Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Usamah, Kematian, dan Kehidupan Penuh Rizki

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Mei 2011 08:22 8:22 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Mei 2011 08:22
Bagikan
Bagikan

Oleh: M. Anwar Djaelani

Jawa Pos (5/5) menurunkan berita utama: “Ditembak, Usamah Tak Bersenjata” dengan sub-judul: “Klaim Pejabat Militer Pakistan, AS Mengakui”. Di paragraf pembuka ditulis: “Satu per satu ‘kebohongan’ Gedung Putih soal proses terbunuhnya Usamah bin Laden mulai terkuak. Mulai bagaimana pemimpin Al-Qaidah itu ditangkap kemudian dihabisi, kesalahan identifikasi korban meninggal lain, sampai penyebab jatuhnya salah satu helikopter yang digunakan oleh pasukan elite Amerika Serikat (AS), Navy Seal, yang melakukan operasi 40 menit tersebut”.

Memang, saat kematian Usamah dipastikan oleh Presiden AS Barack Obama pada 2/5/2011 lewat sebuah pernyataan resmi, tak sedikit yang langsung ingat ayat ini: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS Al-Hujuraat [49]: 6).

Banyak yang meragukan kematian Usamah. Saat beredar foto Usamah mati dengan kepala berdarah, seorang pengamat telematika kenamaan di Indonesia menilainya palsu (www.inilah.com 3/5/2011).

“Usamah Masih Hidup Koq,” Ledek Anak-Anak Muda Pakistan. Kalimat itu adalah judul sebuah berita. Berikut ini petikannya: Tak semua orang percaya dengan berita yang disebarkan AS bahwa Usamah sudah mati. Anak-anak muda Pakistan pada (4/5) berdemonstrasi di luar bangunan yang diklaim AS sebagai tempat terbunuhnya Usamah. Dalam aksinya, puluhan anak muda Pakistan itu meledek AS dan meneriakkan kata-kata “Usamah masih hidup!”

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Sementara, warga Abbotabad di sekitar lokasi tempat penyerbuan Usamah, cuma bisa berbisik-bisik mengungkapkan ketidakpercayaan mereka atas berita yang disebarluaskan AS.

Kita memang layak memertanyakan kebenaran kematian Usamah, sebab sejauh ini tidak ada bukti yang meyakinkan dan hanya berdasarkan pernyataan Obama. Terlebih lagi, pertama, jika mengingat sebelumnya Usamah juga sudah berkali-kali diberitakan mati dan semuanya tak terbukti (baca: “Usamah Bin Ladin ‘Mati’ Berkali-kali di hidayatullah.com (3/5).

Kedua, ini alasan paling penting, karena selama ini AS mudah berbohong. Misalnya, dulu George W Bush (saat menjabat Presiden AS) menyebut ada senjata pemusnah massal di Iraq sehingga negara itu patut diserang. Tapi, bahkan sampai sekarang, terbuktikah itu?

Andaipun berita kematian itu benar, kitapun tetap bertanya: Pertama, tak adakah usaha serius dari AS untuk menghindari terbunuhnya Usamah, yang dengan demikian warga dunia lalu punya kesempatan mendengarkan “cerita asli” dari orang yang selama ini secara sepihak dituduh sebagai teroris? Kedua, mengapa jasad Usamah dikubur (untuk tak menyebut dibenamkan) di laut? Ada apa?

“Teroris” atau Pahlawan?

“Teroriskah” Usamah? Sampai hari ini, publik kerap tak adil dalam menentukan siapa “teroris” itu. Misal, siapakah yang “teroris”, Hamas-Palestina ataukah Israel?

Pada 2001 terbit buku berjudul “Jihad Usamah versus Amerika” karya Adian Husaini. Disebutkan, Usamah lulus dari Teknik Sipil Universitas King Abdul Aziz Jeddah bersamaan dengan invasi Uni Soviet di Afghanistan pada 25 Desember 1979. Usamah lalu “Menjual dirinya kepada Allah”, demikian ia menyebut, dengan terjun ke medan jihad di Afghanistan.

“Bagi kami, Usamah adalah pahlawan karena dia selalu berada di garis depan, selalu berdiri dan maju lebih dulu dibanding lainnya,” kata Hamza Muhammad, seorang Palestina (h. 37-44).

