Persaingan yang tidak sehat kadang-kadang bisa menjerumuskan orang pada kesalahan fatal; hatta itu sekaliber ulama. Terlebih saat tujuannya bukan lagi murni agama, tapi untuk menjilat penguasa. Akhirnya, agama disesuaikan dengan selera penguasa.
Hidayatullah.com | AL-HASAN bin al-Zhahir bin Abil Hasan al-Nu’mani (wafat 598 H) pernah pergi ke Syam dan menetap di Yerusalem (Al-Quds) selama beberapa waktu. Suatu ketika, Al-Aziz bin Salahuddin al-Ayyubi, penguasa Mesir, melewati Al-Quds dan tertarik membawa Al-Zhahir kembali ke Mesir. Tujuannya adalah untuk menandingi pengaruh ulama lain, yaitu Al-Syihab al-Thusi. Al-Zhahir pun ikut bersamanya, lalu diberikan fasilitas dan tunjangan hidup. Hingga tibalah hari raya, dan terjadilah peristiwa berikut:
Pada hari raya itu, Al-Aziz berkendara didampingi oleh Al-Thusi dan Al-Zhahir. Di tengah percakapan, Al-Zhahir berkata kepada Al-Aziz (untuk menjilat), “Wahai Tuanku, engkau termasuk ahli surga.”
Mendengar itu, Al-Thusi langsung menemukan celah untuk menjatuhkannya. Ia menyergap, “Dari mana engkau tahu dia ahli surga? Bagaimana mungkin engkau berani mendahului ketetapan Allah? Siapa yang memberitahumu hal itu?”
Al-Thusi kemudian menyindir dengan sebuah perumpamaan: “Keadaanmu tak ubahnya seperti kisah seekor tikus yang jatuh ke dalam tempayan khamar. Tikus itu meminumnya hingga mabuk, lalu dengan sombong menantang, ‘Mana kucing-kucing itu?’ Tiba-tiba muncul seekor kucing di hadapannya, si tikus pun seketika menciut dan berkata, ‘Janganlah engkau menghukum orang yang sedang mabuk karena ucapannya.’ Begitu pula engkau; engkau telah ‘mabuk’ oleh pemberian raja ini, sehingga dengan pongah engkau bertanya-tanya, ‘Di mana para ulama (yang bisa menandingiku)?’“
Mendengar sindiran tajam itu, Al-Zhahir terbungkam seribu bahasa. Ia tak mampu menjawab sepatah kata pun. Ia pergi dengan rasa malu, wibawanya jatuh di mata Al-Aziz, dan kisah memalukan ini pun tersebar luas di kalangan masyarakat umum, menjadi buah bibir di pasar-pasar maupun pertemuan formal. (Imam As-Suyuthi, Bughyatu al-Wu’āt, I:502-503)
Abdul Razzaq dalam buku “Tharāʾif wa Nawādir min Siyar al-Lughawiyyīn wa al-Nuḥāt” (1998: 77-78) memberi catatan menarik terkait kisah ini, “Dalam kisah ini, terlihat pula sisi persaingan antar-ulama. Mereka saling mengintai kesalahan satu sama lain untuk menjatuhkan martabat lawan demi berebut pengaruh. Meskipun demikian, kita harus akui bahwa Al-Zhahir memang bersalah. Sebab, tidak diperbolehkan bagi siapa pun untuk memastikan seseorang masuk surga secara spesifik, kecuali mereka yang telah disaksikan oleh Allah dan Rasul-Nya secara pasti. Selain mereka, cukup dikatakan: “Aku mengiranya atau menganggapnya termasuk orang baik.” Memastikan seseorang ahli surga adalah bentuk pujian (tazkiyah) tanpa dasar ilmu. Wallahu a’lam.”
*****
Hari Raya Idul Fitri seharusnya menjadi momen kembalinya manusia kepada fitrah kesucian. Namun, dalam lembaran sejarah yang dicatat oleh Imam As-Suyuthi dalam “Bughyatu al-Wu’āt”, kita menemukan sebuah fragmen komedi satir yang terjadi di depan Sultan Al-Aziz bin Salahuddin Al-Ayyubi.
