Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
None

Sabda Raja, Eksistensi Panatagama dan Nasib Gelar Khalifatullah [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Mei 2015 18:29 6:29 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Mei 2015 19:20
Bagikan
Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengkubuwono X telah mengeluarkan Sabda Raja
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Susiyanto, M.Ag

Perjanjian Pamanahan-Giring

SEBAGIAN kalangan yang menilai bahwa kemunculan Sabda Raja ini membuka peluang bagi perempuan untuk bertahta. Padahal kelima anak sultan semuanya perempuan. Tidak heran jika kemudian berkembang isu bahwa Sabda Tama ini hakikatnya merupakan ketetapan agar kekuasaan tetap berada di tangan jalur keturunan sultan, meski dengan konsekuensi menetapkan anak perempuannya sebagai sulthanah. Isu inilah yang nampaknya telah membuat kalangan kraton Yogyakarta terbelah. Sebagian kalangan berpendapat, jika raja tidak memiliki anak lelaki yang bisa diangkat sebagai putra mahkota, maka kekuasaan mestinya diserahkan kepada adik lelaki atau kerabat terdekat lainnya.

Berdasarkan Dhawuh Dhalem No. 1/ DD/ HBX/ Ehe-1932 di atas, mestinya kepemimpinan Keraton Yogyakarta dipegang oleh seorang lelaki. Demikian juga terdapat sejumlah simpul budaya yang menegaskan bahwa tahta mestinya dipegang seorang lelaki. Isu krusial lain yang mengemuka dalam Sabda Raja tersebut berkaitan dengan perjanjian pendiri Mataram antara Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring. Janji ini berkaitan dengan keturunan dari kedua belah pihak yaitu keturunan lelaki Ki Ageng Pamanahan sebagai raja. Sedangkan putri-putri keturunan Ki Ageng Giring bertindak sebagai permaisuri yang mendampingi (ngembani) sang raja. Para permisuri dari trah Ki Ageng Giring inilah yang nampaknya mendasari lahirnya mitos Nyai Rara Kidul, penguasa Laut Selatan yang menikah dengan raja-raja Dinasti Mataram. Terlihat pada bagian ini bahwa ketetapan awal Mataram menunjukkan bahwa raja mestinya berasal dari pihak lelaki, bukan perempuan.

Baca Juga

Cegah Anak Obesitas, Inggris Larang Makanan Manis dan Gorengan di Sekolah
Iran Hujani Israel dengan Rudal Usai Trump Klaim Kemampuannya Melemah
200 Tentara AS Terluka, Iran Nyatakan Siap Perang Panjang
Jerman Penjarakan Seorang Pria Libanon Anggota Hizbullah
Kurma Israel Beredar di Eropa dengan Label Palsu

Selain itu, kekuasan di kerajaan Yogyakarta sering juga disimbolkan dengan keberadaan dua pusaka kraton yaitu Kyai Ageng Jaka Piturun dan Kyai Ageng Kopek. Kyai Ageng Jaka Piturun melambangkan kekuasaan raja beserta keturunannya. Pusaka ini biasanya diberikan oleh raja kepada salah seorang anak lelakinya yang ditahbiskan sebagai putra mahkota. Setelah menjadi seorang raja pengganti, pusaka ini tetap akan ia pegang dan pada giliran selanjutnya ia wariskan kepada putra mahkota berikutnya. Makna dari kata “jaka” (jejaka) di sini menunjuk pada jenis kelamin lelaki, bukan perempuan.

Sementara itu Kyai Ageng Kopek berfungsi untuk “ngembani” (mendampingi) Kyai Ageng Jaka Piturun. Kyai Ageng Kopek sendiri merupakan perlambang permaisuri yang menjadi pendamping raja dalam menjalankan kekuasaannya. Pusaka ini biasanya dipegang oleh istri raja yang diangkat sebagai permaisuri. Kata “kopek” sendiri memiliki makna yang sama dengan “payudara” yang dengan sendirinya menunjuk pada organ tubuh vital perempuan. Dari perlambang berupa pusaka ini mestinya bisa disimpulkan bahwa sultan mestinya adalah seorang lelaki. Sesuai perlambang tersebut, Kyai Ageng Jaka Piturun sebagai simbol “wahyu keraton”, berdasarkan tradisi, tidak semestinya diserahkan kepada pihak keturunan perempuan. Tentu saja ini bukan dimaksudkan sebagai bentuk diskriminasi.

