Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

Mahmud
Terakhir diupdate: 22 Juli 2026 20:03 8:03 pm
Mahmud
Dipublikasikan 22 Juli 2026 20:00
Bagikan
Bagikan

“Da’i pembawa da’wah, tjara berpikirnja lain, dia bertitik-tolak dari pemikiran bahwa: ‘Sedjahat-djahatnja manusia, ada baiknja’. Benih kebaikan itu seringkali tersimpan, tertutup oleh lapisan kedjahatan.” (Buya Natsir, 1969)

Hidayatullah.com | SETELAH dikeluarkan dari jeruji besi pada masa rezim Nasakom, Buya Natsir terus berkontribusi untuk umat dengan mendirikan DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) pada tahun 1967. Kalau sebelumnya berdakwah lewat politik, maka selanjutnya berpolitik lewat dakwah.

Sebagaimana jamak diketahui, antara Masyumi dan PKI terdapat perbedaan yang sangat tajam. Bahkan, dalam literatur sejarah, di antara pendukung kuat Soekarno saat memenjarakan Natsir adalah kalangan komunis. Ketika Buya Natsir menghirup udara kebebasan, konflik tajam di bidang ideologi ini tidak sampai membuat beliau dibakar api dendam. Spirit dakwah, kemanusiaan dan optimisme beliau yang justru menjadi sikap penuh teladan.

Terkait hal ini, dalam buku “Mohammad Natsir Pemandu Umat” (1989: 110) sebagaimana wawacara yang dimuat dalam majalah Editor; ketika beliau ditanya apakah dendam kepada Soekarno yang telah menahannya, beliau menjawab, “Tidak ada dendam-dendaman. Dan saya tidak benci kepada Soekarno.” Luar biasa! Sama sekali tidak ada dendam kepada musuhnya sekali pun.

Demikian halnya dengan orang-orang komunis. Ada cuplikan peristiwa menarik yang langsung diceritakan beliau dalam brosur DDII yang diterbitkan secara stensilan dan di majalah Panji Masyarakat tahun 1969 berjudul “Tebarkan Benih Itu dalam Keadaan Bagaimanapun Djua”. Sebagi gambaran kaliber beliau yang merupakan dai yang optimistis dan tak pernah menyimpan dendam walau pada orang yang bertentangan secara ideologi.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Suatu hari pada tahun 1969, Natsir berkata, “Saya kira delapan bulan yang lalu, saya berbicara dengan seorang teman baik, yang suka beramal baik.” Buya Natsir menyampaikan kepada teman yang dermawan ini agar disiapkan 1.000 kain sarung untuk tahanan politik PKI di Indonesia.

Rupanya, rasa penasaran  membuat teman baik ini bertanya, “Kok komunis itu diberi kain?” Dengan penuh keheranan. Sebenarnya pertanyaan ini juga cukup wajar, karena di benaknya komunis antiagama. Memberinya sarung bisa jadi dianggap kesia-siaan. Dengan pandangan seorang da’i yang optimis, Buya Natsir justru memberi informasi, “Mereka itu sudah shalat.”

Belum puas dengan jawaban itu, teman dermawan itu memberi tanggapan, “Shalatnya itu kan pura-pura Pak. Jangan-jangan kita dikibulin saja, pura-pura dia sembahyang atau pun selama dalam penjara dia sembahyang, dan keluar penjara dia lupa lagi. Sudah biasa begitu.”

Buya Natsir bisa memahami keresahannya. Belia pun memberi tanggapan yang cukup menghentakkan jiwa, “Kalau saudara keberatan tidak apa, memang itu saya dapat memahamkan. Seorang ahli politik, melihat semua teman separtainya itu sebagai ‘orang baik-baik’. Orang yang di luar partainya, orang yang ‘tidak baik’. Jadi orang yang sudah menjadi lawan itu, tetap menjadi lawan tidak usah diapa-apakan lagi.”

Cara pandang sempit hitam-putih seperti ini seringkali mewarnai sikap orang pada umumnya dalam menyikapi perbedaan. Buya Natsir justru memberikan pencerahan dengan sudut pandang seorang dai. Tandasnya, “Tapi kalau seorang Da’i pembawa dakwah, cara berpikirnya lain. Dia bertitik tolak pada pemikiran bahwa: sejahat-jahatnya manusia, ada baiknya. Benih kebaikan itu seringkali tersimpan, tertutup oleh lapisan kejahatan.”

