Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Humor, Ibadah, dan Garis Merah Etika Publik

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Januari 2026 05:16 5:16 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Januari 2026 12:02
Bagikan
Bagikan

Kontroversi Pandji Pragiwaksono ini menegaskan kebebasan berekspresi dalam humor menuntut tanggung jawab etis, karena ketika ibadah shalat yang sakral dijadikan bahan satire, yang muncul bukan pencerahan, melainkan kegaduhan dan luka kolektif

Oleh: Akh. Kholis

Hidayatullah.com | KOMIKA Pandji Pragiwaksono menjadi perbincangan publik setelah penampilan stand-up comedy-nya di Mens Rea memantik perdebatan. Banyak Gen-Z yang membela penampilannya yang mengkritik dua ormas besar NU dan Muhammadiyah menerima tambang dari pemerintah.

Sayangnya, banyak yang kurang peka, bahwa materi lawakannya tidak hanya soal tambang, ada yang menyentuh  wilayah agama. Di bawah ini salah satu kutipan humor-nya yang dinilai meremehkan masalah ibadah sholat.

“Ada yang memilih pemimpin berdasarkan ibadahnya.Memangnya kalau shalatnya tidak pernah bolong otomatis baik? Enggak. Lu juga males kalau lo tahu Garuda Indonesia buka lowongan. Dicari pilot, syarat sholatnya gak pernah bolong  (sambil wajahnya sedikit menyeringai disambut tawa penonton). Panik gak lo. Penumpang yang terhormat pesawat mengalami turbulansi akibat gangguan cuaca. Harap longgarkan sabuk pengaman dan rapatkan saf, kita shalat safar berjamaah,” sambil tangannya memperagakan seolah dia seorang imam sholat dan disambut tawa penonton.

Baca Juga

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Di Bawah Teduh Tauhid Rahamutiyah: Sebuah Obituari
Tragedi San Diego & Hipokrisi Barat
Tolak Penyembelihan Dam Haji di Indonesia, Begini Fatwa MUI
Mengelola Ikhtilaf: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Tak hanya itu, ia kemudian menirukan gaya pesan yang sering dipakai krue Citilink memakai pantun. “Jalan-jalan ke pasar malam, pulang-pulang membawa kayu. Yang belum Islam, login yuk!” katanya disambut tawa lagi.

Konsekuensi demokrasi hak warganegara dalam memilih pemimpin sesuai pandangannya, Tapi kesalahan fatal Pandji menistakan kan pesan nabi bahwa dalam islam sholat adalah tiang agama dan merup rukun islam penting kedua bagi muslim sbg bahan olok-olokan dlm ceritanya. ini bkn lagi… pic.twitter.com/bdvEzeJN72

— Muannas Alaidid, SH. MH. (@muannas_alaidid) January 10, 2026

Reaksi keras terhadap materi tersebut datang dari berbagai kalangan, termasuk pengacara Muannas Alaidid. Melalui akun X @muannas_alaidid pada 10 Januari, ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar selera humor, melainkan pelecehan terhadap inti ajaran Islam.

“SHOLAT ITU KATANYA TIANG AGAMA ORMAS ISLAM KEMANA, KETIKA ISLAM NYATA-NYATA TELAH DILECEHKAN‼️

Setelah melecehkan suku Toraja, sekarang Pandji Pragiwaksono melecehkan agama Islam. Ia mengumpulkan puluhan ribu orang untuk mengajak mereka menertawakan sholat dan ormas Islam,” tulisnya.

“Kini sholat dijadikan bahan lelucon untuk apa? Satire politik. Apakah pantas agama dijadikan materi komedi atas dasar kritik politik? Apakah melecehkan agama dan suku sekarang dianggap kebebasan berekspresi? Semua ada batasannya,” tambah dia.

“Tak peduli keuntungan komersil miliaran, kali ini Pandji jelas-jelas telah melewati batas. Kalau negara diam, rakyat pantas saatnya bergerak,” tambahnya lagi.

Kutipan ini mencerminkan kegelisahan publik yang melihat shalat—ibadah paling fundamental dalam Islam—direduksi menjadi alat satire.

***

Dunia telah berulang kali memberi peringatan melalui kontroversi komedian yang menyinggung wilayah sensitive. Salah satu contoh comedian Tim Minchin hingga serial animasi South Park yang menjadikan simbol agama sebagai bahan satire ekstrem. Sejarah menunjukkan, humor yang menyentuh wilayah sakral kerap berujung kegaduhan, bukan pencerahan.

Humor, Etika, dan Kesakralan Ibadah

Islam tidak memusuhi humor, tetapi menempatkannya dalam bingkai adab. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan agar manusia tidak saling mengolok, terutama dalam perkara yang menyentuh martabat dan keyakinan (QS. Al-Hujurat: 11). Dalam tradisi Islam, shalat bukan simbol sosial yang cair, melainkan ibadah yang kedudukannya sangat sakral: perintah langsung Allah SWT tanpa perantara Jibril dan amalan pertama yang dihisab.

Kajian akademik komunikasi menguatkan sensitivitas ini. John C. Meyer dalam Humor as a Double-Edged Sword (2000) menjelaskan bahwa humor dapat membangun solidaritas, tetapi juga mampu “mengasingkan dan melukai” ketika menyasar identitas inti suatu kelompok. Dalam konteks agama, identitas inti itu adalah ibadah.

Incongruity Theory—yang dibahas antara lain oleh Thomas Veatch dan Victor Raskin—menjelaskan bahwa humor muncul dari benturan makna yang tidak lazim. Ketika simbol sakral seperti shalat diposisikan dalam kerangka satire politik atau logika profan, ketidaksesuaian itu memang bisa memicu tawa, tetapi juga menimbulkan rasa terhina bagi mereka yang memaknai shalat sebagai kewajiban ilahiah, bukan produk sosial.

