Hidayatullah.com– Perdana Menteri Narendra Modi menginbau warga India untuk kembali melakukan aktivitas kerja dari rumah (work from home), kurangi pembelian emas dan batasi perjalanan ke luar negeri guna mengatasi dampak kenaikan harga ebergi disebabkan perang di Timur Tengah yang masih berlanjut.
India mengimpor 90% dari kebutuhan minyaknya dan pengeluaran belanja minyak mentahnya telah mengalami lonjakan miliaran dolar sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran 28 Februari.
Modi mengatakan kebijakan penghematan akan mengurangi penggunaan bahan bakar dan dapat menghemat devisa.
“Patriotisme buian sekedar tentang kesediaan untuk mengorbankan jiwa di perbatasan negara. Pada masa seperti sekarang ini, patriotisme adalah tentang tanggung jawab dan memenuhi kewajiban kita terhadap negara dalam kehidupan sehari-hari,” kata Modi seperti dilansir BBC hari Senin (11/5/2026).
“Dalam situasi sekarang, kita harus memberikan tekanan besar dalam hal penghematan devisa,” imbuhnya.
India sejauh ini tidak menaikkan harga bensin dan solar meskipun ada tekanan dari para pengecer BBM di SPBU yang dikelola pemerintah.
Dampak masalah BBM sudah terlihat di sebagian industri, dengan ratusan ribu pekerja di pabrik produk-produk kaca, plastik dan tegel terancam diberhentikan. Sementara kelangkaan pupuk berisiko menurunkan hasil panen dan menaikkan harga bahan pangan.
Mendesak anggota masyarakat untuk menggunakan transportasi umum seperti kereta metro, Modi menyarankan warga untuk berbagi pakai kendaraan guna menghemat bahan bakar. Sementara petani diminta memangkas penggunaan pupuk hingga setengah.
Sebagian analis mengatakan pernyataan Modi mengindikasikan pemerintah kemungkinan tidak lama lagi akan membuat kebijakan untuk mengurangi penggunaan energi, menaikkan harga BBM.
Perang di Iran dan pemblokiran Selat Hormuz berdampak pada perekonomian di seluruh dunia, terutama di Asia, dengan banyak negara berjibaku mengatasi dampak lonjakan harga bahan bakar. International Energy Agency (IEA) menggambarkan situasi itu sebagai “disrupsi pasokan energi terbesar dalam sejarah”.




