Islam memandang wahyu dan akal sebagai dua sumber kebenaran yang saling menguatkan, bukan saling menegasikan
Oleh: Ali Mustofa Akbar
Hidayatullah.com | HUBUNGAN antara agama dan sains hampir tidak pernah sepi dari perdebatan pada era kontemporer. Di berbagai forum akademik, keduanya sering diposisikan seolah-olah berada di dua kutub yang saling berlawanan. Tidak sedikit orang yang kemudian menjadi ateis atau tetap beragama, tetapi berpandangan sekuler.
Sayangnya, sebagian besar perdebatan di dunia Islam justru mengulang cara pandang Barat, bukan menggali jawaban dari khazanah Islam sebagai sumber utama pandangan hidup.
Padahal, setiap peradaban memiliki pengalaman sejarah yang berbeda. Karena itu, tidak adil jika pengalaman Barat dijadikan ukuran bagi seluruh agama, termasuk Islam.
Di sinilah letak persoalannya. Kemajuan teknologi Barat memang sangat pesat. Pesawat terbang, internet, kecerdasan buatan, telepon pintar, hingga berbagai penemuan ilmiah telah mengubah wajah dunia.
Kemajuan tersebut membuat banyak orang menganggap paradigma ilmu Barat sebagai puncak kemampuan akal manusia, padahal perkembangan itu juga tidak terlepas dari kontribusi besar peradaban-peradaban sebelumnya, termasuk peradaban Islam.
Namun, ada hal mendasar yang perlu diperhatikan. Ilmu pengetahuan modern Barat dibangun di atas fondasi positivisme dan materialisme. Sesuatu dianggap benar apabila dapat diamati, diukur, diuji, dan dibuktikan secara empiris. Akibatnya, wahyu, iman, dan realitas metafisik ditempatkan di luar wilayah ilmu pengetahuan.
Dari sinilah muncul anggapan bahwa agama dan sains harus dipisahkan. Pandangan tersebut lahir dari pengalaman sejarah Eropa. Pada Abad Pertengahan, gereja kerap menolak berbagai temuan ilmiah. Ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat, otoritas gereja melemah.
Masyarakat kemudian memberikan kepercayaan penuh kepada sains dan mulai meninggalkan agama. Konflik inilah yang melahirkan sekularisme serta keyakinan bahwa agama dan ilmu merupakan dua kekuatan yang saling bertentangan.
Bukan Sejarah Islam
Masalahnya, sejarah tersebut bukanlah sejarah Islam. Dalam Islam, tidak pernah ada pertentangan mendasar antara wahyu dan akal. Tidak pernah ada lembaga keagamaan yang memusuhi penelitian ilmiah sebagaimana terjadi di Eropa. Karena itu, sangat keliru jika pengalaman Barat dijadikan tolok ukur untuk memahami hubungan agama dan sains dalam Islam.
Pertanyaan yang semestinya diajukan bukanlah, “Apakah agama bertentangan dengan ilmu?”, melainkan, “Agama yang mana?”
Ketika membahas hubungan agama dan ilmu, tidak tepat menjadikan tradisi Kristen sebagai representasi seluruh agama, apalagi Islam. Islam memiliki konsep ketuhanan, wahyu, dan peradaban yang berbeda.
Sayangnya, sebagian pemikir Muslim kemudian mengadopsi kesimpulan Barat tersebut. Secara umum, pandangan mereka dapat dikelompokkan menjadi tiga.
Pertama, tokoh seperti Farah Antun memandang agama sebagai penghalang kemajuan, sedangkan ilmu dianggap satu-satunya jalan menuju peradaban.
Kedua, ada kelompok yang memilih jalan tengah. Mereka berpendapat bahwa agama dan ilmu tidak bertentangan karena memiliki wilayah masing-masing. Agama mengatur iman dan kehidupan batin, sedangkan ilmu mengkaji alam dan dunia empiris.
Ketiga, ada yang berpendapat bahwa agama dan ilmu sama-sama berbicara tentang realitas, tetapi melalui pendekatan yang berbeda. Muhammad Iqbal termasuk dalam kelompok ini.
