Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Spirit Optimisme Bonggo dan Tradisi Kaderisasi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Februari 2013 07:00
Bagikan
Bagikan

NURDIN Bonggo gemetaran. Tadi malam, selepas sholat Maghrib, Senin (18/02/2013), ia berbicara di hadapan puluhan Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah, dan ratusan santri di Masjid Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat.

“Saya gemetaran ini. Saya memang paling takut dengan mimbar, apalagi dengan mimbarnya Gunung Tembak,” ceplosnya di atas mimbar seraya memang sedikit tampak kikuk, tawa jamaah pun riuh.

Meskipun merasa grogi, pengurus Pimpinan Wilayah Hidayatullah Papua Barat ini tetap tampil dengan penuh percaya diri. Senyumnya mengembang selalu. Sambil berkata-kata, sesekali peci putihnya dipermantap posisinya di atas kepala. 

“Karena ini amanah, ya kita maju saja,” katanya kemudian. Frase ‘kita’ di di sini maksudnya adalah ‘saya’ atau bisa diartikan sebagai ‘kami’. Dalam tradisi linguistik sebagian besar masyarakat Indonesia Timur, ‘kita’ merupakan kata yang sangat sopan untuk tidak menyebut ‘saya’ atau ‘anda’.

Disela-sela kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakornas) dan Upgrading Manajemen I PW dan PP Hidayatullah di Depok ini, pantia memang menyediakan waktu sejenak setiap lepas Maghrib hingga Isya’ kepada para ustadz ustadz Hidayatullah yang telah bertugas di berbagai wilayah untuk menyampaikan ‘laporan perjalanan’.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Istilah laporan perjalanan memang sudah biasa dan menjadi tradisi Pesantren Hidayatullah sejak dulu. Jika ada tamu dari daerah yang mampir ke pondok pasti dipersilahkan untuk berbagi oleh-oleh kepada jamaah dalam bentuk tauhsiah seperti ini.

Berdiri tegak di atas mimbar kokoh, malam itu, Nurdin Bonggo menyampaikan nasihat kepada para santri untuk terus bekeja dan belajar keras. Pesannya, santri Hidayatullah saat ini harus bersyukur karena memiliki peluang dan waktu yang lebih baik untuk dapat menempuh pendidikan (formal). Tidak seperti masa lalunya, di tahun 80-an di Gunung Tembak, Balikpapan.

“Waktu itu kita tidak pernah sekolah di kelas. Tidak ada sekolah. Sekolahnya di lapangan dengan kerja bakti, bertukang, dan membabat hutan,” kata pria humoris yang kini bertugas di Papua Barat.

Ia pun beharap semoga alumni kader sarjana tiga perguruan tinggi milik Hidayatullah yang ada di Balikpapan (STIS Hidayatullah), Depok (STIE Hidayatullah), dan Surabaya (STAIL Luqman Hakim), dapat melahirkan kader yang lebih berkualitas, yang siap berbuat dan tandang ke gelanggang.

“Mereka harus lebih berkualitas dari kita kita ini yang tidak pernah sekolah. Berkulitasnya bukanya hanya dari sisi ilmu, tapi juga dari segi karakter, mau berbuat, siap dikirim, dan komitmen terhadap perjuangan Hidayatullah,” tegasnya.

Grogi Nudrin Bonggo yang juga alumni KMM (Kuliah Muballigh Muballighat) Hidayatullah Balikpapan ini tidak berlangsung lama, hanya beberapa menit saja. Selanjutnya ia sangat lancar berbicara. Sekitar 30 menit lebih ia berceramah di atas mimbar berbahan kayu jati itu dengan muatan optimisme yang berapi-api. Sesekali diselingi guyonan renyah. Hadirin tampak serius menyimak dan menikmati.

“Tantangan dakwah kami di Papua Barat tidak ringan. Bisa jadi sewaktu-waktu bukan hanya ada ancaman benturan fisik, tapi juga psikis. Maka adik-adik santri harus mempersiapkan mental untuk berdakwah,” katanya memberi nasehat.

Kerja Mati-matian

Seperti sudah diketahui umum di kalangan santri awal Pesantren Hidayatullah, kuliah muballigh yang diselenggarakan melalui KMM di awal-awal perlangkahannya, itu nyaris tak pernah mengadakan program pendidikan layaknya kuliah pada umumnya di ruang-ruang berdinding. Pernah mungkin, tapi kuantitasnya bisa dihitung jari.

Peserta kuliah di program KMM Pesantren Hidayatullah ini sepenuhnya praktik langsung ke lapangan seperti langsung dikirim berceramah ke masjid-masjid, berkebun, hingga menjadi tenaga tetap pembangunan pesantren yang sehari-hari berjibaku dengan alat pertukangan. Sehingga, program KMM yang sebenarnya berarti Kuliah Muballigh Muballighat ini seringkali diplesetkan menjadi ‘kerja mati-matian’.     

Namun tak dinyana, dari program KMM inilah kemudian lahir kader-kader militan Pesantren Hidayatullah yang siap tandang di mana saja mereka ditugaskan. Mereka memang tidak bertitel sarjana, apalagi sampai bergelar sarjana strata tiga. Namun celupan-celupan pengkaderan yang mereka dapatkan langsung dari peiode priode KMM telah melahirkan mereka menjadi kader-kader pendobrak.

Bahkan bisa dikatakan perintis-perintis awal Pesantren Hidayatullah di nusantara yang ada hari ini sebagian besar lahir dari rahim program KMM di Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan.

Selain KMM, sebenarnya dulu juga ada istilah KDI (Kuliah Dakwah Islam). Kalau KMM lebih banyak diisi oleh kader-kader bangkotan alias mereka yang merasa tidak berbakat sekolah kemudian memilih bekerja keras di lapangan. Sementara di KDI ini diisi oleh mereka yang bertugas di posisi yang cukup bergengsi. Anak-anak KDI ada yang jadi pengasuh santri, guru, dan staf kantor. Tapi keduanya sama saja, sama-sama tidak sekolah formal.

Nurdin Bonggo boleh jadi agak sedikit grogi saat berbicara di hadapan ratusan orang tadi malam. Namun, yang pasti, nyalinya sebagai dai tak akan pernah merasa ciut. Ia terus menyampaikan wejangannya, menyalurkan optimismenya, mengalirkan semangat kebangkitan untuk tegaknya peradaban mulia, peradaban Islam!

“Kiprah sarjana Hidayatullah hari ini harus lebih hebat dari mereka yang hanya lulusan KMM,” tutup Nurdin yang memiliki marga kekerabatan Bonggo ini. Bukan penganut eksogam, Baginya, semua Muslim adalah bersaudara.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabHidayatullahindonesiaislamold migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Survei: Nasabah Perlu Layanan Perbankan Terjangkau
Tulisan selanjutnya Muslim Moro Tetapkan Syarat Eksplorasi Sumber Daya Alam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Terbaru

  • Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil
  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?