Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Muslim China Bertahan Hidup

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Agustus 2008 07:48
Bagikan
Bagikan

ImageHidayatullah.com–Seperti mayoritas Muslim Uighur China, Yusup lebih memperhatikan kelangsungan hidup ekonomi untuknya, istri dan putranya yang berusia 10 tahun.

"Hidup sebagai orang Uighur sungguh sulit. Ini bukan perkara politik atau agama," ujar Yusup yang tinggal di Aksu, sebuah kota kecil di gurun pasir di Propinsi Xinjiang yang mayoritas penduduknya Muslim. Ia berpenghasilan 1.000 yuan (144 dolar) per bulan.

"Turkistan Timur tidak akan pernah terjadi. China tidak akan pernah membiarkannya," ujar Yusup tentang sebuah wilayah khusus untuk orang Islam yang selama ini banyak diimpikan orang Uighur.

Banyak orang Uighur mengeluhkan perlakuan diskriminasi dalam pekerjaan dan pendidikan.

"Saat pergi ke bank, orang China bersikap kasar dan curiga," ujar seorang wanita Aksu.

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Sebagian besar taraf hidup penduduknya tidak banyak berubah dibanding 100 tahun lalu. Mereka menanam buah atau beternak domba atau sapi. Tapi ada beberapa hal yang berubah.

"Ekonomi sekarang lebih baik ketimbang sebelumnya," aku Abdulkerin, yang mengelola agen perjalanan di Xinjiang. Pendapatannya meningkat tiga kali lipat dalam lima tahun ini berkat banyak turis China yang berkunjung ke wilayah pegunungan ini dan budaya Islam yang kental.

Langganan Penangkapan

Seperti mayoritas Muslim Uighur China, Yusup lebih memperhatikan kelangsungan hidup ekonomi untuknya, istri dan putranya yang berusia 10 tahun.

"Hidup sebagai orang Uighur sungguh sulit. Ini bukan perkara politik atau agama," ujar Yusup yang tinggal di Aksu, sebuah kota kecil di gurun pasir di Propinsi Xinjiang yang mayoritas penduduknya Muslim. Ia berpenghasilan 1.000 yuan (144 dolar) per bulan.

"Turkistan Timur tidak akan pernah terjadi. China tidak akan pernah membiarkannya," ujar Yusup tentang sebuah wilayah khusus untuk orang Islam yang selama ini banyak diimpikan orang Uighur.

Muslim Uighur, minoritas yang berbahasa Turki dan terdiri delapan juga jiwa di Xinjiang, barat laut China, sejak dulu di bawah kendali Beijing. Enam belas polisi tewas dalam serangan di barak mereka di Kashgar, sebuah kota di Xinjiang. Kedua pelaku berhasil dibekuk.

Dilxat Raxit, jubir untuk Kongres Uighur Dunia yang berbasis di Swedia, mengatakan penduduk Uighur marah karena polisi China kerap menangkap warga mereka menjelang olimpiade. Tapi, ia tak dapat memastikan apakah orang Uighur berada di balik serangan itu.

Xinjiang menjadi otonomi sejak 1955 meski penduduknya sering mengalami operasi keamanan. Beijing menganggap wilayah itu aset berharga karena terletak dekat Asia Tengah dan kandungan gas alam dan minyak.

Banyak orang Uighur mengeluhkan perlakuan diskriminasi dalam pekerjaan dan pendidikan.

"Saat pergi ke bank, orang China bersikap kasar dan curiga," ujar seorang wanita Aksu.

Sebagian besar taraf hidup penduduknya tidak banyak berubah dibanding 100 tahun lalu. Mereka menanam buah atau beternak domba atau sapi. Tapi ada beberapa hal yang berubah.

"Ekonomi sekarang lebih baik ketimbang sebelumnya," aku Abdulkerin, yang mengelola agen perjalanan di Xinjiang. Pendapatannya meningkat tiga kali lipat dalam lima tahun ini berkat banyak turis China yang berkunjung ke wilayah pegunungan ini dan budaya Islam yang kental.

Sebelumnya dua republik Turkistan Timur pernah terbentuk di Xinjiang pada 1930-an dan 1940-an, saat kontrol pemerintah pusat di China melemah karena perang saudara dan invasi Jepang. [iol/htb/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Perwira Penembak Warga Palestina itu Hanya Turun Pangkat
Tulisan selanjutnya Karena Tuduhan Kekerasan Seksual, Pastor di New York Tinggalkan Jabatannya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam

Berita
21 Juli 2026 14:37
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat
  • Spanyol Lumpuhkan Argentina di Piala Dunia 2026, Warga Gaza Bergembira
  • ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
  • Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
  • Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
  • Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade
  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?