Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Kisah “Dua Rupa” Teuku Umar

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Februari 2015 16:09 4:09 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Februari 2015 16:09
Bagikan
Teuku Umar bersama pengikutnya
Bagikan

Oleh: Chaerol Riezal

ADA banyak kisah dan peristiwa yang menarik dalam sejarah Aceh untuk dibicarakan, terutama pada masa Perang Belanda di Aceh (1873-1942) dan salah satu yang pernah dituliskan adalah Teuku Umar.

Kehadiran Teuku Umar bukan sejarah yang menyenangkan bagi Belanda. Suami Cut Nyak Dien ini mendapat cercaan dan sebutan “pengkhianat” oleh Belanda namun juga dihadiahi gelar ‘Teuku Johan Pahlawan Panglima Besar Nederland’.

Teuku Umar yang hidup pada masanya (1854-1899) sejak dari dulu sampai sekarang masih menimbulkan tanda tanya besar, mengapa? Tokoh yang satu ini memang mengundang decak kagum serta terdapat kontroversi di dalamnya.

Tidak sedikit pula misteri yang tersimpan dalam diri sosok yang bernama Teuku Umar Johan Pahlawan. Bagaimana ia mampu meyakinkan Belanda dengan berpura-pura menjadi antek Belanda, kemudian insiden Kapal Nicero tahun 1884 yang melibatkannya adalah salah satu bentuk kejeniusannya.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Dua Rupa Wajah Umar

116 tahun yang lalu, kita mengenal seorang tokoh sekaligus penjuang Aceh berdarah Minangkabau, Teuku Umar. Katanya, Teuku Umar satu-satunya pemimpin perang Aceh yang pindah langsung dari pasukan Aceh ke Belanda. Dia dicap pengkhianat oleh publik, namun menjadi idola di hati rakyat Aceh. Teuku Umar adalah salah satu kisah diantara banyak cerita yang muncul diseputaran perang Belanda di Aceh. Umar menjadi salah satu dari sekian banyaknya orang Aceh yang mendukung Belanda, namun Umar berbeda dengan cuak Aceh yang mendukung Belanda, meskipun gelar “pengkhianat” tetap melekat pada dirinya.

Seperti yang terjadi pada tokoh sejarah Aceh ini, sebelumnya, Pang Tibang mengalami hal serupa, karena dianggap tidak mampu melobi dunia internasional, gelar pengkhianat pun disandangnya, dia disebut sedemikian bisa saja ia tidak mampu berdialog dalam bahasa asing. Teuku Umar memang berbeda dengan Pang Tibang.

Teuku Umar yang semula mendukung penuh dan memimpin pasukan Aceh melawan Kolonial Belanda, tiba-tiba berbalik haluan. Pada tahun 1883 Teuku Umar datang untuk menyerahkan diri kepada Gubernur Van Teijin dan siap mendukung pasukan Belanda. Umar masuk dinas militer dan siap melawan pasukan Aceh.

Ketika Teuku Umar bergabung dengan pasukan Belanda, ia menundukkan pos-pos pertahanan Aceh. Teuku Umar pun diberi peran yang lebih besar oleh Belanda. Namun, hatinya tetap milik orang Aceh, strategi tersebut hanyalah tipuan belaka untuk mengambil senjata Belanda. Hal serupa juga dilakuakan olehnya pada tahun 1893, kali ini ia menyerah kepada Gubernur Deykerkhooff di Kutaraja. ‘Dua rupa’ wajah Teuku Umar kembali diperlihatkan.

Tiga tahun memperkuat Belanda pada periode kedua, Teuku Umar benar-benar telah menyakinkan Belanda dengan kesetiaannya. Ia berubah menjadi orang Eropa. Momen itu berlangsung antara kurun waktu 1893-1896, sebelum peristiwa suatu hari ditanggal 11 Februari 1899 yang mengantarkan “Teuku Umar Johan Pahlawan” ke daerah Mugo untuk peristirahatan selama-lamanya. Namun tiga tahun setelah mengabdi, ia kembali membuat kejutan besar saat dia memutuskan kembali ke pangkuan Aceh dan memimpin pasukannya.

‘Manipulasi’ Teuku Umar

Teuku Umar dikenal pandai dalam psy war dan memanipulasi kata-kata. Keahlian ini tentu sudah banyak yang mengetahui. Terutama kepiawian memanipulasi taktik ketika menghadapi suatu peperangan. Memobilisasi massa, membakar semangat rakyat, dan berorasi di depan pasukan Aceh sepertinya sudah identik dengan tugas Teuku Umar baik sebelum maupun sesudah berperang dengan Belanda.

Suatu ketika, saat Teuku Umar berbincang dengan istrinya Cut Nyak Dhien, ia ditanya istrinya mengapa dia berpihak kepada Belanda. Umar pun menjawab dengan tegas setelah mendengar pertanyaan tersebut. “Mereka tidak tahu, biarkan saja sejarah yang membuktikannya,” demikian jawabnnya. Sebuah jawaban yang mengandung banyak makna. Atau juga dapat dilihat bagaimana ia memanipulasi kata-kata untuk merebut hati Cut Nyak Dhien dan berhasil menikahinya.

Memang benar pada masa itu, tanpa diduga-duga Teuku Umar ‘berpihak’ kepada Belanda setelah sekian lama berjuang bersama-sama dengan pasukan Aceh. Seperti diketahui, pasukan Aceh dibawah kepemimpinannya kalah logistik perang setelah membandingkan persenjataan Aceh dengan Belanda. Itulah yang menjadi titik fokus Teuku Umar dan harus menyeberang ke pihak lawan.