Tokoh utamanya adalah Al-Hasan bin al-Zhahir, seorang ulama yang “mabuk” oleh fasilitas istana hingga lidahnya tergelincir melakukan dosa intelektual paling memalukan: menjual kavling surga demi mencari muka.
Kisah ini bukan sekadar humor gelap zaman dulu, melainkan potret tiga problem moral yang sangat relevan hingga hari ini.
Pertama, Penyakit Gampang Memberi “Tazkiyah”: Mengkavling Surga Tanpa Dasar. Kesalahan fatal Al-Zhahir bermula saat ia berkata kepada Sultan, “Engkau adalah ahli surga.”
Ini adalah bentuk keberanian yang melampaui batas. Dalam Islam, menentukan nasib akhirat seseorang secara spesifik adalah hak prerogatif Allah. Al-Qur’an secara tegas melarang manusia untuk merasa paling suci atau memberikan label kesucian tanpa dasar wahyu:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm [53]: 32)
Al-Zhahir terjebak dalam lubang “pujian maut”. Memberi jaminan surga kepada penguasa bukan hanya kebohongan publik, tapi juga racun bagi sang penguasa itu sendiri karena bisa membuatnya merasa aman dari azab Allah.
Kedua, “Mabuk” Fasilitas dan Hilangnya Akal Sehat. Kejenakaan kisah ini memuncak pada analogi Al-Syihab al-Thusi tentang “Tikus yang jatuh ke tempayan khamar.” Tikus itu mabuk, lalu dengan songongnya menantang, “Mana kucing-kucing itu?” Namun begitu kucing muncul, ia langsung menciut.
Al-Thusi ingin menyentil bahwa Al-Zhahir sedang “mabuk” oleh kemewahan istana. Ketika seseorang sudah terbuai oleh jabatan, uang, atau kedekatan dengan kekuasaan, logika sehatnya seringkali lumpuh. Ia berani bicara sembarangan seolah-olah dunia ada di genggamannya.
Rasulullah SAW telah mengingatkan bahaya fitnah bagi ulama yang terlalu merapat ke penguasa:
مَنْ أَتَى أَبْوَابَ السُّلْطَانِ افْتُتِنَ
“Barangsiapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa, maka ia akan terkena fitnah (ujian moral).” (HR. Tirmidzi)
Ketiga, Kompetisi Tak Sehat di Balik Jubah Ulama. Problem ketiga yang lebih subtansial adalah fenomena persaingan yang tidak sehat. Al-Thusi tidak sekadar menegakkan tauhid, ia sedang mengintai “lubang maut” lawannya untuk melakukan skakmat intelektual. Ini adalah potret mengintai ketergelinciran lawan demi berebut pengaruh di depan Sultan.
Ulama salaf terdahulu sangat berhati-hati dalam memberikan pujian, terutama di depan orang yang dipuji. Sahabat Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., memiliki doa yang sangat masyhur ketika beliau dipuji orang lain:
اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ بِي مِنْ نَفْسِي، وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِي مِنْهُمْ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ، وَلَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ
“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui tentang diriku daripada diriku sendiri, dan aku lebih mengetahui tentang diriku dibanding mereka. Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangkakan, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, dan janganlah Engkau menghukumku atas apa yang mereka ucapkan.” (Izzuddin Ibnu al-Atsir, Usud al-Ghābah fī Maʿrifat al-Shahābah, III/325).
Al-Zhahir akhirnya terbungkam (ablasa). Ia ingin dikenal sebagai ulama kesayangan Sultan, tapi justru viral di pasar-pasar sebagai “tikus mabuk”. Pelajaran besarnya: di hari Lebaran ini, janganlah kegembiraan kita membuat kita “mabuk” hingga kehilangan rasa takut kepada Allah.
Di samping itu, jangan mengkavling surga untuk kelompok sendiri, dan jangan menjilat demi posisi. Sebab, kehormatan yang dibangun di atas dasar menjilat akan runtuh seketika oleh satu kebenaran yang jujur.
Selamat merayakan kemenangan tanpa harus menjadi “tikus yang mabuk”! (MBS)




