Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Miss World dan Serangan Budaya Postmodern

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Mei 2013 09:02 9:02 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Mei 2013 09:02
Bagikan
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

SEBAGAIMANA  telah diberitakan, menurut rencana, Indonesia akan menjadi tuan rumah acara Miss World 2013 di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor dan Bali pada 28 Sebtember 2013. Kontes ratu kecantikan sedunia — yang diadakan sejak tahun 1951 — sudah umum diketahui menjadi ajang mengumbar aurat wanita.  Terdapat sesi penampilan berbikini.

Apapun alasannya – apakah itu untuk menarik wisata, atau yang dinilai bukan tubuh tapi kecerdasannya – tetap saja, unsur kecantikan menjadi ukuran. Tidak mungkin wanita berkaki satu, cebol, mata cacat lolos dalam kontes ratu-ratuan itu, walaupun ia cerdas. Meski terdapat peserta kulit hitam, namun tetap keseksian tubuh wanita itu yang ditonjolkan.

Dr. Daud Yusuf ketika menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (periode 1977-1982) menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap segala jenis pemilihan miss dan ratu kecantikan. Meski pemikirannya terkenal sekuler, kritikan Daud Yusuf sangat tajam terhadap kontes ratu-ratuan yang mengeksplotiasi aurat itu.

Ia berpendapat bahwa kontes ratu-ratuan sedunia adalah suatu penipuan, disamping pelecehan terhadap hakekat perempuan dari mahluk manusia. Tujuan kegiatan ini adalah tidak lain merauk keuntungan berbisnis, bisnis tertentu, perusahan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Wanita yang terjebak dalam kontes ratu-ratuan tidak menyadari dirinya telah terlena, terbius, tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya, itu ibarat perokok atau pemadat yang melupakan begitu saja nikotin atau candu yang jelas merusak kesehatannya. Kritikan tersebut ia tulis dalam buku memoarnya.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Daud Yusuf merupakan menteri era Orde Baru yang terkenal sekuler. Selama menjabat sebagai Menteri, ia enggan mengucapkan ‘Assalamu alaikum’ pada acara-acara resmi. Tapi, ternyata sekularismenya tidak terlalu membabi buta seperti anak-anak muda liberal saat ini. Ternyata ia sadar, serangan kontes ratu-ratuan sangat dahsyat merusak moral bangsa. Kritikannya tersebut mungkin tidak didasarkan paradigma agama. Namun akal sehat bisa menyimpulkan bahwa paradigma kontes ratu-ratuan sedunia sudah nyata menjadi bahan eksploitasi wanita untuk kepentingan pragmatis duniawi.

Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Timur KH. Abdurrahman Navis, Lc,M.Ag mengatakan ajang internasional itu bukan saja membawa misi bisnis, melainkan juga sebagai salah satu upaya untuk merusak moral Indonesia. Sejak dulu, lanjut dia, umat Islam di Indonesia selalu menolak semua bentuk ajang perlombaan yang mengarah pada pengumbaran aurat, yang digelar di luar negeri (jaringnews.com 27/4).

Invasi Budaya Postmo

Dalam budaya postmodernisme yang anti nilai agama, tubuh wanita menjadi media mengeksploitasi seks dan untuk kepentingan market bisnis. Michel Foucault berpendapat, dalam dunia global, antara nilai jual tubuh, hasrat dan kekuasaan kapitalis terdapat hubungan yang tidak terpisah.

Postmodernisme dalam era sekarang, telah mempunyai andil besar dalam menciptakan ruang pembebasan tubuh dan hasrat, yang mempunyai andil besar dalam menciptakan ruang pembebasan hasrat yang mampu membentuk paradigma baru dalam kehidupan sosial dan budaya (Zaitunah Subhan,Pornografi dan Premanisme: 2005, hal. 76).

Eksploitasi tubuh wanita tersebut, menurut Foucault dijalankan melalui media; televisi, Koran, majalah, video, dan lain-lain. Tubuh digunakan untuk kepentingan relasi sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Hal ini merupakan agenda masyarakat Barat. Postmodernisme adalah paradigma, tubuh wanita adalah alat dagangan, dan media massa adalah kendaraannya.

J.F. Lyotard, sosiolog postmodern, mengatakan, sistem relasi dengan tubuh wanita sebagai alatnya merupakan wacana libidinal economy (ekonomi libido). Yaitu kecenderungan menciptakan ruang untuk pelepasan hasrat, sehingga setiap orang dapat mengeksplorasi setiap hasrat untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang maksimal.

Dalam wacana ekonomi libido, lekuk-lekuk tubuh wanita diekspose secara publik karena memiliki nilai jual. Mereka menolak dikatakan melakukan degradasi moral. Lyotard menganjurkan dalam wacana ini harus bersifat permisif. Semakin tinggi permisifme, semakin tinggi pula daya jual kepada masyarakat. Atau dapat dikatakan, semakin luas aurat yang terbuka semakin tinggi nilai ekonominya (Zaitunah Subhan:2005, 79).

Dalam kaitan dengan hal tersebut, Miss World merupakan produk serangan budaya postmodern, dalam bentuk ekonomi libido. Para pendukung kontes ratu-ratuan menolak dikatakan ajang tersebut merusak moral. Panitia Miss World beralasan, yang dinilai adalah brain (otak), bukan seksualitas wanita. Seorang ratu kecantikan dapat menarik wisata Indonesia.

Sebagai alat, wanita tak ubahnya alat penarik uang. Tentu, tidak ada kemulyaan ketika wanita menjadi semacam alat belaka.

Justru disinilah problemnya. Wanita adalah komoditi. Yang dijual kecantikan. Wanita memiliki nilai jual untuk kepentingan ekonomi. Ini adalah bentuk ‘penjualan’ wanita. Jelas ini pelecehan terhadai kaum Hawa. Seks, dalam dunia postmo bukan saja alat pemenuhan kebutuhan biologis, tapi juga dijadikan pembangkit market sebuah produk ekonomi. Makanya, di Barat, penonjolan lekuk-lekuk tubuh wanita dalam iklan dan film tidak dianggap pelecehan wanita, tapi seni yang bisa mendongkrak produk ekonomi. Paradigma Barat kebingungan membedakan antara seni, pelecehan dan hasrat seks. Pelecehan dinilai seni, penistaan dapat membangkitkan ekonomi. Inilah budaya anti nilai (nihilisme).

Dalam Islam, wanita bukanlah alat dan tidak boleh dijadikan alat eksploitasi. Wanita harus dilindungi, bukan diumbar secara publik. Sebab, ketika wanita dipamerkan akan memicu fitnah syahwat. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau dan Allah subhanahu wata’ala menjadikan kalian berketurunan di atasnya. Allah melihat apa yang kalian perbuat. Takutlah kepada (fitnah) dunia dan takutlah kepada fitnah wanita, karena sesungguhnya awal fitnah yang menimpa Bani Isra’il dari kecerobohannya terhadap wanita.” (HR. Muslim).*

Penulis adalah Peneliti InPAS Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jangan Tanya Saudaramu Makan atau Tidak
Tulisan selanjutnya Kenalilah Muru’ah dan Pilar-pilarnya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?