Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Cium Sayang yang Tinggal Kenangan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Februari 2010 03:28
Bagikan
Bagikan

Al-Ashqar dan MedlineHidayatullah.com–Nejoud Al-Ashqar adalah seorang ibu berusia 30 tahun. Ia tinggal di kota Beit Lahiya, sebelah utara wilayah Jalur Gaza. Dua orang putranya, Bilal, 5, dan Mohammad, 6, terbunuh dalam serangan Israel ke Jalur Gaza Januari tahun lalu. Tidak hanya itu, Al-Ashqar juga kehilangan lengan kanannya.

Dikelilingi oleh para tetangga, putra bungsu dan putrinya, ia mencoba mengenang peristiwa memilukan itu. “Saya ingat, pesawat-pesawat tempur Israel menyebarkan selebaran di daerah kami, memerintahkan para penduduk untuk pergi menjauh. Saya sangat khawatir akan anak-anak. Kami kemudian meninggalkan rumah menuju sekolah UNRWA (Badan PBB untuk pengungsi Palestina) untuk mengungsi,” cerita Al-Ashqar.

“Kami menginap di sekolah sepanjang malam awal bulan Januari, di tengah-tengah pemboman oleh Israel. Rasa takut yang amat sangat menyusup ke dalam hati kami. Saya hanya memikirkan bagaimana caranya melindungi anak-anak, karena banyak puing-puing tajam beterbangan di sekitar kami. Saya berusaha menutupi wajah mereka dengan selimut, takut kalau-kalau serpihan tajam melukai mereka.”

Sekolah UNWRA tempat keluarga Al-Ashqar berlindung, pagi esok harinya dibom Israel. “Saya mendengar orang-orang yang berada di dekat saya berteriak ‘Ambulan, ambulan!’ Saya lantas tersadar bahwa wajah saya berlumuran darah. Saya mulai berteriak memanggil nama anak-anak saya.”

Kepala dan lengan Al-Ashqar terluka parah akibat serangan yang dilakukan Israel. Ia segera dilarikan ke rumah sakit di Gaza. Namun karena kondisinya parah, Al-Ashqar lantas dipindah ke sebuah rumah sakit di Mesir.

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

“Di rumah sakit di Kairo, saya berada dalam ruang perawatan intensif selama 20 hari, dalam keadaan tidak mengetahui apa yang terjadi di sekeliling saya. Selama berada di sana, mereka tidak memberitahu keadaan kedua putra saya, karena khawatir dengan keadaan jiwa saya,” katanya diliputi emosi.

“Setelah kembali dari Kairo, saya diberitahu mengenai kematian putra-putra saya, dan sejak itu saya banyak melewati malam tanpa tidur. Setiap malam bersama suami yang tidak bisa mendengar, saya memandangi foto mereka yang terletak di rak dalam kamar. Dan saya banyak membaca Al-Quran.”

“Andai saja saya tahu Bilal akan meninggalkan saya, andai saya tahu! Bilal biasanya meminta uang satu shekel (0,25 dollar) untuk sekolah. Tapi kadang saya tidak bisa memberikannya, karena keadaan keuangan kami yang buruk. Pada hari-hari di mana saya tidak mampu memberinya uang, saya selalu berjanji esok hari akan memberinya uang. Andai saya bisa memberinya seluruh uang shekel yang ada di dunia!” katanya penuh duka.

Madline–saudara perempuan Bilal dan Mohammad–bertanya, “Sekarang saya bisa bermain dengan siapa?”

Ia berdiri di pojok kamar saudara-saudaranya yang kini terbengkalai. “Saya biasa bermain dengan Bilal dan Mohammad di taman dan di kamar ini,” ujarnya.

Sepupu Madline yang berusia 15 tahun, Mahmoud, menceritakan bahwa keluarga mereka biasa pergi ke pantai bersama.

“Bilal dan Mohammad adalah sepupu saya, meskipun demikian mereka saya anggap seperti adik sendiri. Mereka sangat lucu, lincah dan kami senang pergi ke pantai. Sejak mereka terbunuh, saya tidak lagi pergi ke pantai. Keluarga kami sudah kehilangan semangat untuk bersenang-senang.”

Sambil mendekap foto Mohammad, Al-Ashqar berkata, “Setiap malam, saya memeluk foto-foto mereka dan menciumnya sebelum tidur. Seperti yang dulu biasa saya lakukan ketika mereka masih hidup.” [di/ie/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya ”Luthfi dan Rusdhie”
Tulisan selanjutnya Dua Cara Jitu Bahagia di Dunia dan Selamat di Akhirat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Berita
14 Juli 2026 21:00
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?