Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Surat Pembaca

Masyarakatpun Kini Takut Jenggot dan Cadar

Ahmad
Terakhir diupdate: 30 Mei 2011 17:53 5:53 pm
Ahmad
Dipublikasikan 30 Mei 2011 17:53
Bagikan
Bagikan

BEBERAPA waktu lalu, saya dikagetkan kabar. Teman akrab saya ditolak lamaranya. Bukan gara-gara masalah klasik, tapi karena cadar. Ceritanya begini. Teman saya itu sebenarnya sudah kenal cukup lama perempuan yang hendak dinikahinya itu. Ia pun pernah berkunjung ke rumahnya dan berkenalan dengan keluarganya. Keluarganya pun setuju rencana pernikahannya dengan putrinya itu. Waktu lamaran pun telah disepakati.

Di hari H, teman saya pergi melamar. Karena keluarganya jauh, ia pun meminta salah seorang ustadz untuk melamarkannya. Istri ustadz yang telah dikenal akrab itu ternyata bercadar. Alasan memakai cadar itu tidak lain hanya untuk menjaga hijab saja, tak lebih.

Ketika rombongan sampai di rumah perempuan, dan melihat istri ustadz yang memakai cadar tadi, betapa kagetnya pihak keluarga perempuan.

Entah alasan apa, tiba-tiba lamaran tersebut ditolak. Kabarnya, menurut teman saya itu, lantaran yang melamarkanya mengenakan cadar.

Teman saya awalnya tak habis pikir: ada apa dengan cadar hingga begitu menakutkan? Lambat laun ia pun sadar, mungkin ini bukan jodohnya. Allah sengaja menciptakan “skenario cadar” untuk mencarikan jodoh yang lebih baik baginya.

Baca Juga

22 Tahun Wahdah Eksis jadi Ormas
Harga Telur Melambung Tinggi, Bagaimana Islam Mengatasi?
Lemahnya Agama, Penyebab Munculnya Pergaulan Bebas
Uang Kripto sebagai ‘People Money’
Hari HAM Sedunia, Muslim Thailand Selatan Masih dalam Tekanan dan Diskriminasi

“Saya khusnuzhon saja pada Allah,” ungkapnya yakin.

Kisah lain dari teman saya yang lain. Ia punya teman satu ma’had salafiyah di Jombang Jawa Timur yang mengalami hal tak mengenakan.

Temanya dari Cilacap, Jawa Tengah itu sama-sama nyantri untuk menuntut ilmu agama. Ketika itu, berita terorisme sedang marak-maraknya di media.

Singkat cerita, temanya itu akhirnya selesai nyantri. Ia pun pulang dengan membawa rangsel besar berisi baju dan barang lainnya. Maklum, lama tidak pulang banyak barang yang harus dibawa.

Sesampainya di rumah, alih-alih disambut dengan karangan bunga, justru dicurigai. Orangtuanya menyuruhnya membuka tasnya. Hal itu bahkan dilakukan di depan warga masyakarat. Mereka takut jika ia terlibat terorisme.

Praktis, kejadian itu membuatnya trauma. Lama-lama menimba ilmu agama di pesantren pulang-pulang dicurigai “teroris”. Cita-cita ingin mengabdi ke umat di desanya pun sirna sudah.

Setidaknya, buat apa mengabdi pada masyarakat yang tidak lagi percaya. Ia pun memilih pergi ke Sumatera mencari sesuap nasi. Ia pikir, dari pada di desa, lebih baik merantau ke tempat jauh.

Dua kisah di atas hanya secuil. Masih banyak lagi kisah pedih, pahit dan tak adil yang dialami umat Islam yang identik dengan simbol-simbol di atas. Tidak saja cadar dan pesantren. Tapi juga jenggot, celana di atas mata kaki dan kitab tafsir dan jihad.

Jika ada yang memiliki ini, siap-siap dicap sebagai kelompok yang kata “mereka” fundamentalis, radikalis dan stigma lainnya. Padahal, identitas tersebut tidak bertentangan dengan Islam, bahkan dianjurkan Islam.

Stigma itu muncul ketika maraknya pemberitaan terorisme yang dilakukan media. Media menyorot ciri-ciri terorisme. Teroris itu biasaya berjenggot, bercelana cingkrang dan punya istri yang memakai cadar. Stigma itu juga hingga ke buku-buku seputar jihad, tafsir al Quran dan lain sebagainya.

Apa yang disampaikan media ternyata ditelan mentah-mentah sebagian masyarakat, terlebih yang dangkal ilmunya. Mereka mengamini seluruh yang distigmakan media. Makanya tak heran jika melihat demikian, banyak umat Islam sendiri yang curiga. Efek dari pecitraan buruk terhadap Islam ini ternyata memiliki ekses negatif luar biasa.

Padahal, tidak semua yang memiliki ciri-ciri tersebut melakukan terorisme. Itu hanya segelintir. Tapi, gara-gara stigma buruk itu justru mengglobal seolah yang seperti itu adalah teroris. Ibarat kata pepatah; nila setitik rusak susu sebelanga. Betapa dahsyatnya efek pencitraan.

Saya yakin, Indonesia hingga kini masih dilindungi Allah dari segala bencana dan musibah karena doa-doa dan kesalehan hamba-hamba-Nya yang shaleh. Merekalah yang senantiasa beribadah secara tulus. Doa-doa merekalah yang masih didengar Allah. Doa-doa merekalah yang masih menembus ‘arys. Bukan doa para koruptor.

Sayangnya, justru balasan yang tidak mengenakan yang mereka terima. Ibarat pepatah; air susu dibalas air tuba. Jangan sampai, mereka yang terzalimi berbalik berdoa yang buruk. Sebab, jika hal itu dilakukan, boleh jadi, Allah akan membuka langit ke tujuh dan mengabulkan doa mereka.

Abdullah

Guru ngaji tinggal di Surabaya

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Para Muslimah Temuan Tujuan Baru dengan AFL
Tulisan selanjutnya Berahlaq Yang Baik Dimanapun!

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Surat Pembaca

Racun LGBT Makin Meluas, Jaga Ketahanan Keluarga Indonesia

28 Mei 2022 12:30
cerita
Surat Pembaca

Pentingnya Memilih Cerita Sebagai Hiburan

26 November 2021 13:37
Surat Pembaca

Tanggapan atas Pernyataan Bahwa Semua Agama itu Benar

22 September 2021 15:00
Surat Pembaca

Nasyid untuk Wahdah Islamiyah

8 September 2021 07:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?