Hidayatullah.com–Ledakan keras itu menyebabkan puing-puing dari langit-langit gedung tempa Sekjen PBB Ban Ki-Moon dan PM Nouri Al-Maliki. Saat berbicara dari Kawasan Hijau Baghdad yang dijaga saat ketat, Ban terlihat sempat tersentak di balik podium dan dia tampak terguncang akibat ledakan mortir atau roket yang terjadi tak jauh dari tempat dia berdiri.
Dalam beberapa menit, kedua pejabat tinggi menyelesaikan konferensi berita itu. Mereka tampaknya jelas tidak terluka akibat ledakan. Saksi mata mengatakan, sebuah misil mendarat sekitar 50m dari gedung tersebut.
Sekjen PBB tiba di Baghdad Kamis pagi dalam rangka kunjungan yang tidak diumumkan sebelumnya. Ini merupakan kunjungan pertama Ban Ki-Moon sejak menjabat bulan Januari.
Sebagaimana dikutip BBC di Baghdad mengatakan, gedung dan jendela bergetar ketika ledakan keras menggetarkan seluruh ibukota selepas pukul 1530 waktu setempat (1930 WIB).
Dia mengatakan, tampaknya ledakan itu ditimbulkan oleh serangan mortir atau roket terhadap zona internasional, yang lebih dikenal dengan nama Zona Hijau, tempat semua diplomat dan pejabat militer Amerika berkantor di pusat kota Baghdad.
Setengah berjongkok
Televisi Iraq memperlihatkan Ban dan Maliki duduk satu meja, saat seorang wartawan mengajukan pertanyaan.
Tiba-tiba terdengar ledakan yang menyebabkan kamera stasiun televisi tersebut berguncang dan bergoyang ke kiri.
Ban tersentak dan sejenak setengah berjongkok di balik meja sebelum tenang kembali. Maliki tidak bereaksi.
Serpihan-serpihan kecil terlihat terkoyak dari plafon di atas kepala Sekjen PBB. Kedua pejabat melanjutkan sesi tanyajawab setelah serangan itu.
Jurubicara PBB mengatakan, mortir atau roket mendarat di tempat terbuka. Sebelumnya, Ban dan Maliki mengadakan pembicaraan sekitar satu jam beberapa saat setelah kedatangan Ban yang dirahasiakan.
Ini kunjungan pertama ke Iraq oleh Sekjen PBB sejak pendahulu Ban, Kofi Annan mengujungi Baghdad bulan November 2005.
Annan menarik seluruh staff PBB dair negara itu setelah mantan duta besar PBB untuk Iraq Sergio Vieira de Mello dan 21 orang lain meninggal akibat ledakan. [bbc]