Senin, 25 Juli 2005
Hidayatullah.com–Merekrut calon-calon tentara AS adalah tugas menantang, bahkan dalam masa-masa terbaik sekalipun. Demikian kata Letjen Mike Rochelle dari Pentagon. Tetapi, tantangan terbesar dihadapi sekarang. Selama 33 tahun karirnya sebagai tentara, belum pernah sesulit ini ia mencari calon serdadu.
Mike Rochele bertanggungjawab merekrut tentara. Pekerjaannya tidak terlalu menyenangkan saat ini, karena minat anak-anak muda Amerika untuk menjadi tentara jauh berkurang.
Perang Iraq yang sudah berlangsung 2 tahun mengakibatkan karir sebagai tentara AS sepi peminat. Kecenderungan untuk mendaftarkan diri sangat rendah, baik dari kalangan anak muda Amerika sendiri, maupun orang yang berpengaruh terhadap mereka.
Orang tua, pelatih di klub olah raga atau orang dewasa lain yang pandangannya berpengaruh untuk merekomendasikan pilihan mengabdi sebagai militer.
Saat ini, militer AS kekurangan sekitar 12 ribu orang, untuk mencapai target perekrutan. Masalah semacam itu tak pernah timbul dalam perekrutan penjaga pantai. Mike Geter yang bertanggungjawab di Washington untuk masalah itu mengatakan, ia selalu memperoleh cukup tenaga baru untuk mengamankan pantai-pantai AS. Itu karena tugas yang diemban penjaga pantai sangat berbeda dengan militer.
Menurut Mike Geter, orang melihat penjaga pantai sebagai tugas membantu negara dan tidak keluar dari Amerika. Yang menarik, banyak orang tua yang menanyakan, apakah pekerjaan sebagai penjaga pantai ada kaitannya dengan perang Iraq. Mereka ingin tahu, seberapa jauh penjaga pantai mendukung misi Iraq.
Tugas utama penjaga pantai adalah mengamankan pantai-pantai AS. Pengamanan dalam negeri ada di lini terdepan dan bukan perang di Iraq. Dengan penjelasan seperti ini, pilihan pun jatuh pada profesi sebagai penjaga pantai. Seribu personil penjaga pantai tak akan pernah ditempatkan di sekitar kawasan perang Iraq.
Tugas mereka antara lain menggeledah senjata api di kapal-kapal atau memeriksa keamanan anjungan pengeboran minyak lepas pantai. Jadi, kesiapan anak muda Amerika untuk membela negaranya tetap tinggi, sepanjang jauh dari Iraq.
Militer AS kini mencoba dengan daya tarik lain, yaitu menaikkan gaji tentara. Mereka yang memperpanjang masa tugasnya sebagai tentara, memperoleh tambahan sekitar 100 ribu dolar. Selain itu, tunjangan pendidikan dinaikkan dari 50 ribu menjadi 70 ribu dolar. Mike Geter dari perekrutan penjaga pantai mengatakan, pihaknya juga menawarkan penghasilan ekstra, jika mereka ingin seorang anggotanya melakukan tugas tertentu. Tetapi, tegas Geter, mereka tidak menawarkan uang untuk merekrut orang, seperti yang dilakukan pihak militer.
Walau demikian, memberlakukan wajib militer sebagai solusi persoalan tersebut, tidak didiskusikan dnegan serius. Tema itu tampaknya kalah populer dengan perang Iraq saat ini.
Semenjak menyerang Iraq, laporan pihak keamanan mengatakan lebih dari 17 ribu tentara AS menjadi korban. Namun sumber lain menyebutkan, jumlah itu teramat kecil yang diakui Amerika. Sebab korban lebih tinggi dengan data resmi. (dwwd)