Hidayatullah.com— Agenda tahunan INSISTS Camp 2026 Batch 3 resmi dibuka di Robinson Cisarua Resort, Bogor. Mengusung tema “Bina Ketahanan Keluarga untuk Generasi Berdaya,” kegiatan yang diselenggarakan oleh Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini berlangsung selama tiga hari dan diikuti oleh 84 peserta dari berbagai kota di Indonesia.
Dalam sambutan pembukanya, Dr. Henri Shalahuddin menekankan pentingnya adab menuntut ilmu serta semangat untuk mengalirkan pemahaman tersebut agar membawa perbaikan bagi masyarakat (muslih).
Ia berpesan agar para peserta tidak bersikap egois dalam menimba ilmu. Henri menambahkan, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh materi di ruang kelas, tetapi juga didorong untuk mengembangkan kemampuan berdialog, menganalisis persoalan masyarakat, dan menawarkan solusi berbasis keilmuan.
“Saya yakin, Bapak-Ibu, Mas-Mas, dan Mbak-Mbak, selama dua malam tiga hari ini tidak akan menyimpan ilmu hanya untuk diri sendiri,” ujar lulusan Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia ini di Aula Villa Robinson Cisarua, Jumat (24/7/2026).
Untuk memperjelas hal tersebut, ia menyampaikan perumpamaan air dari Imam Syafi’i. “Air yang menggenang akan merusak dirinya sendiri… Tetapi ketika air mengalir, ia akan tetap jernih dan memberi manfaat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan kapasitas dan peran penting setiap peserta di tempatnya masing-masing. “Kita semua adalah orang-orang hebat di lingkungan kita masing-masing. Kita memiliki kemampuan untuk memberi warna bagi masyarakat,” tutur pria yang dikenal pakar dalam bidang Pemikiran Islam dengan disertasi mengenai wacana kesetaraan gender ini.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa sumber daya manusia umat Islam sebenarnya sangat melimpah, cerdas, serta saleh dan salehah, namun sering kali kurang memiliki visi masa depan yang jelas.
Oleh karena itu, penguatan visi dan ketahanan keluarga merupakan kunci utama dalam membangun generasi berdaya. “Untuk tampil di panggung peradaban, perubahan itu tidak dimulai dari ruang-ruang DPR atau pusat kekuasaan. Perubahan dimulai dari meja makan di rumah kita sendiri, dari keluarga yang kuat, harmonis, dan memiliki visi,” tegas penulis buku Indahnya Keserasian Gender dalam Islam (2020).
Peserta yang hadir terdiri dari pasangan keluarga hingga peserta yang masih lajang. Mereka berkumpul untuk mengikuti sesi spiritual, intelektual, dan diskusi interaktif bersama jajaran cendekiawan Muslim terkemuka, seperti Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Prof. Dr. Syamsuddin Arif, Assoc. Prof. Dr. Ugi Suharto, Dr. Nirwan Syafrin Manurung, Dr. Henri Shalahuddin, Dr. Akmal Sjafril, serta Arif Afandi Zarkasyi, M.A.*




