Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Jendela Keluarga

Menjadi yang Kedua

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 April 2015 14:09 2:09 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 April 2015 14:09
Bagikan
Jika menjadi kedua berarti mengundang petaka dan menyengsarakan hamba-Nya, pasti Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan pernah izinkan poligami
Bagikan

TELEPON genggam di tangan saya bergetar beberapa kali, sebaris nama muncul di layar. Beberapa detik kemudian saya sudah mendengar suara di ujung sana. Nadanya terdengar gembira. Saya bertanya-tanya apa gerangan yang hendak disampaikannya. Akhirnya karena tak sabar sekaligus iseng, saya menggodanya, “Mau nikah iya Mbak?” Ia pun berseru tertahan, berusaha menyembunyikan kegembiraannya dan mengiyakan pertanyaan saya.

Saya pun semakin penasaran. Menanyakan siapa gerangan jodoh yang menghampiri si Mbak yang usianya telah menginjak pertengahan kepala empat ini. “Akhirnya”… itulah yang menghiasi benak saya. Ia pun menanyakan apakah saya mengenal sebuah nama. Seseorang yang aktif di sebuah wilayah dakwah yang tak jauh dari tempat saya tinggal. Tiba-tiba saya merinding. Hati-hati saya bertanya, “Mbak, beliau sudah berkeluarga ya?” Jawabannya yang membenarkan membuat hati saya yang sudah dihiasi oleh warna-warni kebahagiaan kini juga diwarnai rasa lain.

Jadi istri kedua. Itulah kabar gembira sekaligus rasa “ngilu” yang datang pada saya hari itu. Poligami. Kata itu masih sering saya eja dengan berbagai rasa hingga hari ini. Walaupun itu adalah perintah-Nya dan bagian dari perjalanan hidup junjungan agung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam yang harus kita teladani tetapi secara manusiawi, saya belum mampu mengejanya dengan baik dan benar hingga hari ini.

Persoalan ada di Hati

Menjadi yang kedua, ini yang sering mengganjal dalam hati. Yang kedua berarti menjadi yang setelah orang lain. Terlepas dari kata orang sebagai newcommer, pengganggu, perusak dan lain sebagainya, siapapun punya kemungkinan untuk jadi yang kedua. Entah yang pertama masih disisi atau sudah tiada.

Baca Juga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?
Muharram, Momen Terbaik Menjadi Ibu Terbaik
Kecantikan Muslimah Sejati
Sebab-sebab Durhaka Istri kepada Suami
Anak Shalih dan Shalihah Takdir Allah, Kita Terus Berusaha

Akan tetapi, jadi yang kedua, sungguh persoalan dan jawabannya sebenarnya ada di dalam hati. Berkutat pada apa yang kita pikirkan sebagai persoalan, padahal jalan keluar dari soal tersebut sejatinya juga tergantung bagaimana kita membebaskan diri dari apa yang kita pikirkan dan bertindak yang terbaik.

Lalu apakah menjadi yang kedua berarti mengundang petaka? Pastinya, bila hal ini hanya menyengsarakan hamba-Nya, Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan pernah mengizinkan poligami (An-Nisa [4]:3) atau membolehkan seseorang yang telah berpisah dengan pasangan sebelumnya menikah kembali.

Tepas dari segala kelemahan hati, pelajaran yang saya peroleh pernikahan “si Mbak” sunguh membuka cakrawala baru. Di hari pernikahannya, sang calon suami datang bersama istri pertama dan anak-anaknya. Mulai dari akad terucap hingga resepsi bergulir menjelang senja, istri pertama dan anak-anaknya setia menemani. Semua hal mereka lakukan bersama. Makan bersama hingga bergurau dan menyambut tamu-tamu yang datang. Semua mata yang datang merekam peristiwa itu hingga sekarang dan terkadang masih diputar ulang dalam perbincangan.

Hari-hari si Mbak pun menjadi lebih sibuk. Tak hanya berkunjung ke sanak-saudara atau menghadiri kajian rutin saja, kini hari-hari di akhir pekannya pun penuh terisi dengan agenda bersama sang istri pertama dan keluarga besarnya. Saat ditanya, apakah beliau bahagia, si Mbak ini menjawab sumringah, “Sebenarnya lebih enak begini, kami jadi punya waktu lebih banyak mengerjakan sesuatu untuk ummat.”

Jawaban ini menghadapkan kita pada realitas bahwa mengurus rumahtangga memang menyita waktu. Mendidik anak-anak adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan dunia akhirat. Mencari nafkah untuk membiayai kebutuhan rumah tangga pun sangat berat. Jadi, akan lebih menyenangkan bila ada orang yang bersedia berbagi beban.

Seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam yang menyuruh seorang lelaki yang mengadukan nasibnya yang miskin untuk menikah lagi. Pernikahan kedua, laki-laki ini tetap miskin. Ia pun kembali datang pada Rasulullah dan mengadukan nasibnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam kembali menuruhnya menikah. Yakin bahwa Rasulullah tidak akan menipu ummatnya, iapun menikah untuk yang ketiga kalinya. Usai pernikahan yang ketiga, seiring waktu berjalan, nasibnya belum juga berubah. Ia tetap miskin. Ia pun kembali datang pada Rasulullah, jawaban yang diberikan padanya tetap  sama. Menikah lagi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Carilah rizqi dengan menikah!.” (Riwayat Ibnu Abbas)

Akhirnya lelaki inipun menikah lagi. Pernikahannya yang keempat ini dilangsungkan dengan seorang Muslimah yang pandai menjahit. Keahlian ini ditularkannya pada istri-istri yang lain.

Singkat kata, nasib perekonomian lelaki ini pun berubah. Ia menjadi seorang kaya dengan usaha menjahit baju yang dijalankannya bersama kempat istrinya.

Yang Lebih Baik

Jadi, inilah saatnya membebaskan pikiran dan bertindak tepat. Menjadi yang kedua atau yang seterusnya, tidaklah harus menjadi “penerus” apa yang sudah ada. Namun sebaliknya, menjadi yang kedua seharusnya memacu kita menjadi orang yang membawa perubahan yang lebih baik dalam kehidupan pasangan.

Buang jauh-jauh label yang sering ditempelkan masyarakat awam bahwa menjadi yang kedua berarti merusak keluarga orang. Justru yang harus dibuktikan adalah dengan pernikahan yang terjadi, rizqi menjadi lebih lancar, kesulitan yang sebelumnya kuat menghadang menjadi lebih mudah diatasi, dan membuat wajah pasangan menjadi lebih cerah dibandingkan sebelumnya.

Kehadiran kita sebagai yang kedua juga seharusnya menjadi pribadi yang menginspirasi bagi pasangan dan keluarga besar. Bukan sebaliknya menjadi sumber masalah baru bagi kehidupan pasangan dengan keluarga besarnya. Menjadi yang kedua menuntut kita untuk dapat berpikir lebih dewasa, berhati lapang, dan mengambil tindakan yang didasari keputusan yang tepat. Karena, posisi kita menuntut kita untuk menjadi sosok yang lebih cerdas bersikap dan bertindak.

Jadi yang kedua justru harus lebih pandai mengatur emosi dan bukan mengedepankan perasaan. Sehingga label yang kedua adalah si pembuat masalah, cengeng, dan cari perhatian dapat ditolak mentah-mentah. Masyarakat juga dapat belajar bahwa pernikahan kedua yang dipilih oleh pasangan kita justru adalah jalan yang terhormat dan menambah kebahagiaan.

Jangan sungkan untuk belajar dari dia yang pertama untuk menjadi orang yang dicintai pasangan karena belajar sejatinya bukan untuk menjadi pengekor tetapi lebih untuk membentuk karakter yang lebih baik pada diri kita. Sambungkanlah silaturahmi dengan keluarga besar, juga masyarakat. Bukalah diri sehingga siapapun dapat belajar bahwa menjadi yang kedua dan poligami bukanlah hal yang buruk. Buktikanlah bahwa menjadi yang kedua justru membuat kita lebih terhormat dan memang tepat untuk dicintai. */Kartika Ummu Arina

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:menikahpasanganpernikahanpoligami
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pluralisme Agama adalah Pemaksaan Terhadap Agama Itu Sendiri
Tulisan selanjutnya facebook menyensor konten palestina Indonesia Dinilai Indonesia Rugi Ratusan Miliar Tak Raih Dana dari Facebook

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Berita
14 Juli 2026 14:52
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

5 Tips Mendidik Anak agar Cinta Ramadhan
Jendela Keluarga

Sudahkah Anak Kita Diajarkan Akidah?

3 Desember 2022 20:55
Jendela Keluarga

Menjadi Ayah yang “Mesra” dengan Anak

26 November 2022 07:10
Jendela Keluarga

Akhlak Muslimah, Lembutlah dalam Bicara

8 November 2022 21:45
Jendela Keluarga

Hakikat Wanita Shalihah

4 November 2022 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?