Hal ini jelas menimbulkan pro dan kontra dikalangan rakyat Aceh sejak tempo dulu sampai dengan sekarang dan selalu menjadi topik sejarah yang menarik untuk dibicarakan.

Dengan kata lain, Teuku Umar ingin menunjukkan bahwa sebenarnya secara kualitas pasukan Aceh di wilayah Meulaboh tidak kalah hebatnya dengan pasukan Belanda. Bilapun ada makna lain, bisa jadi ia ingin mengatakan bahwa pasukan Belanda tidak akan mampu berperang dengan Aceh apabila alat persenjataan dan logistik perang lainnya persis sama dengan yang dimiliki pasukan Aceh pada saat itu. Terbukti, pada pertempuran di Meulaboh yang lagi memanas, Belanda dibuat kewalahan oleh pasukan Aceh atas sengitnya perlawanan yang diberikan. Akibatnya, Belanda kerap menggantikan pimpinan perang.

Itulah Teuku Umar yang memiliki pola pemikiran yang tidak biasa dengan persepsi orang kebanyakan. Boleh dikatakan, dia menggeser sudut pandangan. Inilah yang kemudian membuat Umar memecah opini banyak orang. Teuku Umar yang sejak semula sangat menentang kehadiran Belanda di Meulaboh, kemudian malah berpihak Belanda, meski ujungnya, kembali kepangkuan Aceh.
Tentang Teuku Umar, tidak sedikit yang mengagung-agungkannya karena kejeniusannya berolah kata, meracik taktik perang dan sebagai simbol pemimpin rakyat Aceh di Meulaboh tidak dapat diragukan lagi. Namun, tidak sedikit pula yang menyebutnya sebagai pengkhianat. Belanda sendiri memecatnya dan mencabut gelar ‘Johan Pahlawan’ yang disandangkannya.

Salah satu yang menarik dari taktik perangnya adalah Umar tidak hanya mempersiapkan pasukannya dengan taktik defensif dan ofensif, tetapi juga membakar mental para pasukannya dengan ucapan yang menggairahkan.

Ia menggambarkan Belanda sebagai kaphe, lalu melanjutkan dengan ucapan “Udep Share Matee Syahid.” Umar menggunakan kondisi itu untuk membakar semangat pasukannya agar berperang mati-matian dengan pasukan Belanda yang dilengkapi dengan senjata modern.

Surga pun telah menanti

Di medan perang, taktik Umar pun terkadang bisa sama sulitnya untuk ditebak. Memang, taktik milik Umar tidak hanya berpatok penyerangan terhadap Belanda. Sebagai seorang yang piawai dalam mikro-taktik perang, setidaknya Umar telah membagi dua pasukan Aceh. Satu pasukan Aceh ditempatkan dihutan untuk terus bergerilya, dan satu pasukan lagi tetap berada diperkampungan agar terus memberikan perlawanan terhadap Belanda. Setiap pasukan Aceh dibawah pimpinannya yang berada di medan area biasanya sudah mempunyai roel (tugas dan peran) masing-masing. Dan biasanya role tersebut diberikan dengan amat detil. Bukankah Umar tidak mengandung filosofi ajeg bagaimana sebuah pasukan Aceh harus bertahan.

Teuku Umar tahu bahwa pasukan Belanda akan melakukan taktik bumi hanguskan, man-marking terhadap pasukan Aceh secara habis-habisan, dan dia tidak salah. Pasukan Belanda telah di intruksikan untuk penjagaan ketat, mendirikan pos-pos militer, dan melancarkan serangan yang membabi buta. Namun, bukannya pasukan Aceh yang terpedaya, malah pasukan Belanda mengalami frustasi atas sengitnya perlawanan dari pasukan Aceh.

Taktik berpindahnya Teuku Umar ke pihak Belanda masih menjadi misteri mengapa Umar melakukan hal tersebut. Salah satu argumen yang populer menyebut, Umar tidak puas dengan persenjataan yang dimiliki pasukan Aceh. Mengingat ketika itu alat perang pasukan Belanda jauh lebih canggih daripada pasukan Aceh. Teuku Umar seolah-olah mengatakan kepada pasukannya bahwa ia tidak punya pilihan lain dan harus menjadi orang Eropa. Untuk pasukan Aceh, Umar seolah mengatakan, “kalau saya bergabung, sudah pasti saya akan merebut senjata Belanda dan akan kembali berperang bersama kalian melawan kaphe-kaphe Belanda.”

Di satu sisi, ‘pembelokkan’ yang dilakukan Teuku Umar seperti sebuah keuntungan besar bagi Belanda untuk memudahkan misi-misi mereka di Aceh. Namun, jangan lupa, Belanda akan menghadapi Teuku Umar dengan pasukan Aceh. Jika saja, suatu hari itu 11 Februari 1899 tidak terjadi apa-apa, siapa tahu, Teuku Umar yang memiliki segundang misteri itu, punya rencana berikutnya dan manipulasi-manipulasi Umar yang tersembunyi.

Selamat jalan Teuku Umar Johan Pahlawan, 11 Februari 1899 – 11 Februari 2015, perjuangan mu tetap kami kenang.*

Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, angkatan 2011, dan Menjabat Sebagai Ketua Umum Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se-Indonesia (IKAHIMSI) Koordinator Wilayah VIII Aceh dan Sumatera Utara Periode 2014-2016

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AcehBelanda
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Fadhlan Garamathan Akan Bangun Masjid di Papua Dengan Nama Isa Dan Maryam
Tulisan selanjutnya Jalan Setapak Itu Kini Telah Jadi Sungai

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Berita
15 Juli 2026 21:36
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?