Hidayatullah.co–Suasana di Wisma Indonesia, kediaman resmi Dubes RI riuh gelak tawa saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjawab pertanyaan salah satu warga Indonesia yang tinggal di Jepang.
Winda Mercedes Mingkid, dosen Universitas Sam Ratulangi yang sedang mengambil program S3 di Jepang, ingin tahu sikap kepala negara seputar kontroversi keiikutsertaan warga Indonesia Artika Sari Devi pada kontes Miss Universe.
Yudhoyono tidak tegas menyatakan setuju atau menolak keiikutsertaan warganya dalam kontes tersebut namun mengatakan ia berharap busana yang dipakai tidak mempermalukan nilai budaya bangsa.
"Kemarin saya melihat pakaian renang putri Indonesia, tapi dari jauh sih, tidak kelihatan pusarnya. Saya memang perang melawan pusar," katanya disambut gelak tawa sekitar seratus warga Indonesia itu.
"Perang terhadap pusar" yang dinyatakan Yudhoyono sekitar empat bulan lalu, menurut dia manjur karena dirinya tidak lagi melihat pusar "bergentayangan" dalam tayangan televisi.
Mengomentari sikap pemerintah seputar kontes kecantikan itu, Presiden SBY mengatakan hal tersebut tergantung penilaian masyarakat melalui LSM, ulama dan organisasi masyarakat lainnya. "Harapan saya masyarakat bisa menentukan sendiri mana yang baik, yang buruk, yang pantas dan yang tidak pantas," katnya.
Sebelumnya, saat Yudhoyono berpidato di hadapan warga Indonesia di Tokyo, terjadi gempa kecil namun tidak terlihat sedikit pun kepanikan karena gempa seperti itu seringkali terjadi dan masyarakat sudah terbiasa.
Beberapa minggu ini, masyarakat Indonesia cukup ramai polemik pengiriman warga Indonesia Artika Sari Devi pada kontes Miss Universe. Sayangnya, media-media nasional atau lokal jutsru membesar-besarkan Artika tanpa memberi kesempatan kaum wanita lain yang justru tak setuju.
Bahkan salah satu media massa asal Jawa Timur hampir seminggu menempatkan berita Artika dan Miss Universe pada halaman depan bersama foto-foto. "Seolah-olah Artika dan Miss Universe paling penting bagi masyarakat. Anehnya, banyak wanita lain seperti kami ini tak dianggap ada, " ujar Farah (25). "Memangnya gak ada pameran lain yang mencerdaskan yang bermanfaat bagi rakyat selain pamer wajah dan pantat apa, " ujar dokter yang juga aktifis LSM ini. "Tapi itulah yang dianggap penting media massa kita, " ujarnya pada Hidayatullah.com.(ant/cha)