Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
None

Teliti Media Islam, Dosen UNHAS Raih Doktor

Ahmad
Terakhir diupdate: 2 Februari 2015 07:04 7:04 am
Ahmad
Dipublikasikan 2 Februari 2015 07:04
Bagikan
Dr. Ayub Khan: Banyak orang kurang simpati media Islam
Bagikan

Hidayatullah.com–Dosen Universitas Hasanuddin (UNHAS), Makassar, Ayub Khan meraih gelar doctor setelah berhasil mempertahankan desertasi tentang media Islam di Indonesia.

Ayub Khan berhasil mempertahankan desertasinya berjudul “Linguistic Characteristics of Advocating News From Some Islamic Media In Indonesia: A Critical Discource Analysis”(Bahasa Advokasi Media Islam di Indonesia: Analisis Wacana Kritis) di depan para penguji.

Ayub yang meneliti tiga media Islam cetak di Indonesia —Majalah Suara Hidayatullah, Majalah Sabili, dan Media Dakwah— itu akhirnya dinyatakan lulus dan berhasil menggondol gelar doctor pada bulan 21 Januari 2015 lalu. Ayub akhirnya resmi dikukuhkan sebagai doktor di bidang linguistik di almamaternya itu.

Menurut lelaki keturunan Pakistan ini, penelitiannya tentang media Islam itu sengaja dilakukan untuk mengetahui penggunaan diksi dalam menulis berita yang dilakukan media Islam. Dengan begitu, dia berharap, hasil penelitiannya itu bisa jadi sumbangsih atau masukan bagi media Islam agar bisa lebih baik dan berkembang.

Penelitian itu dilakukan mulai sejak meletusnya tragedi World Trade Center (WTC) pada tahun 2001 hingga tahun 2011.

Baca Juga

Cegah Anak Obesitas, Inggris Larang Makanan Manis dan Gorengan di Sekolah
Iran Hujani Israel dengan Rudal Usai Trump Klaim Kemampuannya Melemah
200 Tentara AS Terluka, Iran Nyatakan Siap Perang Panjang
Jerman Penjarakan Seorang Pria Libanon Anggota Hizbullah
Kurma Israel Beredar di Eropa dengan Label Palsu

Adapun berita yang diteliti dosen bahasa Inggris ini adalah berita yang berkaitan dengan jihad dan serangan Amerika Serikat atas negara- negara Islam di Timur Tengah, seperti Iraq dan Afganistan. Selain itu, berita tentang kasus terorisme di Indonesia juga jadi bahan penelitiannya.

Dari riset itu, kata Ayub, ketiga media itu memiliki perbedaan diksi dalam memberitakan kasus yang melibatkan Amerika Serikat di Timur tengah.

Untuk Sabili, kata Ayub, diksi yang dapakai untuk menggambarkan negara Paman Sam itu cenderung sarkastik dan sinis. Diksi itu seperti kata penjajah, teroris, dan pembohong.

Ayub menambahkan, majalah Islam yang pernah memiliki tiras terbanyak di Indonesia itu dalam membuat berita yang berkaitan dengan Amerika Serikat selalu menggunakan diksi yang dianggap agitatif dan provokatif.

Sedangkan, untuk Media Ummat, diksi yang dipakai tidak jauh beda dengan Sabili. Menurutnya, diksi yang dipakai media yang berafiliasi pada Hizbut Tahrir Indonesia itu juga cenderung sarkastik dan sinis. Tapi, dari sisi idiologi pemberitaanya berbeda.

“Jika Sabili itu idiologinya lebih kepada jihad. Sedangkan Media Ummat pada khilafah islamiyah,” ujar ayah dari enam anak yang telah jadi dosen UNHAS sejak tahun 1990 ini.

Berbeda dengan Suara Hidayatullah, diksi yang dipakai lebih bersifat pencerahan kepada umat. Sebab, menurutnya, diksi yang dipakai Majalah Islam itu cenderung lembut dan tidak agitatif. Majalah tersebut sepertinya tidak mau mennggunakan bahasa yang sarkastik dan sinis. Menurut Ayub, dalam dunia jurnalistik seharusnya media Islam memang tidak boleh melakukan kekerasan non-verbalistik atau tulisan. Media harus memberikan bahasa dan diksi yang menyejukkan, tidak agitatif dan provokatif. Hal itu juga yang diinginkan oleh kalangan intelektual dan akademisi.

