Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Bedanya Erdogan yang Alim dan Dawkins yang Atheis Bicara soal Nobel

Ama Farah
Terakhir diupdate: 11 Agustus 2013 09:14 9:14 am
Ama Farah
Dipublikasikan 11 Agustus 2013 09:14
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Perdana Menteri Turki Recep Tayyp Erdogan mengecam Yayasan Nobel dan mempertanyakan bagaimana bisa lembaga itu memberikan perdamaian kepada Muhammad El Baradei, seseorang yang terlibat dalam kudeta militer di Mesir.

“El Baradei, yang diberikan penghargaan Nobel Perdamaian, sekarang wakil presiden dari sebuah pemerintahan yang melakukan kudeta militer,” kata Erdogan dalam pidatonya saat perayaan Idul Fitri 1434H bersama partainya, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP).

“Saya katakan kepada [Yayasan] Nobel. Hey Nobel, bagaimana bisa Anda memberikan penghargaan kepada mereka yang berpihak kepada orang-orang yang melakukan kudeta militer?” lansir Hurriyet Daily News Jumat (9/8/2013).

Dalam kesempatan itu Erdogan juga menyinggung soal larangan masuk ke Mesir wanita asal Yaman penerima Nobel Perdamaian 2011, Tawakel Karman. Jurnalis dan aktivis HAM yang juga memiliki kewarganegaraan Turki itu dilarang masuk ke Mesir pada 4 Agustus lalu dan diterbangkan balik ke Dubai.

Sebelumnya, Kamis (8/8/2013), tokoh atheis terkemuka Richard Dawkins juga menyoroti Yayasan Nobel. Lewat akun Twitter-nya dia berkata, “[Dari] seluruh dunia Muslim penerima Anugerah Nobel lebih sedikit dibanding Trinity College, Cambridge. Padahal, mereka melakukan hal-hal yang hebat pada masa Abad Pertengahan.”

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Komentar itu kontan mendapatkan kecaman, termasuk pendukung atheisme sendiri. Banyak dari mereka menyebut Dawkins rasis.

Penulis buku “The God Delusion” itu mempertahankan pendapatnya dan membantah dirinya rasis. Dia mengatakan, orang-orang Muslim “bukan sebuah ras. Persamaan di antara mereka adalah agama.”

“Daripada dengan Trinity, apa Anda lebih suka perbandingannya dengan Yahudi? Google itu,” kata Dawkins menyuruh pengkritiknya mencari informasi lebih lanjut di Google.

Namun, menurut penulis Nesrine Malik, kicauan Dawkins itu sebenarnya untuk menyinggung Muslim dan menyebut Islam sebagai agama bodoh.

Dalam tulisannya di The Guardian (8/8/2013), wanita asal Sudan yang bermukim di London itu mengatakan, pernyataan Dawkins itu perlu dipahami secara cermat.

Malik, yang dalam tulisannya menyelipkan peringatan bahwa Dawkins bukan orang bodoh, mengatakan memang benar secara teknis Muslim penerima Nobel lebih sedikit dibanding orang-orang di Trinity College. Muslim penerima Nobel hanya 10 orang, sementara komunitas akademik Trinity College yang terbatas dan eksklusif memiliki 32 orang pemenang Nobel.

Menurut Malik apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Dawkins adalah, “Muslim sebagai sebuah kesatuan sepanjang sejarah sejak Abad Pertengahan tidak berbuat apa-apa. Dan itu jelas terkait dengan agama mereka yang bodoh.”

Dan jika orang berpendapat demikian (Islam agama bodoh yang tidak membuat kemajuan sejak Abad Pertengahan), menurut Malik mereka harus ingat bahwa Penghargaan Nobel tidak cukup universal untuk dijadikan kriteria. Penghargaan Nobel hanya baru digelar seratus tahun lebih sedikit. Anugerah itu diberikan atas hasil karya riset akademik yang unggul di mana di negara-negara Barat karena pembangunan sosioekonomi di kawasan utara menjadikan sains dan institusinya lebih maju, dibanding kawasan selatan (perlu diingat tidak hanya dihuni oleh Muslim) yang terbelakang karena sosio-relijius.

Secara umum, negara-negara maju saat ini kebanyakan berada di utara garis Katulistiwa dan Eropa (barat), sedangkan negara tertinggal banyak terletak di selatan Katulistiwa dan Asia Pasifik (timur).*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ancaman Tak Terbukti, Amerika Buka Kembali Kedutaannya
Tulisan selanjutnya Maroko Pecat Kepala Penjara, Spanyol Tangkap Kembali Pelaku Pedofilia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Feature
30 Juni 2026 17:12
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
MTQ Nasional 2026 di Semarang Siap Jadi Panggung Syiar Islam dan Budaya Nusantara
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

Terbaru

  • Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
  • Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
  • Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
  • Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
  • Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
  • Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris
  • Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
  • MTQ Nasional 2026 di Semarang Siap Jadi Panggung Syiar Islam dan Budaya Nusantara
  • Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
  • MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?