Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Turki Keluhkan Tindakan Barat Atas Libya

Ahmad
Terakhir diupdate:
Ahmad
Dipublikasikan 23 Maret 2011 22:03
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan menyatakan, Turki tidak akan mengirim pasukan tempur untuk melawan Libya dan menyatakan menentang atas kampanye militer yang diperlihatkan Barat.

Ia mengatakan, intervensi asing di Libya harus hanya berkaitan dengan tujuan kemanusiaan dan di bawah payung PBB.

“Turki tidak akan pernah menjadi negara yang mengarahkan laras senjatanya pada orang-orang  Libya,” kata Erdogan pada pertemuan di partainya,  Partai Keadilan dan Pembangunan di Parlemen pada hari Selasa (22/3). “Payung untuk operasi kemanusiaan di Libya semata-mata harus Perserikatan Bangsa-Bangsa,” katanya. “Operasi itu harus dijalankan dengan alasan yang sah.”

Turki mengeluh bahwa serangan udara terhadap pasukan yang setia kepada pemimpin Libya Muammar Qadhafi oleh Prancis, Amerika Serikat, dan Inggris, belum memenuhi prosedur internasional yang tepat.

Para pejabat Turki menujukan kritikannya kepada  Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, dengan mengatakan bahwa pertemuan puncak  22 negara yang dilangsungkan di Paris pada hari Sabtu, telah ke luar dari kerangka PBB. Serangan udara terhadap pasukan Qadhafi dilangsungkan beberapa jam setelah pertemuan Paris, dihadiri oleh AS, anggota Uni Eropa dan Liga Arab –kecuali Turki.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Tentu saja, kita mempertanyakan dan mengkritik KTT Paris,” kata Erdogan kepada para pembantunya.

Dalam sambutan sebelumnya, ia langsung mengkritik Sarkozy, dengan menuduh dia menggunakan kampanye militer di Libya untuk mendongkrak popularitas di negerinya menjelang pemilihan yang dijadwalkan 2012, pada saat jajak pendapat menunjukkan penurunan dukungan baginya.

“Tidak ada yang menyuruhnya untuk melakukan peran seperti itu. Dia mengambil langkah sendiri,” kata Erdogan tentang KTT Paris ketika berbicara kepada sekelompok wartawan di atas pesawat saat kembali ke Turki dari kunjungan ke Arab Saudi pada hari Senin.

“Sejauh yang kami ketahui, Sarkozy tidak ingin NATO melangkah masuk. Dia ingin Uni Eropa memimpin operasi. Dia ingin Turki dan  AS tidak terlibat,” kata Erdogan.

Perancis adalah negara pertama yang menyerang Libya, memulai operasi militer internasional di negara tersebut. Pemerintah Turki, yang memiliki masalah dalam hubungannya dengan Sarkozy sejak dia berkuasa karena penentangan Sarkozy untuk keanggotaan Turki di Uni Eropa, kecewa dengan keputusan Sarkozy yang mengecualikan Turki pada KTT Paris.

Ada prospek bahwa kritikan Turki akan meraih pendukung di arena internasional, karena sejumlah ketidaksenangan atas komando koalisi internasional yang  terbentuk secara terburu-buru.

Amerika Serikat, yang menginginkan melepaskan komando operasi militer Libya kepada sekutu dalam beberapa hari, mengatakan pada hari Selasa bahwa pelaksanaan resolusi PBB yang mengesahkan penggunaan kekerasan terhadap Qadhafi membutuhkan dukungan internasional yang luas.

Selama percakapan telepon Senin malam, Presiden AS Barack Obama dan Erdogan menegaskan kembali “dukungan penuh” mereka untuk pelaksanaan resolusi PBB 1970 dan 1973.

“Para pemimpin sepakat bahwa ini akan membutuhkan upaya internasional yang luas, termasuk negara-negara Arab, untuk melaksanakan dan menegakkan resolusi PBB, didasarkan pada kontribusi nasional dan dijalankan oleh komando multinasional NATO, dengan kemampuan kontrol untuk memastikan efektivitas maksimal,” demikian pernyataan dari Gedung Putih.

“Kami menggarisbawahi komitmen bersama untuk tujuan membantu orang-orang Libya kesempatan mengubah negara mereka sendiri, guna dengan menegakkan sistem demokrasi yang menghormati rakyat.”

Turki juga mengeluh bahwa mereka telah bekerja di belakang layar dengan baik dengan Qadhafi dan oposisi untuk meraih kesepakatan yang akan mengakhiri konflik antara dua kubu tanpa menggunakan intervensi asing. Upaya ini terhenti ketika pesawat tempur Prancis mulai memukul target Libya pada hari Sabtu sore, ketika tokoh oposisi Libya masih mengadakan pembicaraan dengan pejabat Turki di Ankara untuk mencari jalan mengakhiri krisis.

“Kami telah berhubungan dengan pihak di Libya sejak peristiwa pertama dimulai. Kami berhubungan dengan kedua belah pihak … Kami bertindak dengan sensitivitas maksimal untuk memastikan transisi di Libya tanpa pertumpahan darah, persis seperti yang terjadi di Mesir dan Tunisia. Sayangnya, hal ini tidak dapat tercapai,” kata Erdogan.

Perbedaan cara pandang Turki-Prancis sama-sama terganjal dalam kesepakatan di NATO, yang sedang berusaha mencapai kesepakatan terlibat dalam operasi Libya. Turki mendesak aliansi meninjau kembali rencananya untuk menegakkan zona larangan terbang di Libya karena tidak ingin aset NATO digunakan untuk mencapai tujuan koalisi militer. Prancis, di sisi lain, tidak mau NATO memimpin operasi, dan menentang NATO pimpinan AS itu beroperasi atas negara Arab.

Sejauh ini, setelah berminggu-minggu dalam pertimbangan, duta besar NATO telah dapat menyetujui rencana operasi untuk NATO membantu menegakkan embargo senjata PBB di Libya, tetapi upaya untuk menyelesaikan rencana peran aliansi di zona larangan terbang belum berhasil diputuskan pada Selasa sore. Pada Selasa itu NATO bertemu di Brussels untuk menemukan jalan keluar dari kebuntuan.

Erdogan mengatakan, ia dapat mendukung upaya NATO,  tetapi hanya jika tidak berubah menjadi tujuan pendudukan. “NATO hanya harus menentukan Libya bahwa Libya milik Libya, dan bukan untuk mendistribusikan sumber daya alam dan kekayaan kepada orang lain,” kata Erdogan dalam kunjungan ke Arab Saudi pada hari Senin.

Ia juga menegaskan bahwa operasi tidak harus menghasilkan sebuah divisi dari Libya dan bahwa serangan militer yang harus dihentikan sesegera mungkin agar orang-orang Libya bisa memutuskan masa depan mereka sendiri.

Erdogan telah menawarkan petunjuk tentang peran yang bisa diilakukan Turki di Libya. Dengan menolak setiap aksi tempur, Erdogan mengatakan bahwa Turki dapat memberikan kontribusi dengan mengamankan bandara di Benghazi, kubu pemberontak anti-Qadhafi, mengamankan distribusi bantuan kemanusiaan di Libya, atau menyebarkan kapal di Mediterania, antara Pulau Kreta dan Benghazi,  untuk membantu melaksanakan embargo senjata di Libya.*

Keterangan foto: Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Libya Makin Bergejolak, Indonesia Diminta Berperan Ciptakan Perdamaian
Tulisan selanjutnya Pejuang Hamas dan Israel Saling Lepaskan Serangan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat

Berita
5 Juni 2026 06:00
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?