Konflik antartetangga berubah menjadi kasus peracunan yang mengungkap bagaimana akses terhadap laboratorium universitas dapat disalahgunakan ketika pengawasan keamanan tidak berjalan semestinya.
Hidayatullah.com | PADA awalnya, Umar Abdullah mengira bau menyengat yang beberapa kali muncul di depan pintu apartemennya hanyalah masalah teknis pada bangunan. Bersama istrinya dan bayi perempuan mereka yang baru lahir, ia memanggil petugas pemeliharaan gedung, memeriksa sistem pendingin udara, bahkan mengganti pemanas air.
Namun, setiap upaya itu berakhir dengan hasil yang sama: tidak ada sumber kebocoran yang ditemukan.
Alih-alih membaik, kondisi keluarga kecil tersebut justru semakin mengkhawatirkan. Umar dan istrinya mengalami sesak napas, mata perih, iritasi kulit, serta pusing setiap kali memasuki apartemen mereka di Tampa, Florida.
Putri mereka yang masih bayi menjadi korban paling rentan. Ia batuk, muntah, menolak makan, hingga harus mendapatkan perawatan di ruang gawat darurat.
Trauma itu masih membekas bagi Abdullah. “Bagaimana mungkin seseorang bisa setega itu? Peristiwa ini masih menghantui kami seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir,” ujarnya kepada Fox News.
Kamera yang Mengungkap Teror
Bau misterius itu pertama kali tercium pada akhir Mei 2023. Seorang teman yang mengambil paket di depan apartemen Abdullah mencium aroma menyengat dan melaporkannya kepada keluarga tersebut. Berbagai dugaan pun bermunculan, mulai dari kebocoran pendingin udara hingga gangguan pada sistem pemanas air. Namun, pemeriksaan oleh petugas pemeliharaan, pemadam kebakaran, dan teknisi tidak menemukan sumber masalah.

Kecurigaan Abdullah mulai mengarah kepada tetangganya di lantai bawah, Li Xuming. Hubungan mereka sebenarnya sempat berjalan baik. Tak lama setelah putri Abdullah lahir, Li bahkan menghadiahkan pakaian bayi sebagai bentuk ucapan selamat.
Namun, suasana berubah ketika Li mulai mengeluhkan suara langkah kaki, gesekan furnitur, hingga bunyi toilet dari apartemen di atasnya. Abdullah mengatakan keluarganya telah berusaha sebisa mungkin mengurangi kebisingan, tetapi berbagai keluhan tetap berdatangan. Li bahkan sempat melaporkan mereka kepada kepolisian dan asosiasi penghuni apartemen.
Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Abdullah memasang kamera kecil yang disamarkan di dekat pintu apartemennya. Rekaman itulah yang akhirnya mengungkap fakta mengejutkan.
Pada 27 Juni 2023, kamera menangkap Li berjongkok di depan pintu apartemen sambil menyuntikkan cairan menggunakan jarum suntik ke celah bawah pintu. Abdullah segera menghubungi polisi, yang kemudian menangkap Li pada hari yang sama.
Penyelidikan mengungkap bahwa cairan tersebut merupakan campuran dua obat golongan opioid, metadon dan hidrokodon. Tim penanganan bahan berbahaya (HazMat) menyatakan campuran itu sangat beracun. Bahkan seorang polisi dan petugas pemadam kebakaran yang menangani lokasi mengalami iritasi kulit setelah bersentuhan dengan zat tersebut.
Bayi Menjadi Korban
Bagi Abdullah, bagian paling menyakitkan dari seluruh peristiwa itu bukanlah konflik dengan tetangganya, melainkan penderitaan putrinya yang masih bayi.
“Saya sangat terkejut. Mata dan hidung putri saya dipenuhi air mata. Ia terus menggosok matanya sambil batuk tanpa henti,“ tutur Abdullah.
Menurutnya, campuran zat yang disuntikkan ke dalam apartemennya memiliki tingkat bahaya yang sangat tinggi, terutama bagi bayi yang sistem pernapasannya masih rentan.
“Campuran itu sangat berbahaya dan mengancam nyawa. Menghirup racun tersebut dapat membuat zat beracun dengan cepat masuk ke aliran darah, sehingga risikonya jauh lebih besar bagi bayi,“ jelas Abdullah kepada Fox News.
Ia mengaku momen ketika putrinya dirawat di rumah sakit menjadi pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan.
