Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tajuk

Bijak di Kabinet Baru

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 31 Oktober 2014 05:30 5:30 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Oktober 2014 08:00
Bagikan
Bagikan

BELAKANGAN ini kita kerap melihat orang-orang yang kecewa. Wabah kekecewaan itu bahkan telah ada sejak beberapa bulan lalu. Yakni, ketika ribuan orang bersaing memperebutkan kursi di Senayan. Mereka yang kalah, termasuk sanak keluarga dan para pendukungnya, merasa kecewa. Modal telah banyak dikeluarkan, target tak tercapai.

Setelah itu, kekecewaan menular pada orang-orang yang menyimpan hasrat menjadi orang nomor satu di negeri ini. Spanduk telah disebar ke mana-mana, para kerabat dan relawan telah dikerahkan, safari juga telah digelar berhari-hari. Sayangnya, perhelatan itu hanya menyisakan dua kontestan saja. Yang lain, terpaksa gigit jari. Kecewa!

Selanjutnya, dua kontestan yang bersaing di babak final telah habis-habisan mengerahkan daya dan upaya. Apalagi kedua kubu memiliki massa yang fanatik. Pertarungan tak sekadar lewat tebar janji, juga caci maki. Namun, apa boleh buat, perhelatan akbar ini hanya memenangkan satu pasangan saja. Pasangan yang kalah, bersama para pendukungnya, kecewa.

Belum lama ini, kita juga banyak mendengar nama-nama tokoh yang digadang-gadang masuk dalam kabinet presiden baru. Ada yang disorongkan oleh sejumlah partai koalisi, ada juga yang disebut-sebut karena memiliki kedekatan dengan sang presiden. Namun, setelah sang presiden mengumumkan susunan kabinetnya, nama-nama tokoh tersebut banyak yang tak disebut. Lagi-lagi, mereka kecewa.

Bahkan, tak sedikit juga masyarakat yang tadinya mendukung sang presiden, kecewa karena merasa kepentingan politik begitu mendominasi keputusan sang presiden dalam menentukan susunan kabinetnya. Lihatlah di media-media sosial, rasa kecewa itu begitu kental terasa. Tabiat para menteri dipergunjingkan. Mulai dari kebiasaan merokok, bertato, bahkan tudingan bersikap asusila.

Baca Juga

“Jangan Curigai Sumbangan Kami!”
Pak Presiden, Dengarkanlah Kata Ulama!
Hormati Orang yang Sedang Berpuasa!
Jurnalisme Takwa
Pemimpin Biasa, Di Tengah Masyarakat yang Anomali

Ya … akhir-akhir ini perasaan kecewa telah menghinggapi sebagian penduduk negeri ini. Secara teoritis, rasa kecewa itu muncul jika realitas tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita berharap terjadi begini, namun faktanya begitu. Kita berharap bisa mendapat lebih banyak, ternyata cuma sedikit. Dan biasanya, seberapa besar harapan itu kita gantungkan, maka sebesar itu pula rasa kecewa akan mendera kita.

Nah, sebelum perasaan kecewa itu mewabah ke mana-mana, agaknya kita perlu merenung sejenak. Kita awali perenungan ini dengan fakta bahwa Negara kita telah mengadopsi sistem demokrasi liberal untuk memilih para pemimpin. Dimana suara seorang ‘alim sama nilainya dengan suara seorang begundal.

Lantas, apa yang kita harapkan dari sistem keropos seperti ini? Apakah kita berharap bakal terpilih wakil-wakil rakyat yang baik? Apakah kita berharap bakal tampil seorang pemimpin yang ideal? Apakah kita yakin sang pemimpin tersebut juga bakal memilih para pembantunya yang berakhlak karimah?

Lantas, bila sejak awal kita sadar bahwa sistem seperti ini amat berpeluang melahirkan wakil-wakil rakyat yang tak peduli, pemimpin yang tak mau memperjuangkan syariat Allah Subhanahu Wata’ala, dan kabinet yang tak ideal, maka tak akan besar pengharapan kita kepadanya.

Lalu, mengapa kita menumpahkan kekecewaan dengan cara yang berlebihan, seperti menyebar fitnah, membuka aib, mempermalukan orang lain, dan mengadu domba? Bukankah semua itu justru bakal menambah panjang daftar dosa kita di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala?

Rasa kecewa itu wajar. Allah Subhanahu Wata’ala telah mengaruniakan perasaan itu kepada manusia.

Namun, ketika rasa kecewa itu tak sekadar tersimpan di hati, melainkan telah mengejawantah dalam tindakan, maka ia berpotensi menjadi masalah. Apalagi bila rasa kecewa itu muncul karena kita keliru melihat apa sesungguhnya sumber kekecewaan tersebut.

Jadi, mari kita bijak menyikapi keadaan ini! Wallahu a’lam.[]

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamliberalSyariattatoulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pakar Kelautan ITS: Jika Susi Pudjiastuti Gagal, Presiden Bisa Segera Mengganti
Tulisan selanjutnya PM Malaysia Terima Anugerah Pemimin Pengembangan Keuangan Islam Global

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway

Berita
11 Oktober 2026 23:14
Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi
Zionis Sebut Belanda Sarang Anti-Semit usai Suporter ‘Israel’ Dilarang Tandang

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Tajuk

Aria dan Perang Opini Media AS

1 Oktober 2014 01:39
Tajuk

10 Tahun Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini

9 April 2013 23:44
Tajuk

Kekerasan Atas Nama Agama, Don’t Worry

20 September 2012 16:50
Tajuk

Ke Manakah Media Islam?

18 Desember 2011 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?