Cerita serupa juga terdapat dalam buku “Belajar dari Partai Masyumi” (2014: 152-153) yang diungkap oleh Ahmad Syata, mantan Anggota GP Ansor Jawa Timur, yang pernah menjadi supir sekaligus orang dekat Natsir. Pengusaha yang diminta untuk mengirimkan sarung Bernama Hasjim Ning; dan yang dikirim selain sarung ada juga baju koko dan peralatan ibadah lainnya.

Begitu terkesannya Ahmad Syata dengan peristiwa ini, sampai begkomentar, “Saya begitu terharu, jelas sekali tak ada kebencian dari Pak Natsir terhadap orang-orang itu (PKI). Meskipun dulu mereka begitu membenci Masjumi.”

Bagi Natsir bukan tugas dai mengutuk dan menutup potensi kebaikan. Justru ia mencoba menumbuhkan benih kebaikan yang sedang ditutup kejahatan yang berlapis itu. Harapannya, benih-benih kecil itu bisa bertumbuh mekar, kuat bisa menaklukkan yang jahat yang ada di sekelilingnya.

Melalui kisah seribu kain sarung ini, Buya Natsir mengajarkan sebuah kebesaran jiwa yang melampaui batas-batas politik dan luka masa lalu. Penjara yang pernah menampung fisiknya tidak sedikit pun berhasil memenjarakan empati dan kasih sayangnya. Beliau membuktikan bahwa menjadi seorang Muslim sejati berarti mampu melihat secercah cahaya kebaikan pada diri siapa pun, bahkan pada mereka yang dahulu bersorak saat dirinya dizalimi.

Bagi Buya Natsir, dakwah bukanlah ajang penghakiman untuk memilah siapa yang suci dan siapa yang bernoda, melainkan proses merawat kemanusiaan. Sikap beliau memberikan tamparan keras bagi cara berpikir kita hari ini yang sering kali terjebak dalam fanatisme sempit; mudah mengutuk, gampang membenci, serta enggan merangkul mereka yang berbeda. Beliau menunjukkan bahwa dendam hanya akan memperpanjang kegelapan, sementara kebaikan yang ditaburkan tanpa prasangka adalah satu-satunya cara untuk menyinari hati yang membatu.

Pelajaran berharga ini menegaskan bahwa tugas seorang hamba hanyalah menebarkan benih-benih kebaikan, terlepas dari apakah benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang rindang atau justru gugur sebelum berkembang. Menghakimi keikhlasan dan niat seseorang —apakah pura-pura atau sungguhan—bukanlah ranah manusia. Biarlah hasil menjadi takdir Ilahi, karena kewajiban kita yang utama adalah memastikan bahwa tangan ini tetap terulur untuk memberi dan merangkul.

Kisah Buya Natsir dan seribu kain sarung untuk tapol PKI ini akan selalu menjadi monumen teladan yang abadi bagi sejarah bangsa. Sebuah pengingat yang sangat elegan bahwa di atas sengitnya panggung politik dan perbedaan ideologi, terdapat satu nilai luhur yang tidak boleh padam dalam jiwa seorang Muslim: ketulusan untuk memanusiakan sesama manusia. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Buya NatsirHeadlinesarungtapol PKI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Prancis Jadi Negara Uni Eropa Pertama yang Melarang Akses Media Sosial Bagi Anak-anak

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah

Berita
21 Juli 2026 08:51
Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi

Terbaru

  • Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
  • Prancis Jadi Negara Uni Eropa Pertama yang Melarang Akses Media Sosial Bagi Anak-anak
  • PM Andy Burnham Izinkan Pangkalan Militer Inggris Dipakai Amerika untuk Menyerang Iran
  • Perang Amerika Serikat atas Iran Sejauh Ini Menelan Biaya $37,5 Miliar Kata Pentagon
  • Belanda Resmi Larang Impor dari Permukiman Ilegal ‘Israel’ Mulai September
  • MUI: KUII VIII Jadi Forum Dialog Umat dan Negara, Bahas Hukuman Mati Koruptor hingga Tata Kelola Tambang
  • ‘Israel’ Larang Masuk Siapa Pun yang Menyebutnya Negara Apartheid
  • MUI Akan Surati Presiden dan Kapolri Terkait Penangkapan Warga Negara Palestina
  • MUI Bersama 87 Organisasi Islam Sudah Siap Gelar KUII ke-VIII, Bahas Berbagai Isu Nasional dan Global
  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?