Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Krisis Kebenaran di Era Relativisme

Ahmad
Terakhir diupdate: 8 April 2026 05:37 5:37 am
Ahmad
Dipublikasikan 8 April 2026 05:34
Bagikan
Bagikan

Relativisme yang semula melindungi kebebasan justru menyisakan pertanyaan mendasar tentang sumber kebenaran, yang dalam Islam dijawab melalui konsep al-Ḥaqq sebagai kebenaran absolut.

Oleh: Nur Hadi Ihsan

Hidayatullah.com | PADA tahun 1946, para perwira Nazi berdiri di hadapan Nuremberg Trials dengan pembelaan yang sederhana dan menusuk: “Kami hanya mengikuti perintah atasan dan hukum yang berlaku.”

Hukum Jerman saat itu memang memberi legitimasi formal bagi tindakan mereka. Pengadilan menolaknya—dengan merujuk pada sesuatu yang lebih tinggi dari hukum positif mana pun: prinsip moral universal yang dalam tradisi hukum disebut natural law. Keputusan itu benar. Tetapi pertanyaan yang lebih dalam tidak pernah terjawab: dari mana dasar ontologis kebenaran universal itu berasal?

Dostoevsky menangkap kegelisahan itu jauh sebelumnya, melalui suara Ivan Karamazov dalam The Brothers Karamazov: “Jika Tuhan tidak ada, maka segalanya diizinkan.” Itu bukan retorika sastra—melainkan peringatan tentang apa yang terjadi ketika peradaban mencabut akar kebenarannya sendiri.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Relativisme tidak lahir dari kehampaan. Ia tumbuh dari luka yang nyata: perang agama, inkuisisi, hingga kolonialisme yang membawa kitab suci di satu tangan dan senapan di tangan lain.

Dari sana lahir satu prinsip yang terasa seperti penyelamat—tidak ada yang berhak memaksakan kebenarannya kepada orang lain. Ia adalah gema dari sejarah yang berdarah. Namun, sebagaimana banyak obat, ia membawa risiko yang tidak selalu disadari oleh mereka yang meminumnya.

Nietzsche melihat bahwa apa yang kita sebut “fakta” tidak pernah bebas dari tafsir. Derrida menunjukkan bahwa makna selalu bergerak dalam permainan perbedaan—différance—yang menunda kepastian tanpa meniadakannya.

Rorty merumuskan posisi yang lebih tenang namun radikal: kebenaran bukan ditemukan, melainkan dibentuk dalam percakapan manusia dan dinilai dari kegunaannya. Pergeseran ini tampak seperti pembebasan intelektual. Namun kebebasan yang kehilangan arah sering kali tidak berhenti sebagai kebebasan.

Paradoks relativisme bersemayam di jantungnya sendiri. Pernyataan “tidak ada kebenaran yang mutlak” kerap menampilkan dirinya sebagai kebenaran yang berlaku umum.

Plato telah mengantisipasi ketegangan ini ketika berhadapan dengan Protagoras: “Manusia adalah ukuran segala sesuatu.” Pertanyaannya tetap menggema—“ukuran bagi siapa, dan dengan ukuran apa?”

Konsekuensinya perlahan menampakkan diri. Relativisme moral yang semula melindungi perbedaan, dalam banyak konteks justru melemahkan kemampuan membuat penilaian normatif yang tegas. Ruang publik pun bergeser—bukan lagi ditentukan oleh yang paling benar, melainkan oleh yang paling dominan narasinya.

Relativisme yang lahir sebagai kritik terhadap dominasi dapat berbalik menjadi lahan subur bagi dominasi baru—bukan melalui kebenaran, tetapi melalui kekuatan.

Dalam Islam, persoalan ini tidak hadir sebagai kebuntuan, melainkan sebagai pengingat. Allah menamai diri-Nya al-Ḥaqq—Kebenaran itu sendiri: bukan konstruksi manusia, bukan kesepakatan sosial, dan bukan sesuatu yang bergantung pada kegunaan praktis. “Wa qul jā’a l-ḥaqqu wa zahaqa l-bāṭilu, inna l-bāṭila kāna zahūqā” (Dan katakanlah: telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap, QS. Al-Isra’: 81).

Pernyataan ini bukan legitimasi pemaksaan, melainkan penegasan bahwa keberadaan ini berdiri di atas kebenaran yang tidak bergantung pada fluktuasi persepsi manusia.

Islam mengenal relativitas, tetapi bukan relativisme. Ada ruang ijtihad, ada perbedaan tafsir, dan ada fleksibilitas hukum.

Namun ada yang tidak berubah: keesaan Allah, kepastian kembali kepada-Nya, keadilan di atas kezaliman, serta kejujuran di atas kepalsuan.

Relativitas bergerak dalam batas; relativisme menghapus batas itu sendiri. Perbedaan antara keduanya adalah perbedaan antara sungai yang mengalir dalam tepiannya dan banjir yang kehilangan arah.

Tradisi tasawuf membawa persoalan ini ke dalam kedalaman batin. Hati yang belum menemukan pijakan akan melihat kebenaran sebagai sesuatu yang cair—hanya dikenal dari luar, sebagai konsep yang dapat diperdebatkan tanpa akhir. Namun hati yang telah tersentuh oleh al-Ḥaqq tidak lagi bergantung sepenuhnya pada perdebatan untuk mengenali kebenaran.

Imam al-Ghazali membedakan antara syak yang membuka jalan menuju yaqīn, dan keraguan yang menetap sebagai tempat tinggal. Al-Junaid al-Baghdadi mengingatkan bahwa perjalanan menuju kebenaran menuntut ṣidq—kejujuran total dalam menghadapkan diri kepada Allah.

Dalam al-Hikam, Ibn ‘Atha’illah al-Iskandari menulis: “Kebingungan sering kali bukan karena kebenaran tidak ada, melainkan karena hati belum jernih untuk menerimanya.”

Takhallī dari ilusi bahwa semua kebenaran setara adalah langkah pertama—bukan untuk jatuh ke dalam fanatisme, tetapi untuk berhenti menyamakan terang dan gelap. Tahallī dengan keyakinan bahwa al-Ḥaqq mendahului manusia adalah pengisian yang mengikutinya. Tajallī adalah buahnya: kejernihan untuk membedakan yang benar dari yang salah, bukan dengan kesombongan intelektual, melainkan dengan ketenangan batin yang telah menemukan pijakan.

Relativisme berkata: “Tidak ada yang benar-benar benar.”

Tasawuf menjawab dengan tenang: “Jika demikian, mengapa hatimu masih merindukan kepastian?” Kerinduan itu bukan ilusi. Ia adalah jejak fithrah yang masih hidup—penanda bahwa kebenaran bukan sesuatu yang asing, melainkan sesuatu yang pernah dikenal, sebelum manusia belajar meragukannya.

Kebenaran tidak membutuhkan konsensus untuk tegak. Matahari tidak berhenti bersinar hanya karena ada yang memilih memejamkan mata.*

Mantingan, 8 April 2026

Guru Besar Ilmu Tasawuf Universitas Darussalam Gontor

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:al-haqqHeadlinekebebasankebenarakebenaran absolutPilihan Redaksirelativismetruth
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Perang Iran Berdampak Pada Industri Jerman
Tulisan selanjutnya Ujian 1.000 Dinar: Antara Perut Lapar dan Integritas yang Tak Terbeli

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

Berita
31 Agustus 2026 20:47
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Ratko Mladic Si Penjagal Bosnia Meninggal di Usia 84 Tahun
Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap

Terbaru

  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?