Jubah seribu dirhamnya Tamim Ad-Dary adalah simbol bahwa ibadah memerlukan persiapan total; baik lahir maupun batin.
Hidayatullah.com | DI ANTARA barisan para sahabat Nabi SAW, nama Tamim Ad-Dary sering kali diasosiasikan dengan kisah-kisah besar yang menggetarkan imajinasi: sang pelaut yang terdampar di pulau misterius, saksi mata keberadaan Jassasah, dan informan utama mengenai Dajjal dan lain sebagainya.
Jika kita menyelami kitab “Siyar A’lām an-Nubalā” (IV/77) karya Imam Adz-Dzahabi, kita akan menemukan sisi lain dari sosok asal Palestina ini yang jauh lebih intim dan spiritual. Tamim bukan sekadar petualang; ia adalah seorang pecinta Al-Qur’an dan pemburu Lailatul Qadar yang melakukan totalitas dalam tingkat yang sulit dibayangkan oleh Muslim zaman sekarang.
Salah satu fragmen hidupnya yang paling ikonik adalah cara beliau menghargai momen pertemuan dengan Tuhannya saat beribadah utamanya di malam-malam terakhir bulan Ramadhan. Qatadah mendapat informasi dari Anas dan Ibnu Sirin bahwa:
أَنَّ تَمِيمًا الدَّارِيَّ اشْتَرَى رِدَاءً بِأَلْفِ دِرْهَمٍ، يَخْرُجُ فِيهِ إِلَى الصَّلَاةِ
“Bahwa Tamīm Ad-Dary membeli sebuah pakaian seharga seribu dirham, yang ia kenakan untuk keluar menuju shalat.” Begitu terasa totalitasnya dalam ibadah; bukan sekadar persiapan batin tapi juga fisik.
Tak hanya itu, dalam konteks perburuan Lailatul Qadar, diriwayatkan oleh Hammad dari Tsabit:
أَنَّ تَمِيمًا أَخَذَ حُلَّةً بِأَلْفٍ، يَلْبَسُهَا فِي اللَّيْلَةِ الَّتِي تُرْجَى فِيهَا لَيْلَةُ القَدْرِ
“Bahwa Tamīm mengambil sebuah pakaian indah seharga seribu, yang ia kenakan pada malam yang diharapkan sebagai Lailatul Qadr.”
Makna yang bisa ditarik: para salaf menghargai momen ibadah dengan penampilan terbaik, bukan karena kesombongan, tetapi sebagai bentuk pengagungan terhadap ibadah dan malam yang penuh kemuliaan.
Jubah 1.000 Dirham Bukan Sekadar Kemewahan
Bagi sebagian orang, harga seribu dirham untuk sehelai pakaian ibadah mungkin terdengar berlebihan. Namun, bagi Tamim, ini adalah bentuk ta’zhīm atau pengagungan sekaligus penghormatan terhadap waktu yang paling dicintai Allah. Ia hanya mengenakan jubah mewah tersebut pada malam-malam di mana Lailatul Qadar diharapkan turun.
Ini bukan tentang pamer kekayaan. Tamim sedang mengajarkan sebuah filosofi: jika manusia bersedia memakai pakaian terbaiknya untuk bertemu raja dunia, lantas mengapa mereka menghadap Raja dari segala raja dengan pakaian seadanya? Jubah seribu dirham itu adalah manifestasi fisik dari persiapan batinnya yang luar biasa. Ia ingin menyambut malam kemuliaan dengan kondisi yang paling wangi, paling bersih, dan paling indah. Namun, jangan salah sangka. Totalitas Tamim tidak berhenti pada kain mahal. Di balik keindahan jubahnya, terdapat tubuh yang lelah karena rukuk dan sujud yang panjang.
Abu adh-Dhuha meriwayatkan dari Masruq sebuah pemandangan yang mengharukan di Mekkah. Tamim pernah berdiri dalam shalat malamnya hingga fajar menyingsing, hanya untuk mengulang-ulang satu ayat dari Surah Al-Jathiya:
اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ اجْتَرَحُوا السَّيِّاٰتِ اَنْ نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَوَاۤءً مَّحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۗسَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ
“Apakah orang-orang yang melakukan keburukan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. Al-Jathiya: [45]: 21).
Ia membaca ayat tersebut, mengulangnya berkali-kali sembari menangis tersedu-sedu. Bayangkan, seorang sahabat yang telah dijamin keimanannya, yang pernah ditunjuk Nabi SAW untuk berceramah di mimbar, masih gemetar ketakutan jika amalannya tidak sejajar dengan imannya. Jubah seribu dirham itu basah oleh air mata kerinduan dan rasa takut kepada Allah.
Disiplin dan “Hukuman” Diri
Totalitas Tamim Ad-Dary dalam beribadah juga tercermin dari disiplinnya yang keras. Pernah suatu ketika, sebagaimana diceritakan Abu Nabatah Yunus bin Yahya, ia tertidur dan melewatkan shalat tahajudnya sepanjang malam.
Bagi kita, mungkin itu hal biasa, namun bagi Tamim, itu adalah musibah besar. Sebagai bentuk “tebusan” atau hukuman bagi jiwanya, ia memutuskan untuk tidak tidur selama satu tahun penuh di waktu malam sebagai ganti dari satu malam yang hilang itu.
Kedisiplinan ini lahir dari pemahaman bahwa waktu adalah modal utama seorang mukmin. Ia adalah salah satu orang yang berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari, bahkan dalam beberapa riwayat, ia mampu menyelesaikannya dalam satu rakaat shalat.
Menariknya, meski ia sangat keras pada diri sendiri, Tamim adalah sosok yang bijak dalam mendidik orang lain. Dalam sebuah dialog dengan seseorang yang bertanya tentang pembagian wiridnya, Tamim sempat menunjukkan ketidaksukaannya jika ibadah dijadikan ajang pamer (riya).
Ia memberikan nasihat yang sangat mengesankan: “Ambillah dari dirimu untuk agamamu, dan dari agamamu untuk dirimu, hingga urusanmu tegak di atas ibadah yang sanggup kamu pikul.” Ia sadar bahwa setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda. Totalitas tidak berarti menghancurkan diri, melainkan memberikan yang terbaik sesuai kemampuan maksimal kita.
Tamim Ad-Dary bukan hanya meninggalkan jejak sejarah sebagai orang pertama yang menyalakan lampu di masjid atau orang yang berani menggiring api Harrah kembali ke celah bukit bersama Umar bin Khattab. Warisan terbesarnya adalah sikap hormat terhadap ibadah.
Jubah seribu dirhamnya adalah simbol bahwa ibadah memerlukan persiapan total; baik lahir maupun batin. Lailatul Qadar bukan sekadar ditunggu dengan mata mengantuk di depan gadget, melainkan dijemput dengan kesucian badan, keindahan pakaian, dan getaran hati yang mencintai Kalamullah.
Jika Tamim Ad-Dary rela menginvestasikan hartanya yang paling berharga untuk “berdandan” di hadapan Allah, sudahkah kita memberikan persiapan terbaik kita untuk menjemput malam yang lebih baik dari seribu bulan itu? Dan sudahkah kita pantas mendapatkannya? (MBS)




