Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Inggris: Imigran yang Diselamatkan dari Mediterania Harus Dipulangkan ke Negara Asal

Ama Farah
Terakhir diupdate: 14 Mei 2015 18:10 6:10 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 14 Mei 2015 18:09
Bagikan
Salah satu kapal migran gelap Afrika menuju Eropa oleng di tengah laut.
Bagikan

Hidayatullah.com—Para migran bermotif ekonomi yang diselamatkan dari Laut Mediterania saat berusaha menuju Eropa harus dipulangkan kembali ke negara asalnya, demikian kata Menteri Dalam Negeri Inggris Theresa May.

Menawarkan pemindahan ke tempat lain tanpa memperhatikan situasinya hanya akan mendorong lebih banyak lagi orang menempuh perjalanan berbahaya itu, kata wanita pejabat tinggi pemerintah Inggris tersebut seperti dikutip BBC Rabu (13/5/2015).

Itu mengapa Inggris tidak mendukung rencana kuota penempatan para migran yang diajukan Komisi Eropa, imbuhnya.

Hari Rabu kemarin, sebuah kapal perang Inggris menyelamatkan sekitar 450 orang dari Laut Tengah.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan sudah 60.000 orang yang berusaha menyeberangi Laut Tengah dari Afrika menuju Eropa tahun ini saja.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Lebih dari 1.800 orang tewas dalam upaya itu, atau 20 kali lebih banyak dibanding periode yang sama tahun 2014.

Prancis, Jerman, Italia dan sebagian negara anggota Uni Eropa mendukung proposal penetapan kuota migran yang harus diterima masing-masing negara. Namun, untuk bisa diterapkan maka usulan itu harus didukung oleh mayoritas anggota UE.

Inggris sudah menyatakan secara terbuka menolak proposal itu.

Dalam tulisannya yang dimuat Times, Theresa May menulis, “Situasi saat ini di Mediterania sudah tidak dapat ditoleransi lagi.”

“Gang-gang [penyelundup] mengambil keuntungan dari kesengsaraan temannya semasa manusia, menawarkan mereka janji manis palsu sebelum memuat mereka ke atas kapal-kapal maut lalu mengirim mereka –dalam banyak kasus– menemui ajalnya,” kata May.

“Ini bukanlah masalah baru dan terus meningkat. Masalah ini menuntut perhatian yang sungguh-sungguh dari negara-negara Eropa.”

Dia menambahkan, “Kita tidak bisa melakukan hal-hal yang justru mendorong lebih banyak orang untuk menempuh perjalanan penuh bahaya itu, atau membuatnya semakin mudah bagi gang-gang yang bertanggungjawab atas penderitaan mereka.”

“Oleh karena itulah Inggris tidak akan berpartisipasi dalam sebuah sistem yang mengharuskan resettlement atau relokasi.”

Menurut May perlu dibedakan antara orang-orang yang melarikan diri dari negaranya untuk menyelamatkan nyawanya dengan para migran bermotif ekonomi yang menyeberang Laut Mediterania dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

“Kita tidak boleh memberikan insentif baru bagi mereka yang berusaha datang [ke Eropa] hanya karena motif ekonomi,” kata May.

Lebih lanjut May mengatakan, seharusnya Uni Eropa membuat sebuah tempat pendaratan atau berlabuh bagi para migran di Afrika Utara, yang didukung dengan program pemulangan kembali mereka ke negara asalnya.

May menegaskan ketidaksetujuannya dengan pendapat pejabat Perwakilan Tinggi Uni Eropa Federica Mogherini yang mengatakan bahwa “tidak seorang pun migran” yang dicegat di tengah laut harus dipulangkan kembali secara paksa.

Pendekatan semacam itu hanya akan menaikkan faktor penarik bagi orang-orang untuk menyeberang Laut Tengah dan mempertaruhkan nyawanya, kata May.

Dalam program acara Today di BBC Radio 4 May mengatakan bahwa kebanyakan migran yang menyeberangi Laut Tengah bukanlah pengungsi, melainkan migran dari berbagai tempat seperti Nigeria, Eritrea dan Somalia.

Inggris, kata May, telah membantu para pengungsi Suriah dengan mendonasikan 800 juta pound, sehingga menjadikan negaranya sebagai pemberi bantuan bilateral terbesar kedua untuk Suriah.

Sementara itu menurut Sandro Gozi, seorang anggota parlemen Italia yang juga menjabat sebagai wakil menteri untuk urusan Eropa, dalam program acara yang sama mengatakan bahwa negara-negara anggota Uni Eropa perlu berbagi tanggungjawab dalam menangani krisis di Laut Tengah itu.

Meskipun demikian, Gozi menyatakan apresiasinya kepada Inggris atas upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah London terkait masalah di Laut Tengah, dan Inggris menurutnya berhak menentukan sendiri sikapnya apakah ingin berpartisipasi dalam sistem yang dibangun UE atau tidak, dengan menanggung konsekuensinya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Inggris Menolak Rencana Penetapan Kuota Migran Uni Eropa
Tulisan selanjutnya Situs INSISTS Dihack, Peretas Klaim dari Global Security International

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?