Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Hijab Syar’i Style: Oase atau Fatamorgana? [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Mei 2015 10:51 10:51 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Mei 2015 10:49
Bagikan
Di satu sisi hijab-hijab berharga tinggi ini menjadi salah satu jalan untuk perempuan kelas atas menggunakan hijab. Di sisi lain harga hijab tinggi tengah menguatkan pengaruh gaya hidup boros di kalangan Muslimah (ilustrasi)
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Linda Langitshabrina

SALAH satu sisi lain munculnya tren hijabers, adalah kriteria hijab mulai terabaikan, yaitu bukan pakaian syuhrah atau pakaian kebanggaan. Padahal hadits mengatakan;

“Siapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia, maka Allah akan memberinya pakaian hina pada hari kiamat.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan An Nasai dalam Sunan Al Kubra).

Penilaian tentang pakaian kebanggaan ini tentu sangat personal.  Memang, orang yang memamerkan pakaian belum tentu berarti sedang membanggakan pakaian tersebut. Sebab kebanggaan adalah sesuatu yang bersifat abstrak dalam hati.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Boleh jadi, orang yang tidak memamerkan pakaiannya pun sedang bangga dengan pakaiannya justru karena dirinya tidak memamerkan pakaian tersebut. Namun, sebagai Muslimah yang mencari keutamaan dalam menutup aurat, menghindari pamer pakaian di media sosial tentu lebih utama untuk menjaga diri dan hati.

Pada waktu yang sama, artis-artis seperti Lira Virna, Peggy Melati Sukma, atau Oki Setiana Dewi tampil di depan publik dengan hijab syar’i yang gamis dan jilbabnya senada –bahan dan warnanya. Pasar langsung menangkap peluang komoditas hijab baru.

Model-model hijab gaya artis-artis ini mulai marak dengan jenis bahan yang berharga mahal sampai dengan berharga murah. Kembali, Muslimah dihadapkan pada citra-citra lama dengan bentuk yang baru. Seperti yang disebutkan pada beberapa bab sebelumnya, yang penting dalam mitos adalah pesannya bukan bentuknya.

Citra perempuan kelas atas pada hijab syar’i yang mirip dengan pakaian para artis menjadi mitos lama yang muncul dengan bentuk baru. Citra keshalihan ala perempuan kelas atas muncul dalam pakaian jenis ini.

Citra ini dipelihara dengan baik oleh produsen hijab syar’i ala artis. Hijab yang dirancang satu set berbahan jersey kualitas rendah pun beredar di pasaran. Gamis lebar tapi membentuk atau mencetak pada bagian tangan, paha, pantat, dan dada mulai marak digunakan Muslimah. Bagian kerudungnya lebar sampai menutup pantat tapi tidak menutup bentuk payudara pada bagian dada karena bahannya menempel di badan. Kerudung instan yang lebar tersebut bukannya menutupi aurat melainkan justru mengekspos aurat.

Oleh sebab itu, hijab syar’i bukan hanya harus diperhatikan bentuknya tapi juga bahannya. Menggunakan pakaian yang serba lebar memang berisiko gerah. Produsen hijab menyiasatinya dengan memilih bahan jersey yang menyerap keringat. Namun, ternyata pemilihan bahan ini justru melanggar aturan hijab. Rasa gerah ini adalah konsekuensi logis berhijab di negara beriklim tropis.

Sebagai wacana yang menggunakan aturan keagamaan, hijab style dan hijab syar’i berkembang di tataran nilai maupun produk.

Kekuatan hijab style yang telah menjadi mitos di kalangan Muslimah merupakan bagian yang tidak tersentuh oleh aktivis hijab syar’i yang terjun dalam pasar fashion ini. Mayoritas produsen hijab syar’i menghadirkan hijab-hijab lebar yang bentuknya mirip dengan hijab style. Penawaran yang digunakan untuk memasarkan produk-produk ini tetap tidak jauh berbeda dengan mitos hijab style yaitu cantik syar’i atau stylish nan syar’i.

Dua nilai ini jelas masih menguatkan mitos hijab style sebagai pemenuhan hasrat kecantikan dan hijab style sebagai mitos modernitas. Istilah hijab seolah sudah tidak mengakomodasi syariat yang diperintahkan Islam dalam berpakaian bagi perempuan. Ia harus diembeli kata style atau syar’i sebagai diferensiasi. Muslimah kembali tertipu dan menjadi korban gaya hidup konsumerisme yang disuntikkan pasar. Kekusaan pasar membuat hijab syar’i yang semula diharap-harap menjadi sebuah oase berubah menjadi fatamorgana. Hijab sebagai identitas ideologis kini hanya menjadi identitas berpakaian yang amat permukaan.*

Linda Langitshabrina, tertarik pada wacana hijab dan budaya populer di Indonesia. Twitter: @langitshabrina

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:aurathijabjilbabMuslimah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Habib Rizieq Habib Rizieq: Presiden RI dan Menag Bertanggung Jawab Bacaan Quran Langgam Jawa
Tulisan selanjutnya Yahudi Ethiopia Protes Rasisme di Tel Aviv

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

Lentera Hidup
30 Juni 2026 10:26
Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris
Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”

Terbaru

  • Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
  • BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan
  • OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
  • DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji
  • Pemkot Bukittinggi Gandeng HDM Persempit Ruang Gerak LGBT dan Berantas Narkoba
  • UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
  • MUI dan BPJS Kesehatan Perkuat Sinergi Dakwah
  • Pemerintah, DPR, dan MUI Sambut Positif Wacana RUU Pidana LGBT
  • Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
  • Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?