“Melihat tangan mungilnya dipasangi infus, harus menahan rasa sakit akibat tusukan jarum dan berbagai pemeriksaan, benar-benar menghancurkan hati saya,” kenangnya kepada Fox News.
Ketika Ilmu Menjadi Senjata
Kasus ini menyita perhatian bukan hanya karena motifnya yang dipicu perselisihan antartetangga, tetapi juga karena latar belakang pelakunya.
Saat kejadian berlangsung, Li Xuming merupakan mahasiswa doktoral bidang kimia di University of South Florida (USF). Dengan pengetahuan akademik dan akses terhadap laboratorium kampus, ia diduga meracik campuran zat berbahaya yang kemudian dimasukkan ke dalam botol dan jarum suntik untuk digunakan berulang kali.
Setelah ditangkap, Li menghadapi berbagai dakwaan pidana, termasuk penganiayaan, penyebaran bahan kimia berbahaya, dan kepemilikan zat terlarang. Ia kemudian dikeluarkan dari USF dan dideportasi ke Tiongkok pada akhir 2023.
Kasus tersebut memunculkan pertanyaan yang lebih luas: apakah sistem keamanan laboratorium di perguruan tinggi telah mampu mencegah penyalahgunaan akses oleh orang dalam?
Celah di Balik Pintu Laboratorium
University of South Florida sebenarnya memiliki berbagai prosedur keselamatan laboratorium. Mahasiswa diwajibkan mengikuti pelatihan keselamatan, memahami aturan penggunaan bahan kimia, serta mencatat penggunaan material melalui sistem inventaris.
Namun, menurut Alexandra Williams, peneliti senior National Consortium for the Study of Terrorism and Responses to Terrorism (START) di University of Maryland, prosedur keselamatan tidak selalu cukup untuk mencegah penyalahgunaan.
“Kasus Li menjadi pengingat bahwa insiden seperti ini benar-benar dapat terjadi apabila celah-celah keamanan tersebut tidak segera diperbaiki,” tulis Williams dalam analisisnya di CBNW.
Williams menilai persoalan tersebut tidak hanya terjadi di USF.
“Masalah ini bukan hanya dialami USF. Justru karena itulah berbagai celah keamanan seperti ini menjadi semakin penting untuk segera dibenahi,” tulisnya.
Menurut Williams, sebagian besar prosedur laboratorium masih berorientasi pada keselamatan kerja, bukan pada pencegahan ancaman dari orang dalam. Sistem inventaris yang bergantung pada pelaporan mandiri juga berpotensi dimanfaatkan apabila tidak disertai audit, pengawasan aktif, serta pembatasan akses terhadap bahan-bahan berisiko tinggi.
Kasus Li bukanlah yang pertama. Pada 2014, seorang mahasiswa pascasarjana biokimia di Stanford dilaporkan meracuni botol minum rekan-rekannya menggunakan paraformaldehida.
Tujuh tahun kemudian, seorang mahasiswa di Jerman mencuri senyawa 4-Bromoaniline dari laboratorium dan mencemari kopi, susu, madu, serta minuman di sejumlah ruang bersama.
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman tidak selalu datang dari pihak luar, melainkan juga dari individu yang memiliki akses sah terhadap fasilitas penelitian.
Pelajaran bagi Dunia Akademik
Kasus Li Xuming mungkin telah berakhir. Ia ditangkap polisi, dikeluarkan dari University of South Florida, dan dideportasi ke Tiongkok. Namun, peristiwa yang menimpa keluarga Abdullah menyisakan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar motif seorang pelaku.
Bagi Alexandra Williams, ancaman terhadap keamanan laboratorium tidak selalu datang dari luar institusi. Risiko justru dapat muncul dari orang-orang yang dipercaya menggunakan fasilitas tersebut.
“Kenyataan yang tidak dapat dihindari adalah selalu ada orang yang berusaha menyalahgunakan akses yang dimilikinya, baik untuk keuntungan pribadi maupun untuk mencelakakan orang lain,“ tulis Williams dalam analisisnya di CBNW.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa risiko tersebut masih dapat ditekan melalui budaya keamanan yang kuat, pengawasan yang konsisten, serta sistem yang mampu mendeteksi penyalahgunaan sejak dini.
“Risiko ini memang tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya, tetapi dapat dikurangi. Hal itu hanya dapat dicapai melalui komitmen untuk membangun, menerapkan, dan mempertahankan budaya keamanan yang kuat,” pungkas Williams dalam artikelnya di CBNW.*