Sebab, yang terjadi selama ini, katanya, banyak orang yang kurang simpati kepada media Islam karena penggunaan bahasa yang dianggap sarkastik dan sinis dalam menulis berita.

Padahal, lanjut Ayub, Islam tidak harus disampaikan dengan marah-marah dan kasar. Islam, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah disampaikan dengan lemah-lembut agar dapat mengundang simpati orang. Menurutnya, kepatutan dalam berbahasa itu tidak identik dengan kelemahan dan ketakutan pada lawan. Begitu juga sebaliknya, kekerasan dan keberanian bahasa belum tentu menunjukkan keberanian.

“Bahkan dianggap gertak sambal,” katanya.

Begitu juga yang dilakukan Koran Kompas. Kompas pandai mengemas beritanya dengan bahasa yang lembut, bernas, dan enak dibaca. Berita yang ada di Kompas jauh dari kesan agitatif dan provakatif. Karena itu, katanya, tidak sedikit orang, terlebih akademisi di kampusnya yang suka membaca Kompas. Padahal, kalau mau ditelusuri, Kompas itu adalah bukan milik orang Islam, tapi, yang membacanya kebanyakan orang Islam.

“Seharusnya media Islam itu seperti Kompas,” terangnya.

Kata Ayub, media Islam kini berkembang cukup pesat. Lebih-lebih media Islam online. Perkembangan situs Islam seperti cendawan di musim hujan. Tapi, katanya, perkembangan itu harus diikuti dengan kuliatas pemberitaan yang baik. Jangan sampai, media Islam justru tidak menampilkan identitas keislamannya. Namun, bahan penelitiaanya itu tidak mencakup media Islam online. Dia baru fokus pada media cetak—majalah.

Pembelaan pada Islam

Sebelum ini, dalam riset tesis S2- ia juga sudah menelitik tentang kiprah media Islam. Dalam tesis S2 nya kala itu ia meneliti peran berita media Islam dalam memberitakan perlakuan Amerika Serikat (AS) terhadap negara-negara Islam pasca tragedi World Trade Center (WTC).

Judul tesis berjudul “Kritik Pers Islam atas Perlakuan Amerika Serikat Terhadap Negeri-Negeri Islam Pasca Tragedi WTC” Ayub masih meneliti Majalah Suara Hidayatullah dan Majalah Sabili.

Hasilnya menyimpulkan bahwa kedua media Islam tersebut melakukan pembelaan terhadap umat Islam.

Media itu memberitakan bahwa Amerika Serikat melakukan tindakan represif dan diskriminasi terhadap negara-negara Islam, seperti: Palestina, Afganistan, Iraq, juga Indonesia.

Menurut Ayub, tindakan Amerika Serikat terhadap negara Islam berbeda. AS bertindak lebih represif kepada negara yang menentang kebijakannya daripada negara yang mau diajak kerja sama. Karena itu, negara seperti Iraq dan Afganistan itu diserang sedangkan Pakistan dan Indonesia hanya menangkap aktivis Islamnya.

“Pakistan dan Indonesia mau diajak bekerjasama oleh AS. Sedangkan Irak dan Afganistan tidak,” jelasnya Ayub.*

 

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AmerikaHidayatullahMedia Islamrepresifterorisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mendag Diminta Kumpulkan Produsen Bandel Untuk Sosialisasi Larangan Miras
Tulisan selanjutnya Mengenal 15 Milisi Syiah Yang Dukung Bashar di Suriah [1]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaNone

Video: Pria Disabilitas di Nepal Viral Menjaga Masjid dari Serangan Kelompok Radikal

11 Februari 2026 05:26
None

“Kemunafikan Barat Terbongkar”: Celah Hukum Pernikahan Anak di AS Disorot Aktivis HAM

2 Februari 2026 19:30
None

Tolak Gabung ‘Dewan Perdamaian’, Jerman: Penyimpangan Sistem Internasional

23 Januari 2026 09:30
None

AS Kerahkan Kapal Induk ke Dekat Iran, Trump: Untuk Berjaga-Jaga

23 Januari 2026 09:08
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?