Hidayatullah.com – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengajak umat Islam untuk bersama-sama memperkuat kedaulatan pangan nasional sebagai bagian dari upaya menjaga kehormatan dan kemandirian bangsa di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Ajakan tersebut disampaikan Zulkifli saat menjadi pembicara dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Zulkifli, swasembada pangan tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga menyangkut kesejahteraan rakyat, khususnya petani dan masyarakat desa yang selama ini menjadi tulang punggung bangsa.
“Oleh karena itu, kita harus swasembada. Karena swasembada itu kehormatan petani, kehormatan keluarga kita, saudara kita. Mayoritas rakyat Indonesia itu ada di desa,” ujar Zulkifli.
Dalam paparannya, ia menyoroti kebijakan impor pangan yang selama bertahun-tahun dinilai membuat petani dalam negeri tidak memperoleh manfaat ekonomi yang optimal. Kondisi tersebut, kata dia, turut mendorong banyak petani kehilangan lahan dan beralih profesi menjadi buruh tani.
“Artinya petani kita tidak menikmati apa-apa, yang menikmati pihak lain. Dalam pasar bebas, yang penting punya uang untuk membeli. Padahal, kita harus berdaulat,” katanya.
Pemerintah, lanjut Zulkifli, kini tengah mengarahkan berbagai kebijakan untuk memperkuat sektor pertanian nasional. Sejumlah langkah yang telah dilakukan antara lain menaikkan harga gabah, menyederhanakan akses pupuk, serta memberikan berbagai kemudahan bagi petani untuk meningkatkan produktivitas.
“Harga gabah kita naikkan, pupuk yang rumit kita permudah. Segala yang menyangkut petani, kita berpihak dulu kepada mereka,” ungkapnya.
Ia mengklaim, keberpihakan pemerintah terhadap sektor pertanian mulai menunjukkan hasil positif. Setelah mencatat impor beras sebesar 4,5 juta ton pada 2024, Indonesia disebut tidak lagi melakukan impor beras pada 2025 dan berhasil mencatat surplus produksi sebesar 4,2 juta ton.
“Tahun 2024 kita impor beras 4,5 juta ton, 2025 tidak impor lagi. Kita surplus 4,2 juta ton,” ujarnya.
Di hadapan para ulama, cendekiawan, dan tokoh umat Islam yang hadir, Zulkifli menegaskan bahwa kedaulatan pangan merupakan bagian dari martabat bangsa. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen umat untuk turut memikirkan dan mendukung upaya-upaya yang berpihak kepada petani dan nelayan.
Menurutnya, forum KUII VIII tidak hanya menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah dan membahas persoalan keumatan, tetapi juga momentum untuk merumuskan solusi atas berbagai persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat.
“Tidak ada negara lain yang akan menolong Indonesia. Yang bisa membantu kita, yang bisa menolong kita, ya kita sendiri,” tegasnya.
Melalui semangat kemandirian dan gotong royong, Zulkifli berharap Indonesia mampu mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan, sehingga ketahanan dan kedaulatan bangsa dapat terus terjaga di masa mendatang*




