Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Foxconn Mengaku Melanggar Aturan Perburuhan

Ama Farah
Terakhir diupdate: 11 Oktober 2013 21:11 9:11 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 11 Oktober 2013 21:11
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Foxconn, kontraktor pembuat komponen elektronik terbesar sedunia, mengaku memasukkan siswa magang ke dalam shift kerja di pabriknya di China, yang merupakan pelanggaran terhadap kebijakan perburuhan perusahaan itu sendiri, lapor BBC (11/10/2013)

Perusahaan pembuat komponen elektronik untuk merek-merek ternama dunia itu beberapa tahun terkahir dikecam dan disorot tajam terkait pelanggaran perburuhan yang dilakukannya.

Tahun lalu, Foxconn mengaku mempekerjakan anak di bawah umur di pabriknya yang sama di China.

Perusahaan raksasa milik grup Hon Hai Precision asal Taiwan itu mempekerjakan ratusan ribu orang di seluruh dunia. Pabriknya menghasilkan beragam komponen untuk produk-produk merek ternama di dunia seperti Apple, Sony, Microsoft, Hewlett-Packard (HP) dan Nokia.

Foxconn pertama kali mendapat sorotan dan kecaman internasional tahun 2010 ketika 13 pekerjanya melakukan bunuh diri di pabriknya di China.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Menyusul kejadian itu, masalah jam kerja, gaji, kondisi tempat kerja, kesejahteraan buruh dan lainnya, mendapat sorotan, sehingga menimbulkan aksi mogok di kalangan buruh.

Foxconn kemudian menanggapinya dengan menaikkan upah dan memangkas jam kerja, serta menempatkan konselor di pabriknya. Perusahaan itu juga memasang jaring pengaman di sekeliling tembok pabriknya di Shenzhen, guna mencegah karyawan yang ingin bunuh diri jatuh ke tanah.

Di tahun 2010 Foxconn menghentikan sementara operasional pabriknya di India, setelah 250 buruhnya jatuh sakit.

Pada bulan Mei 2011, dua orang tewas setelah terjadi ledakan di pabrik Foxconn di Chengdu, China.

Meskipun baru terungkap beberapa tahun terakhir, namun banyak beredar kabar bahwa kondisi buruh Foxconn yang mengenaskan sudah berlangsung sejak lama, namun kasusnya sering tidak terpantau media. Cerita buruh yang dipaksa bekerja lembur melebihi batas ketentuan, atau yang jatuh sakit atau meninggal karena kelelahan sudah tidak asing lagi.

Mei 2010 menyusul kematian belasan pekerjanya, pendiri Foxconn Terry Gou langsung terbang ke Shenzhen dengan pesawat jet pribadi dan mengundang para wartawan untuk melihat kondisi di dalam pabrik.

“Anda tahu, Hon Hai memiliki lebih dari 800.000 pekerja di seluruh dunia, dan tidak mudah untuk mengelola tim sebesar itu,” kata Guo membela diri, kutip The Sydney Morning Herald (26/5/2010).

Ketika itu buruh Foxconn kabarnya disuruh menandatangani perjanjian yang menyatakan bahwa mereka tidak akan bunuh diri.

Namun, buruh Foxconn punya cerita lain. Mereka mengaku dipaksa bekerja dengan jam kerja yang panjang, diawasi secara ketat dan dibayar dengan upah murah.

Seorang buruh berusia 21 dari Provinsi Guangxi ketika itu kepada China Morning Post mengaku dipekerjakan selama 12 jam sehari, enam hari dalam sepekan.

“Suasana di dalam tempat kerja kami sangat ketat dan membuat depresi, di mana kami tidak boleh berbicara satu sama lain selama 12 jam, atau kami akan ditegur oleh pengawas.”

Seorang pekerja wanita lain dari Provinsi Hunan mengeluhkan ban berjalan yang bergerak terlalu cepat, di mana dia harus memeriksa ribuan mainboard untuk gadget elektronik setiap harinya. Wanita berusia 22 tahun itu digaji 2.000 yuan (sekitar 3 juta rupiah) sebulan, sudah termasuk uang lembur.

Seorang pekerja mengaku menolak menandatangani surat pernyataan tidak akan bunuh diri atau melukai pekerja lain, sebab menurutnya hal itu merupakan dalih dan salah satu cara Foxconn untuk memasukkan pegawainya ke rumah sakit jiwa akibat tekanan pekerjaan.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Saudi Tahun Ini Beri Pelayanan Besar untuk Jamaah Haji
Tulisan selanjutnya Musnahkan Senjata Kimia Suriah, OPCW Dapat Hadiah Nobel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang

Berita
5 Juni 2026 05:00
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?