Senin, 19 Desember 2005
Hidayatullah.com–Tentara Zionis terbukti telah menggunakan senjata inkonvensional, yaitu bom cluster, saat terlibat bentrokan senjata dengan para pejuang Hizbullah di Lebanon selatan bulan lalu. Hal tersebut terungkap dari ditemukannya sisa-sisa bom yang tidak meledak di kawasan yang menjadi ajang pertempuran kedua belah pihak.
Kantor Berita Jerman DPA mengutip keterangan militer Lebanon Sabtu kemarin yang menyatakan bahwa dalam operasi pembersihan kawasan pertempuran yang terletak di daerah Kharaj, dekat perbatasan Lebanon dengan Palestina pendudukan, ditemukan 25 bom cluster berikut 155 butir peluru milimeternya.
Militer Lebanon juga mengingatkan warga yang tinggal di dekat kawasan itu agar tidak mendekati kawasan bekas pertempuran hingga operasi pembersihan selesai dilaksanakan.
Bulan lalu, tentara Israel melakukan agresi ke kawasan Lebanon selatan dan terlibat pertempuran dengan para pejuang Hizbullah. Dalam pertempuran itu, empat pejuang Hizbullah gugur syahid.
Sebelumnya, serangan udara terhadap posisi-posisi Hizbullah di sejumlah kawasan dekat wilayah pertanian Shab’a, Lebanon Selatan, Senin lalu, jet-jet tempur Israel telah menggunakan beberapa jenis senjata terlarang, terutama bom cluster.
Hizbullah memiliki foto-foto dan beberapa dokumen lain untuk membuktikan kejahatan Zionis ini kepada PBB atau lembaga-lembaga internasional la.
16 November 2005 kemarin, pihak Pentagon juga mengakui bahwa tentara AS pernah menggunakan serbuk fosfor putih dalam operasi militer yang digelar di Fallujah.
Pengakuan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Pentagon Letnan Kolonel Barry Venable sebagaimana yang dikutip oleh AFP.
Venable menyatakan, pada akhir tahun 2004 lalu, pihaknya memang menggunakan serbuk fosfor yang memiliki efek membakar kulit. Langkah itu menurutnya diambil oleh tentara AS guna menghadapi perlawanan para mujahidin Iraq.
Bom cluster adalah salah satu jenis senjata pembunuh massal yang penggunaannya secara resmi dilarang oleh undang-undang perang internasional.
Bom cluster pencari panas yang dikembangkan sejak dua dekade lalu. Senjata ini tadinya dirancang untuk menghadapi tank-tank Soviet. Versi aslinya dibuat untuk bisa dijatuhkan dari pesawat pembom yang terbang rendah dalam rangka menghindari radar.
Bom ini dirancang ulang agar mampu dijatuhkan dari ketinggian yang lebih untuk menghindari peluru-peluru anti pesawat.
Bom cluster sendiri adalah senjata kontroversial karena potensinya menimbulkan kerusakan total dan tidak pandang bulu di area yang luas.(irib/hid/cha)