Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Hidup Mulia, Mati pun Mulia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Desember 2014 14:32 2:32 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Desember 2014 14:32
Bagikan
Bagikan

Oleh: Dzikrullah 

DI PENGHUJUNG film The Last Samurai, Kaisar Jepang yang masih belia bertanya kepada Kapten Nathan Algren tentang kematian gurunya, Samurai Katsumoto, “Ceritakan kepadaku bagaimana dia mati.” Algren menjawab, “Akan kuceritakan kepadamu bagaimana dia hidup.”

Katsumoto adalah pemimpin terakhir dari 900 tahun tradisi ksatria spiritual pengawal kekaisaran Jepang. Bersama pasukannya yang bersenjata tradisional, ia mati ditembus timah panas senjata modern buatan Amerika. Pembunuh sebenarnya adalah kerakusan Omura, perdana menteri yang mengeruk keuntungan finansial dari proses westernisasi dan sekularisasi Jepang, namun ditentang hebat oleh Katsumoto.

Hidupnya mulia, matinya pun mulia, setidaknya di mata pembuat film itu. Secara kemanusiaan, Katsumoto hidup dan mati secara mulia, tapi tidak mati syahid. Karena mati syahid mensyaratkan syahadah, kesaksian bahwa ‘tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah’ yang diikuti tuntunan hidupnya.

Baru-baru ini seorang doktor begitu cemas dengan kalimat “Isy Kariman au Mut Syahidan” yang berarti “Hidup Mulia atau Mati Syahid”. Beberapa orang menuduh, kalimat ini dianggap sebagai ‘doktrin maut’ dan biang “terorisme”. Kalau pun benar; ada orang yang meledakkan dirinya karena doktrin ini (sayang kita tidak bisa mewawancarai mayat-mayatnya), pun kecemasan sang doktor tetap tak akan berhenti.

Baca Juga

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!
Amerika dan Perang Salib Baru?
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka

Sikap doktor itu bisa diibaratkan begini: ada orang meributkan kotak korek api yang terbakar, padahal sudah ada lima rumah yang hangus karena korsleting listrik.

Kenapa? Karena jumlah manusia yang dibunuh oleh manusia lain yang tidak menganut doktrin “Isy Kariman au Mut Syahidan” jauh lebih banyak, daripada yang sudah dibunuh (kalau benar, Allah Yang Maha Tahu kejadian sesungguhnya) oleh pelaku peledakan yang mengaku terinspirasi doktrin itu.

Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman tidak kenal doktrin “Isy Kariman au Mut Syahidan,” tapi tega secara resmi membunuh jutaan warga sipil Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom. Presiden Lyndon B. Johnson tak pernah baca surat At-Taubah, tapi tega membunuh jutaan rakyat sipil Vietnam dengan bom napalm dan fosfor. Adolf Hitler tidak pernah jadi anggota organisasi Islam “transnasional”, bahkan di lehernya ada salib, tapi ia “pembunuh” atas jutaan orang baik Yahudi maupun non-Yahudi di seantero Eropa.

Ayat 52 surah At-Taubah dibaca oleh jutaan kaum Muslimin di seluruh dunia. Dari Maroko sampai Merauke, dari New York sampai Gadog. Kalau benar tafsir itu segitu berbahayanya, maka 1,6 miliar Muslimin dunia yang setiap hari baca al-Qur’an sejak sang doktor belum lahir sudah jadi “teroris” semua. Bandingkan dengan berbagai invasi Amerika yang membunuh jutaan orang Vietman, Iraq dan Afghanistan.

Kita khawatir, jangan-jangan kecemasan beberapa pihak –termasuk sang doktor-adalah kecemasan karena terlalu banyak bergaul dengan lingkungan imperialistik anti-agama yang menginginkan Islam berubah menjadi agama yang mandul.

Dari pada sibuk untuk “mendekonstruksi” tafsir dan ayat al-Qur’an, lebih baik para ulama kita dari Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah diserukan untuk meneruskan pekerjaan berat dan mulia, membimbing umat Islam Indonesia menjadi umat yang berwibawa, yang kelak dari keislamannya lahir istilah-istilah dan kosakata yang memperbaiki cara hidup bangsa ini.

Sibuklah berbuat kebaikan, dan jangan sibuk dengan istilah-istilah baru yang sesungguhnya tidak berasal dari khasanah Islam seperti “militan”, “trans-nasional”, “teologi maut”, “fatalistik”. Tinggalkan mengurusi istilah-istilah itu, dan lebih semakin menyibukkan diri membimbing bangsa ini menjadi bangsa yang akidahnya bersih, ikhlas, taat dan patuh sepenuhnya hanya kepada Allah, tidak mengagungkan simbol-simbol lain selain Allah.

Agar para ulama ini tetap sabar berdiri di tengah rakyat yang kebanyakan miskin (sambil menggandeng para orang kayanya) dan mengajak mereka untuk semakin gigih beramal dan berjihad mengorbankan harta, waktu dan nyawa untuk dakwah dan jihad fii Sabilillah, supaya bangsa ini tidak tergolong menjadi bangsa pembangkang yang maghdhub (dimurkai Allah) dan bukan juga menjadi bangsa yang dhalal (sesat).*

Penulis adalah wartawan

 

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerika Serikathidupmatimuliasyahid
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Penasihat Militer Iran Tewas di Iraq
Tulisan selanjutnya Pembangunan Masjid Terapung Banten Ditargetkan Selesai Tiga Tahun

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Eks Menag Yaqut Didakwa Rugikan Negara Rp622 Miliar dalam Kasus Kuota Haji

Berita
12 Agustus 2026 13:37
HUT ke-81 RI, MUI: Mari Jaga Moral Bangsa dari Penyimpangan Seksual
Iran Hadiahi Rp480 Juta Warganya yang Berhasil Tangkap atau Bunuh Tentara AS
Kibarkan Bendera Palestina, Ratusan Warga Yunani Hadang Kapal Pesiar Wisatawan ‘Israel’
Raja Yordania akan Melawat ke China

Terbaru

  • 19 Kota di Dunia Gelar Aksi Demo, Desak Blokade Gaza Segera Dibuka
  • Data Korban Gempa NTT: 68 Meninggal Dunia, 213 Luka-Luka
  • Makin Banyak Warga ‘Israel’ Pergi, Hanya Sedikit yang Kembali
  • 7.968 Rumah dan 744 Fasum Rusak Akibat Gempa di NTT
  • ‘Israel’ dan Board of Peace Bentuk Dua Komite Gaza, Apa Tujuannya?
  • Usia Belum Tua, tapi Sering Merasa Tua? Hati-Hati Bisa Sebabkan Imsonia dan Gangguan Kesehatan
  • Nasib Pengungsi Rohingya, Mau Pulang Harus Minta Izin Pemerintah Myanmar
  • Sebut Orang Palestina Bukan Manusia, Menteri ‘Israel’ Serukan Pembunuhan Massal
  • Takuti Warga ‘Israel’, Netanyahu Pajang Wajah Para Pemimpin Muslim di Baliho Pemilu
  • Raja Yordania akan Melawat ke China

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?

18 April 2026 09:01
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?