Persoalan utama yang banyak disoroti juga terletak pada aturan bahwa tahta raja mestinya “cundhuk klawan paugeran keraton” (tunduk kepada aturan kraton). Banyak pihak menilai bahwa berdasar adat istiadat masa lampau bisa disimpulkan bahwa raja harus seorang pria. Jika raja tidak memiliki anak lelaki, maka tahta mestinya jatuh kepada adik lelaki atau kerabat lain yang lebih dekat. Kasus serupa sebenarnya pernah terjadi pada masa sebelumnya.

Sri Sultan HB V mengangkat adiknya yang bernama KGPA Mangkubumi sebagai raja pengganti (HB VI) karena ia sendiri tidak memiliki anak lelaki sebagai pelanjut tahta. Yogyakarta sendiri mengalami keanehan siklus kepemimpinan pasca HB III. Setelah HB III selesai berkuasa sempat diselingi dengan bertahta kembalinya Sri Sultan HB II dan baru setelah itu dilanjutkan oleh HB IV. HB II sempat dilengserkan karena dibuang oleh Belanda ke Ambon.

Anehnya, pasca HB IV meninggal, HB II kembali berkuasa sebagai HB III sampai meninggal. Baru kemudian dilanjutkan oleh HB V dan seterusnya.

Raja Yogyakarta terakhir yakni Sri Sultan HB X alias KGPH Herjuna Darpita sebenarnya merupakan raja yang ditahbiskan setelah para putra Sri Sultan HB IX mengadakan musyawarah. Pembicaraan ini diperlukan untuk menghindari silang sengketa dikemudian hari. Sebab selain Pangeran Herjuna Darpita, masih ada putra raja IX lainnya yang memiliki hak untuk bertahta diantaranya KGPH Hadikusuma. Atas pertimbangan inilah banyak pihak di kalangan keraton menyayangkan sikap sultan yang tidak mau membuka dialog terlebih dahulu sebelum mengeluarkan kebijakan yang bisa mengarah pada suksesi kepemimpinan.

Nampaknya Sri Sultan masih berpegang pada pendiriannya bahwa penentuan raja pengganti adalah hak prerogatif dirinya. Tidak mengherankan jika kemudian terjadi tarik ulur antara kubu Sultan dengan kubu para putra HB IX. Sultan sendiri mendapatkan dukungan dari permaisuri (GKR Hemas), kelima orang putrinya, dan sejumlah pengusaha di lingkungan Keraton Yogyakarta. Sementara kubu putra HB IX hanya terdiri dari 11 orang saja dan menyebut kelompoknya sebagai “Dewan Istana”. (Panjebar Semangat, No. 19/ 9 Mei 2015).

Di sinilah kedua belah pihak diharapkan bertindak lebih bijak. Sultan bisa mengakomodasi pendapat-pendapat pihak keraton lainnya.

Harapannya, Sri Sultan tetap bersedia mengaca pada sejarah Dinasti Mataram yang selalu memihak pada kepentingan Islam dan berlepas dari keinginan personal yang bersifat pragmatis. Juga agar beliau tetap bisa menjalankan tanggung jawab sebagai pengemban amanah “Sayidin Panatagama” dari para pendahulunya.

Dengan demikian bukan hanya logika “sabda brahmana raja tan kena wola-wali” saja yang mengemuka, namun peribahasa Melayu “raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah” rasanya cukup relevan menjadi bahan pertimbangan di masa kini.

Demikian juga pihak “Dewan Istana” mudah-mudahan tetap dalam niat yang tulus dan jauh dari kepentingan pribadi sesuai dengan spirit Panembahan Senopati yaitu “amemangun karyenak tyasing sesami” seperti termaktub dalam Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV yakni menjadi bagian dari usaha untuk menyenangkan hati sesama.*

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Turki Terbitkan Al-Qur`an Terjemahan Bahasa Armenia
Tulisan selanjutnya Dewan Pers Turki Kecam Pemberitaan Koran Pemerintah Soal Pembunuhan Putri Erdogan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang

Berita
5 Juni 2026 21:50
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaNone

Video: Pria Disabilitas di Nepal Viral Menjaga Masjid dari Serangan Kelompok Radikal

11 Februari 2026 05:26
None

“Kemunafikan Barat Terbongkar”: Celah Hukum Pernikahan Anak di AS Disorot Aktivis HAM

2 Februari 2026 19:30
None

Tolak Gabung ‘Dewan Perdamaian’, Jerman: Penyimpangan Sistem Internasional

23 Januari 2026 09:30
None

AS Kerahkan Kapal Induk ke Dekat Iran, Trump: Untuk Berjaga-Jaga

23 Januari 2026 09:08
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?