Hidayatullah.com– Semua enam awak dari sebuah pesawat tanker pengisi bahan milik militer Amerika Serikat tewas setelah jatuh di bagian barat Iraq, kata US Central Command (Centcom).
Amerika Serikat awalnya mengatakan bahwa pihaknya sudah menemukan lokasi empat kru yang tewas, dan mengatakan bahwa insiden kejatuhan pesawat KC-135 pada hari Kamis itu bukan disebabkan tembakan musuh atau teman sendiri, lapor BBC hari Jumat (13/3/2026).
Pesawat tanker itu ambil bagian dalam operasi militer terhadap Iran dan merupakan satu dari dua pesawat yang terlibat dalam insiden tersebut. Pesawat kedua mendarat dengan selamat.
Pesawat buatan Boeing itu memiliki kemampuan untuk mengisi ulang bahan bakar pesawat-pesawat di udara dan memainkan peran besar dalam berbagai operasi militer Amerika Serikat. Pesawat tanker itu banyak digunakan dalam Perang Teluk Pertama guna memperpanjajng jarak tempuh pesawat-pesawat tempur dan pengebom AS.
CENTCOM mengatakan insiden terjadi sekitar pukul 14:00 ET (19:00 GMT) pada hari Kamis (12/3/2026) dan penyebabnya saat ini sedang diselidiki.
Upaya pencarian dan penyelamatan kemudian dilakukan untuk menemukan dua kru yang tersisa.CENTCOM mengatakan bahwa publikasi nama-nama personel yang menjadi korban ditangguhkan 24 jam guna memastikan bahwa keluarga mereka yang lebih dahulu mengetahui perihal kabar duka itu.
Jenderal Dan Caine, pimpinan US Joint Chiefs, dalam sebuah konferensi pers hari Jumat mengatakan bahwa pesawat nahas itu jatuh saat sedang menjalani misi tempur.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth memuji para awak pesawat itu sebagai “pahlawan Amerika”, menegaskan bahwa “pengorbanan mereka hanya akan mengukuhkan tekad kami untuk menuntaskan misi ini.”
KC-135 biasanya diawaki sedikitnya oleh seorang pilot, seorang co-pilot dan seorang boom operator yang bertugas mengontrol pipa pengisian bahan bakar yang menyambung ke pesawat yang akan diisi ulang bahan bakarnya di udara atau saat terbang.
Boeing membuat KC-135 Stratotanker untuk militer AS pada tahun 1950-an dan awal 1960-an. Pesawat itu menjadi tulang punggung armada pengisian bahan bakar di udara bagi militer AS, dan memungkinkan pesawat untuk melanjutkan misinya tanpa harus mendarat terlebih dahulu.
CENTCOM sebelumnya mengatakan insiden terjadi di wilayah udara teman AS – tetapi tempat itu diketahui sebagai wilayah Iraq di mana terdapat banyak milisi pro-Iran. Sementara militer Iran mengklaim lewat kanal televisi bahwa sebuah milisi yang merupakan sekutunya menarget pesawat itu dengan rudal.
Peristiwa hari Kamis itu menambah panjang daftar korban tewas dari pihak militer AS selama perang dengan Iran yang dimulai pada 28 Februari, menjadi 13 jiwa.Militer AS sekarang sudah sedikitnya kehilangan empat pesawat.
Awal tahun ini, tiga jet tempur F-15 ditembak jatuh di atas udara Kuwait, yang dikatakan sebagai insiden sala tembak oleh teman sendiri. Beruntung semuka enam kru pesawat itu berhasil melontarkan diri keluar sehingga selamat.*




