Hidayatullah.com— Pengadilan di Jerman, hari Kamis (6/8/2026), menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup atas seorang pria asal Afghanistan, yang sengaja menabrakkan mobilnya ke arah peserta demonstrasi buruh di kota Munich tahun lalu.
Pria yang diidentifikasi sebagai Farhad N dinyatakan bersalah dalam dua dakwaan pembunuhan, 23 percobaan pembunuhan dan 22 dakwaan menyebabkan orang lain terluka fisik, 19 di antaranya serius.
Pengadilan menyatakan kejahatan yang dilakukannya sangat berat, sehingga kemungkinan pria berusia 25 tahun itu tidak akan pernah dibebaskan dari penjara, lansir AFP.
Serangan itu terjadi di malam penyelenggaraan Konferensi Keamanan Munich, sebuah pertemuan besar yang mendatangkan tokoh-tokoh politik dan pertahanan dari berbagai belahan dunia.
Farhad N mengendarai Mini Cooper melewati mobil polisi dan kemudian mempercepat laju kendaraannya ke arah pawai serikat pekerja yang diikuti 1.400 orang. Akibatnya, seorang wanita berusia 37 tahun dan putrinya yang masih kecil terlempar ke udara dan jatuh sejauh 10 meter. Mereka mengalami cedera kepala parah yang menyebabkan keduanya meninggal beberapa hari kemudian.
Hakim yang memimpin persidangan Michael Hoehne mengatakan bahwa ibu tersebut memilih berada di bagian belakang iring-iringan demonstrasi itu karena di sana banyak terdapat polisi yang berjaga sehingga ia merasa aman.
Hoehne menggambarkan lokasi kejadian setelah aksi penabrakan itu sebagai area yang hanya berisi puing-puing selebar 12 meter.
Dia mengatakan sebagian dari korban sampai sekarang masih menderita akibat luka-luka yang dideritanya.
Satu-satunya alasan kenapa aksi itu tidak memakan lebih banyak nyawa adalah karena jumlah orang yang ditabrak oleh Farhad N memperlambat laju kendaraan dan akhirnya mobil terhenti, imbuh Hoehne.
Farhad N sendiri tidak menunjukkan wajah penyesalan saat hukuman dibacakan.
Teradikalisasi online
Farhad N tiba di Jerman pada 2016 sebagai pengungsi anak tanpa pendamping saat berusia 15 tahun. Permohonan suakanya ditolak, tetapi dia diperbolehkan untuk tinggal di Jerman dan mencari pekerjaan.
Polisi mengatakan Farhad N bekerja sebagai sekuriti dan sangat senang melakukan bodybuilding.
Dia diduga teradikalisasi secara online beberapa bulan sebelum serangan, setelah mengikuti ceramah-ceramah pendakwah radikal Afghanistan, kata polisi.
Jaksa dipersidangan mengatakan Farhad N bertindak dengan “motivasi agama” dan meneriakkan kata “Allahu Akbar” setelah menabrakkan mobil yang dikendarainya.Meskipun demikian, ia diyakini bukan bagian dari gerakan atau kelompok ekstremis seperti ISIS.
Jaksa juga menyoroti rasa kesepian dan keresahan yang dialami Farhad N sebagai faktor pendorong pemuda itu melakukan tindakan tersebut.Farhad N sendiri selama persidangan tidak menjelaskan apa motivasinya melakukan aksi itu.
Hoehne menggambarkan Farhad N sebagai seseorang yang memiliki “rasa harga diri yang rapuh” dan pada saat yang sama berusaha menampilkan “citra ideal tentang dirinya sendiri.”
Tim pembelaannya meminta supaya Farhad N dikirim ke fasilitas psikiatri, meskipun para ahli yang ditunjuk pengadilan sudah menyatakan bahwa masalah kesehatan mentalnya tidak mengurangi tingkat tanggung jawabnya atas peristiwa itu.*




