Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Forewarned Is Forearmed: Ketika Wahyu Telah Selesai, Bumi Mulai Bersaksi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Maret 2026 14:20 2:20 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Februari 2026 14:15
Bagikan
Terus Bertambah, Korban Meninggal Dunia Akibat Bencana di Sumatera Jadi 442 Jiwa
Bagikan

Peringatan Ilahi selalu mendahului kehancuran; mengabaikannya berarti memilih rapuh di tengah ilusi kemajuan.

Oleh: Achmad Tantan S.

Hidayatullah.com | PERADABAN jarang runtuh secara tiba-tiba. Ia hampir selalu didahului tanda-tanda. Sejarah memberi isyarat, alam menyampaikan peringatan, tetapi manusia—terutama yang sedang berada di puncak kekuasaan dan teknologi—kerap menunda kesadaran. Kita baru percaya setelah kerugian menjadi nyata, setelah bencana menjadi statistik, dan setelah peringatan berubah menjadi hukuman.

Al-Qur’an sejak awal mengajarkan satu prinsip mendasar: tidak ada kehancuran tanpa peringatan. Dalam Surah Ar-Rum ayat 8–9, Allah berfirman:

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ ۗ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ ۝ أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا ۚ وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Baca Juga

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Di Bawah Teduh Tauhid Rahamutiyah: Sebuah Obituari
Tragedi San Diego & Hipokrisi Barat
Tolak Penyembelihan Dam Haji di Indonesia, Begini Fatwa MUI
Mengelola Ikhtilaf: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

“Dan apakah mereka tidak memikirkan tentang diri mereka? Allah tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya banyak di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.”

Ayat ini mengguncang kesombongan modern. Umat-umat sebelum kita digambarkan lebih kuat, lebih mampu mengolah bumi, dan lebih berhasil memakmurkannya. Namun kehancuran mereka bukan karena keterbelakangan, melainkan karena kezaliman terhadap diri sendiri.

Masalah peradaban bukan terletak pada kemampuan mengolah bumi, melainkan pada arah dan batas pengolahannya. Kemajuan yang tercerabut dari kesadaran moral justru mempercepat kehancuran. Sejarah membuktikannya berulang kali.

Prinsip Qur’ani ini memiliki padanan dalam dunia strategi: forewarned is forearmed—yang diperingatkan lebih awal sejatinya telah dipersenjatai.

Dalam tradisi strategi Timur, pemikiran Sun Tzu menekankan bahwa kemenangan ditentukan jauh sebelum pertempuran dimulai melalui informasi dan antisipasi. Dalam tradisi Romawi, Vegetius menulis bahwa pasukan yang disiplin dan siap sering kali menang tanpa pertempuran besar. Intinya sama: peringatan dini adalah kekuatan.

Namun Islam melangkah lebih jauh. Dalam Al-Qur’an, peringatan bukan sekadar taktik bertahan, melainkan bagian dari keadilan Ilahi. Allah berfirman:

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

“(Kami mengutus) rasul-rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah diutusnya para rasul.” (QS. An-Nisa: 165).

Para rasul diutus sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan agar manusia tidak memiliki alasan di hadapan Allah. Tidak ada azab tanpa hujah, tidak ada kehancuran tanpa sinyal yang cukup.

Relevansi Surah Ar-Rum semakin nyata ketika Allah menegaskan dalam ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Kerusakan di darat dan laut bukan sekadar kecelakaan alam, melainkan konsekuensi perbuatan manusia. Krisis ekologis—iklim ekstrem, degradasi tanah, rusaknya laut, dan ancaman pangan—bukan takdir netral. Ia adalah bahasa peringatan. Sunyi, tetapi tegas.

Zaman kini memang berbeda. Tidak ada lagi rasul yang berdiri di tengah kota memperingatkan secara langsung. Wahyu telah sempurna. Namun sunnatullah tetap berjalan. Peringatan hadir melalui ayat-ayat kauniyah—tanda-tanda alam yang berbicara tanpa suara.

Sayangnya, peradaban modern kerap menolak membaca tanda sebagai peringatan. Kita menyebutnya “tantangan teknis”, “risiko yang bisa dikelola”, atau “guncangan eksternal”. Bahasa teknokratis menenangkan, tetapi juga meninabobokan.

Indonesia pun tidak kebal. Pembangunan sering dipahami sebagai percepatan ekstraksi: hutan ditebang, tanah dikeruk, sungai diluruskan, laut dieksploitasi tanpa kaidah keberlanjutan.

Keberhasilan diukur dari pertumbuhan angka, bukan dari daya dukung ekosistem dan ketahanan sosial. Alam diperlakukan sebagai variabel ekonomi, bukan sebagai amanah kehidupan.

Perspektif fitrah tidak menolak kemajuan. Ia menolak kesombongan kemajuan. Ia tidak memusuhi teknologi, tetapi menolak teknologi yang kehilangan orientasi amanah. Pembangunan sejati adalah yang memperkuat manusia tanpa merusak bumi, memanfaatkan sumber daya tanpa memutus regenerasi, dan menumbuhkan ekonomi tanpa menghancurkan kehidupan jangka panjang.

Sejarah selalu memberi peringatan sebelum hukuman. Alam memperingatkan ketika masih ada waktu untuk berubah. Tragisnya, manusia modern sering lebih percaya pada laporan kerugian daripada tanda-tanda awal.

Dalam perspektif Qur’ani, ini bukan sekadar kegagalan intelektual, melainkan kegagalan membaca tanda. Ketika wahyu telah selesai berbicara, bumi mulai bersaksi. Ketika peringatan diabaikan, konsekuensi datang bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai penagihan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu membangun, tetapi apakah kita cukup bijak untuk berhenti sebelum melampaui batas. Karena peradaban tidak hancur karena kurang kekuatan, melainkan karena mengabaikan peringatan.

Dan dalam bahasa yang paling jujur: yang diperingatkan lebih awal sejatinya telah dipersenjatai. Tinggal mau dipakai atau tidak.*

Sarjana IPB

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bumiIlahikehancuran; kemajuanPeringatanwahyu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Timnas Sepak Bola Amputasi Gaza Angkat Pep Guardiola Jadi Pelatih Kehormatan
Tulisan selanjutnya Pemhida Jatim Gelar Musywil, Diharapkan Jadi Pemuda Motor Penggerak Sejarah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaGhazwul Fikr

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!

6 Mei 2026 12:55
Pustaka

Menuangkan Ide Melalui Novel: Telaah Karya Abbas Aqqad, Malek Bennabi dan Hamka

4 Mei 2026 11:13
Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Pustaka

Telaah Buku Dr. Raghib As-Sirjani: Syi’ah dalam Timbangan Sejarah dan Aqidah

22 April 2026 22:47
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?