ketika umat yang cinta Al-Qur’an sedang dijerat kelaparan dan perang.”
Perang saudara akibat ulah dua jenderal yang menghancurkan satu bangsa ini telah menjerumuskan 48 juta rakyat ke jurang penderitaan dan menjadikan Sudan sebagai krisis kemanusiaan terbesar abad ini.
Selama dunia masih bungkam dan perang terus berkecamuk, Sudan akan tetap menjadi negeri yang menangis di pertemuan dua Nil — negeri para penghafal Al-Qur’an yang kini berjuang untuk sekadar bertahan hidup.
Masyarakat muslim Sudan yang tak bersalah dan bukan dari salah satu pihak yang bertikai adalah korban terbanyak dalam situasi ini. Mereka adalah keluarga kita yang sedang dizalimi.
Ketika 14 juta anak kelaparan dan RSF dituduh melakukan pembersihan etnis di Darfur (Sumber: Laporan PBB & Al Jazeera), diam melihat pembantaian bukan pilihan!*/Kita_berkhidmat, ditambah beberapa sumber