Maka, sangat beralasan jika Usamah menolak stigma sebagai teroris atas dirinya, dengan mengatakan: “Agama kami diserang. Mereka mengancam kehormatan kami dan harga diri kami. Jika kami protes menentang ketidakadilan itu, lantas kami disebut teroris” (h. 47).

Bahkan, sesungguhnya, Usamah sudah tak peduli lagi dengan label. Dengan lantang dia pernah berkata: “Jika memang mengobarkan jihad melawan Yahudi dan Amerika untuk membebaskan Al-Aqsa dan Ka’bah dianggap sebagai tindakan kejahatan, biarlah sejarah menjadi saksi bahwa saya adalah seorang penjahat” (h. 51).

Bagaimana dengan AS? Di kata pengantar buku itu, sang penulis mengritisi: “Apa definisi terorisme? Apakah aksi-aksi Amerika dan Israel di Libya, Iraq, Sudan, Palestina, dan berbagai belahan dunia lainnya bukan aksi terorisme?” (h. x). Untuk menjawabnya, sang penulis meminjam pendapat Prof. Edward S. Herman dari University of Pennsylvania yang di bukunya -“The Real Terror Network: Terrorism in Fact and Propaganda”- menulis: “Sejak puluhan tahun, Amerika telah melakukan kebijakan yang tidak konsisten (seenaknya sendiri) tentang terorisme” (h. 121).

Sungguh, sekarang memang berlangsung perang opini: siapa menilai siapa? Di masa sekarang, Usamah disebut teroris oleh AS karena dia sosok pejuang melawan imperialisme yang dilakukan AS terhadap negeri-negeri Islam. Bandingkan, dulu, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Imam Bonjol, dan lain-lainnya saat melawan Belanda sang penjajah juga disebut sebagai “ekstrimis”. Padahal, bagi bangsa Indonesia, mereka adalah pahlawan.

Kita Yakin

Bagi siapapun yang telah berniat ikhlas “berjihad” si Jalan Allah, bagi siapapun yang telah “Menjual dirinya kepada Allah”, pastilah yakin dengan ayat ini: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di Jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.” (QS Ali ‘Imraan [3]:169).

Bagaimana hidup mereka? Di alam mana mereka sekarang? Bagaimana pula bentuk rizki dari Allah yang mereka terima? Jawaban atas berbagai pertanyaan itu hanya Allah yang tahu. Sebagai kaum beriman, tugas kita hanya meyakininya.

Penulis peneliti InPAS (Institusi Pemikiran dan Peradaban Islam)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pertumbuhan Perbankan Syariah Tinggi
Tulisan selanjutnya FPI Gelar Tahlilan untuk Usamah, Tapi Belum Yakin Meninggal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mantan Bos Tabung Haji Malaysia Terdakwa Korupsi, Keluarganya Diminta Serahkan Daftar Aset

Berita
20 September 2026 13:36
Di Jepang Sekarang Ada 100.000 Orang Berusia 100 Tahun atau Lebih
Jubir Taliban Peringatkan Pakistan Supaya Tidak Melakukan Operasi Militer di Wilayah Afghanistan
Pengadilan Bangladesh Jatuhkan Hukuman Mati Atas Tujuh Pejabat Senior Era PM Hasina
Lebih dari 160 Atlet Irlandia Serukan Boikot Laga Lawan ‘Israel’

Terbaru

  • Kompleks Makam Imam Al-Bukhari Kembali Dibuka Usai Renovasi Besar-Besaran
  • LPH Hidayatullah Perkuat Kemitraan dengan Maybank, Fasilitasi 1.000 Sertifikat Halal untuk UMK Indonesia
  • LPH Hidayatullah Hadir di MIHAS 2026, Perkuat Jejaring Halal Internasional
  • Wajib Halal Oktober 2026, Pemerintah Kedepankan Pembinaan
  • MUI Dorong Percepatan Sertifikasi Halal Program MBG
  • Kelompok Pro-Zionis Teror Media Australia dengan 40 Ribu Email Komplain
  • Turki Minta Dunia Bersatu Lindungi Anak di Ruang Digital
  • Pelatih Irlandia Menyebut Timnya Jengkel Harus Melawan ‘Israel’
  • Perkuat Ukhuwah, UII Dalwa dan Majelis Ugama Islam Pattani Gelar Dialog Keislaman Melayu-Nusantara
  • Lebih dari 160 Atlet Irlandia Serukan Boikot Laga Lawan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?