Lebih jauh, riset Peter McGraw dan Caleb Warren dalam Benign Violation Theory (Psychological Science, 2010) menunjukkan bahwa humor hanya bekerja jika pelanggaran norma masih dianggap “aman” dan tidak mengancam nilai fundamental audiens. Mereka menegaskan bahwa ketika pelanggaran menyentuh moralitas inti—seperti agama dan ibadah—persepsi “benign” runtuh. Humor pun berubah menjadi ofensif.

Temuan ini sejalan dengan laporan media internasional seperti The Guardian dan Pew Research Center yang mencatat bahwa lelucon tentang agama secara konsisten berada di peringkat tertinggi sebagai pemicu kemarahan publik lintas budaya. Dengan kata lain, kegaduhan akibat humor agama bukan anomali, melainkan pola yang berulang dan dapat diprediksi.

Pelajaran dari Kontroversi Global dan Jalan Etis

Kasus Pandji tidak berdiri sendiri. Dunia telah menyaksikan bagaimana satire agama memicu ketegangan serius. Kartunis Denmark Kurt Westergaard diserang akibat karikatur Nabi Muhammad di Jyllands-Posten, sementara Tim Minchin dan South Park berulang kali menuai kecaman global karena menjadikan agama sebagai bahan ejekan. Kasus-kasus ini bukan pembenaran atas kekerasan, tetapi peringatan keras bahwa simbol keagamaan memiliki daya ledak sosial yang nyata.

Dalam konteks Indonesia, kasus-kasus serupa terus berulang serasa tidak kapok. Pada 1990, tabloid Monitor mempublikasikan angket “50 Tokoh Paling Dikagumi”, di mana Arswendo menempatkan Nabi Muhammad ﷺ dalam ranking 11 di bawah Menteri Harmoko (peringkat 9, 797 suara), Mbak Tutut (8), Saddam Hussein (7), hingga Presiden Soeharto di nomor 1.

Umat Islam marah sehingga memicu aksi demo besar dan tuntutan dari tokoh-tokoh Muslim seperti Natsir, Dr Amien Rais, hingga Cak Nur (Dr Nurcholis Madjid). Atas kasus ini, Arswendo dipenjara dengan Pasal 156 KUHP penistaan agama, plus pelanggaran UU Pers.

Respons publik terhadap materi Mens Rea menunjukkan bahwa humor agama bukan perkara ringan. Kritik ulama, aktivis, hingga langkah hukum memperlihatkan betapa sensitifnya isu ini. Pengalaman global mengajarkan bahwa kontroversi semacam ini jarang berakhir sebagai diskusi sehat; ia lebih sering memantik konflik horizontal.

Menjadikan shalat—tiang agama Islam—sebagai bahan humor politik memiliki risiko serupa. Kritik terhadap praktik sosial atau politik sah dilakukan, tetapi menjadikan ibadah sebagai objek olok hanya akan memperlebar jurang ketersinggungan dan polarisasi.

Dalam Islam, ibadah —termasuk di dalamnya sholat— adalah salah satu sarat penting kepemimpinan.  Bahkan Imam Mawardi dalam Al-Ahkām as-Sulṭāniyyah menulis;

Imamah (kepemimpinan) ditegakkan untuk menggantikan peran kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Karena itu, seorang pemimpin dituntut memiliki keadilan, amanah, dan kemampuan menjalankan hukum Allah, agar kemaslahatan umat terpelihara dan kerusakan dapat dicegah.”
“Ketaatan kepada kewajiban agama—termasuk shalat—merupakan fondasi moral seorang pemimpin, namun ia tidak berdiri sendiri. Kepemimpinan tidak cukup ditopang oleh kesalehan ritual semata, melainkan harus disertai kecakapan, kebijaksanaan, dan kemampuan mengelola urusan publik secara adil.” (Kitab Al-Ahkām as-Sulṭāniyyah).

Karena itu, para komika dan kreator konten perlu menempatkan etika sebagai pagar kebebasan berekspresi. Kritik sosial tetap mungkin dilakukan tanpa menabrak kesakralan ibadah.

Para komika harus belajar kasus-kasus sebelumnya. Satire yang cerdas adalah satire yang tahu batas.

Di sisi lain, umat Islam dituntut merespons dengan keteguhan dan kedewasaan. Marwah ibadah harus dijaga, tetapi dengan cara damai dan bermartabat. Kritik boleh, dialog terbuka sah, namun etika adalah kewajiban bersama.

Pada akhirnya, humor yang menyentuh agama bukan sekadar soal selera. Ia adalah ujian kedewasaan publik dalam menghormati keyakinan orang lain—dan sejarah telah cukup sering menunjukkan, ketika batas itu dilanggar, yang lahir bukan tawa, melainkan kegaduhan.*

Penulis sarjana komunikasi dan konsultan public relation

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinehumorkebebasan berekspresikomikaPandji Pragiwaksonopenistaan agamaPilihan Redaksisatiresholattanggung jawab etis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Isra’ Mi’raj: Pilar Iman Perempuan
Tulisan selanjutnya Blueprint Pemimpin Ulul Albab

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaGhazwul Fikr

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!

6 Mei 2026 12:55
Pustaka

Menuangkan Ide Melalui Novel: Telaah Karya Abbas Aqqad, Malek Bennabi dan Hamka

4 Mei 2026 11:13
Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Pustaka

Telaah Buku Dr. Raghib As-Sirjani: Syi’ah dalam Timbangan Sejarah dan Aqidah

22 April 2026 22:47
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?