Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Jalan Setapak Itu Kini Telah Jadi Sungai

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Februari 2015 16:22 4:22 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Februari 2015 16:22
Bagikan
Banjir di Jakarta 2015
Bagikan

PAGI itu, Senin (09/02/2015), curah hujan mulai mengetuk atap rumah kontrakan kami. Hujan turun sudah sejak dini hari. Semakin lama titik air yang jatuh dari langit itu kian menderas saja, membuat asa kami mulai berbaur cemas.

Jarum jam di kamar menunjuk angka sembilan. Pertanda lima belas menit lagi perkuliahan dimulai, tepat pukul 07.00 WIB. Berharap semoga curah hujan segera mereda sesekali rasa cemas banjir menjadi penghalang niat menuntut ilmu di kampus Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA) Jalan Buncit Raya, Jakarta Selatan.

Qadarullah, hujan rupanya kian deras dan terus mengguyur Kota Jakarta. Ada niatan kuat untuk merasakan nikmat berangkat menuntut ilmu meski dihadang banjir.

Bismillah! Pagi itu kami berenam bertekad menerabas banjir. Memaksa diri keluar dari godaan malas yang perlahan mulai merayap di bilik-bilik kami.

Dengan kondisi hujan lebat di luar, ada selarik rasa yang menggelitik agar menarik selimut saja kembali. Dengan banjir yang meruah di luar, ada sebaris alasan untuk permakluman mangkir kuliah. Belum lagi jika ingat durasi tempuh berjalan kaki dari rumah kontrakan, tak kurang butuh seperempat jam untuk tiba di kampus.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Menghadapi hujan yang kian deras, kami hanya berbekal ransel berisi pakaian ganti dibungkus kantong plastik bersama buku-buku pelajaran. Tak lupa sepasang kaos kaki cadangan serta jaket almamater sebagai penghangat badan.

Namun ketika tiba di mulut gang, tantangan telah menanti. Jalan yang kemarin masih setapak kini sudah menjelma menjadi sungai kecil, tak lagi terlihat rerumputan ilalang di sana, apatah lagi jalan berlubang.

Hari itu Jakarta larut dalam guyuran hujan lebat. Tak ayal, seperti biasa curah air melimpah dan menyebabkan sebagian wilayah digenangi air. Beberapa ruas jalan bahkan tak mampu dilintasi oleh kendaraan.Jika biasanya macet menjadi pemandangan biasa, kini harus ditambah dengan banjir.

“Sudah kepalang, sayang jika harus menyerah di awal perang,” demikian seloroh sahabat kami, sebut saja Anisah.

Alhasil kaki-kaki kami semua terus melenggang menjejak genangan air yang mulai naik selutut orang dewasa.

Tiba di halaman kampus, tak henti kami merapal “mantra” yang sejak tadi kami baca. Berharap semoga dosen dan kawan juga mengalami hal yang sama. Sehingga tak ada hukuman rombongan kami yang telat masuk kelas.

Takdir tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak, ternyata beberapa kelas terlihat melompong. Bahkan tak ada satu dosenpun yang datang mengajar. Beberapa kursi milik mahasiswa hanya tergeletak dingin kosong dari pemiliknya.

Usut punya usut, ternyata beberapa rumah dosen juga terkena musibah sama. Sama-sama terjebak banjir dan sama-sama sulit datang ke kampus.

Hujan terus mengguyur lebat sebagian besar wilayah Jakarta hingga sore hari. Selama itu pula kami hanya bisa mendekam di kampus dan larut dalam perpustakaan. Melahap beberapa buku pelajaran atau murajaah sejumlah hafalan yang harus disetor nantinya.

Sebagian kami juga terlihat asyik diskusi dengan beberapa kawan yang lain. Hal itu berlangsung hingga Shalat Ashar. Setelahnya kami lalu sepakat pulang ke rumah. Mumpung curah hujan terlihat bersisa gerimis saja.

Usai menyusur jalan raya yang bergenang, kini adrenalin kami kembali diuji dengan tantangan selanjutnya. Menyeberangi gang setapak yang menghubungkan antara jalan raya dan rumah kontrakan kami yang terletak di kelokan akhir di ujung jalan.

Jika pada pagi hair air masih sebatas lutut, kini benar-benar ia menjelma menjadi samudera. Air sudah naik hingga sepinggul orang dewasa.

Shock! Tapi apa boleh buat. Ia masih bagian dari perjalanan menuntut ilmu. Demikian batin kami terus memberi dukungan.
Dengan tangan kiri menjunjung ransel di atas kepala dan tangan kanan tetap mengapit payung , kami semua menerabas banjir dan harus berenang dalam air keruh agar bisa kembali ke kontrakan mungil kami.

Tentunya kami tak pernah menyesali kenekatan kami datang ke kampus tadi pagi. Apalagi hanya gara-gara beberapa dosen pun tak juga muncul atau datang mengajar.

Meski kami harus menebus dan melintasi “samudera dadakan” ini, setidaknya sebagai bukti bagaimana menjadi penuntut ilmu sejati.*/Roidatun Nahdhah (mahasiswi LIPIA Jakarta)

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:banjirilmuJakartaLIPIA
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kisah “Dua Rupa” Teuku Umar
Tulisan selanjutnya MUI: Hari Valentine Merusak Moral Generasi Muda

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Berita
18 Juli 2026 09:30
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?