Menurutnya, filsafat dan ilmu membantu manusia memahami realitas secara rasional, sedangkan agama membawa manusia mengalami kebenaran melalui pengalaman spiritual.
Meskipun berbeda, ketiga pandangan tersebut tetap berangkat dari pengalaman sejarah Barat. Karena itu, tidak sepenuhnya tepat digunakan untuk menjelaskan hubungan agama dan sains dalam Islam.
Islam Menawarkan Worldview Berbeda
Dalam Islam, agama tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi juga ilmu dan amal. Ketiganya membentuk satu kesatuan yang utuh. Iman tanpa ilmu melahirkan fanatisme buta. Ilmu tanpa iman mudah kehilangan arah. Amal tanpa keduanya hanya menjadi aktivitas tanpa ruh.
Karena itu, Al-Qur’an dan Sunnah harus dikembalikan sebagai sumber utama dalam membangun paradigma ilmu.
Al-Qur’an bukan hanya kitab ibadah, tetapi juga sumber cara berpikir, metodologi ilmu, nilai-nilai kehidupan, hingga pembangunan peradaban.
Ibnu Khaldun menunjukkan bagaimana Al-Qur’an menjadi dasar lahirnya ilmu sosial dan ilmu peradaban. Muhammad al-Tahir Ibn ‘Ashur menjelaskan bahwa pemahaman terhadap maqashid Al-Qur’an menjadi fondasi pengembangan seluruh cabang ilmu. Taqiyuddin an-Nabhani juga menjelaskan kedudukan hadharah dan madaniyah, termasuk sains, serta memaparkan bagaimana Al-Qur’an menjadi landasan peradaban yang sahih.
Al-Qur’an tidak bertentangan dengan ilmu. Sebaliknya, Al-Qur’an justru melahirkan tradisi keilmuan. Wahyu pertama yang turun bukanlah perintah ritual, melainkan perintah membaca: Iqra’. Perintah itulah yang membuka jalan menuju ilmu, dan ilmu menjadi jalan menuju peradaban.
Tradisi Berpikir Islam
Al-Qur’an membuka dua objek pembacaan sekaligus: wahyu dan alam semesta. Keduanya harus dibaca secara bersamaan.
Melalui wahyu, manusia memperoleh petunjuk hidup. Melalui observasi dan penelitian terhadap alam, manusia mengenal kebesaran Allah sebagai Pencipta. Tidak ada pertentangan di antara keduanya karena sama-sama berasal dari Allah.
Karena itu, Islam tidak membangun keimanan di atas mitos atau taklid. Al-Qur’an berulang kali memerintahkan manusia untuk berpikir, berdialog, mengamati alam, mengambil pelajaran dari sejarah, dan mengemukakan bukti atas setiap keyakinan. Taklid buta, fanatisme, dan prasangka tanpa ilmu dikritik, sedangkan argumentasi yang benar dihargai. Inilah tradisi berpikir Islam: kritis, rasional, sekaligus spiritual.
Ilmu dalam perspektif Al-Qur’an jauh lebih luas daripada sekadar ilmu-ilmu alam. Setiap pengetahuan yang benar, bermanfaat, dan mengantarkan manusia kepada pengenalan terhadap Allah merupakan bagian dari ilmu. Karena itu, ilmu sosial, sejarah, ekonomi, politik, kedokteran, hingga teknologi memiliki tempat selama digunakan untuk kemaslahatan manusia dan berada dalam bingkai petunjuk Allah.
Pada akhirnya, agama dan sains bukanlah dua musuh yang harus didikotomikan. Sains menjelaskan bagaimana alam bekerja, sedangkan agama menjelaskan tujuan dan makna di balik kehidupan. Agama berbicara tentang perintah Allah, sementara sains menyingkap hukum-hukum ciptaan-Nya. Karena keduanya berasal dari Allah, mustahil keduanya saling bertentangan.
Inilah pandangan Al-Qur’an. Hubungan agama dan sains bukanlah hubungan konflik ataupun saling mengabaikan, melainkan hubungan yang utuh, integratif, dan saling menguatkan. Dari sinilah lahir peradaban Islam yang menjadikan iman, ilmu, dan amal sebagai tiga pilar utamanya. Wallahu a’lam.*
Penulis adalah guru agama




