Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
None

Islam Indonesia dalam Pandangan Barat

Ahmad
Terakhir diupdate: 19 Juni 2015 07:53 7:53 am
Ahmad
Dipublikasikan 19 Juni 2015 07:53
Bagikan
Untuk mewujudkan persatuan Islam, di antara umat Islam satu dengan yang lainnya tidak perlu merasa lebih baik
Bagikan

SEBAGAI negara dengan iklim tropis, Indonesia yang dulu dikenal dengan Nusantara memiliki daya tarik tersendiri bagi kaum Eropa yang kondisi alamnya sangat berbeda.

Secara ekonomi mereka membutuhkan natural resource yang lebih besar dan tentu dengan harsga sangat rendah. Oleh karena itu, satu alasan yang tidak banyak dikaji para ahli dalam negeri adalah alasan Belanda mati-matian menjajah Indonesia hingga 3,5 abad lamanya. Apalagi kalau bukan produk pertanian berupa rempah-rempah dan sumber daya alam.

Raghib As-Sirjani dalam bukunya Mustarak Insan menjelaskan bahwa Barat (Eropa) mendatangi negeri-negeri Muslim dengan satu alasan penting, yakni begitu besarnya khazanah dan kekayaan – khususnya minyak bumi – Dunia Islam yang merupakan sumber energi dan bahan baku terpenting yang dibutuhkan oleh industri Dunia Barat.

“Selama kebutuhan Barat terhadap sumber-sumber kekayaan Dunia Islam sebagai salah satu elemen pokok kebangkitan Eropa dan Barat masih ada – dan kian bertambah, obsesi untuk menjamin ketersediaan – dan memonopoli sumber-sumber kekayaan ini, pasti selalu ada di dalam pikiran bangsa-bangsa Barat,” demikian tegas As-Sirjani.

Namun, dengan pengalaman sejarah yang memalukan, terutama saat perang Salib, Barat sangat sistematis dalam menjalankan misi-misi terselubungnya. Istilah-istilah humanis pun menjadi cara-cara mereka dalam propaganda nilai dan pandangan hidupnya. Sementara itu, dalam waktu bersamaan, istilah-istilah penting dalam Islam digambarkan secara buruk melalui media massa. Pada akhirnya, umat Islam terbelah dalam dua kutub berseberangan, dimana fakta tersebut, sesungguhnya sangat merugikan umat Islam sendiri.

Baca Juga

Cegah Anak Obesitas, Inggris Larang Makanan Manis dan Gorengan di Sekolah
Iran Hujani Israel dengan Rudal Usai Trump Klaim Kemampuannya Melemah
200 Tentara AS Terluka, Iran Nyatakan Siap Perang Panjang
Jerman Penjarakan Seorang Pria Libanon Anggota Hizbullah
Kurma Israel Beredar di Eropa dengan Label Palsu

Sebagai bukti, dahulu Belanda dengan kekuatan militernya menerapkan politik tanam paksa di Indonesia. Pertanyaannya adalah mengapa politik tanam paksa ini diberlakukan? Ada banyak jawaban, tapi satu hal yang perlu kita sadari, Indonesia adalah negeri subur yang jika sektor pertaniannya digenjot dengan serius, bukan mustahil Belanda akan menjadi pemasok kebutuhan pangan Eropa bahkan dunia. Terbukti, dalam beberapa uraian sejarah, penerapan politik tanam paksa kala itu menyelamatkan Belanda dari defisit anggaran.

Sekarang, bangsa Indonesia mengalami krisis identitas, hingga sangat inferior. Bisa dibayangkan, sekarang hampir sulit kita menemukan anak-anak Indonesia yang bercita-cita atau bangga ingin menjadi petani. Tidak mengherankan jika produksi pertanian termarginalkan dan sampai pada beras dan kedelai pun, negeri ini memiliki ketergantungan tinggi pada impor.

Jadi, ada cara pandang yang salah dalam menentukan arah pembangunan negeri ini. Eropa memang berhasil membangun industri, tetapi mereka tetap butuh makan bukan?

Mengapa Indonesia latah ingin menjadi negara industri, sementara lahan untuk memasok kebutuhan pangan dunia tersedia begitu luasnya. Bukankah orang setiap hari lebih butuh makan dibanding butuh produk industri?

Kemudian, dari sisi sumber daya alam Indonesia sangat kaya luar biasa. Tetapi, kekayaan sumber daya alam itu belum maksimal dalam membangun negeri ini. Bahkan, alam dimana sumber daya alam itu bersemayam telah merana akibat abainya pemerintah terhadap kondisi alam. Banyak danau-danau tidak diharapkan berserakan di hampir seluas areal pertambangan. Yang lebih ironi, penduduk sekitar hanya menjadi penonton dan tidak mendapat manfaat memadai dari kekayaan alam dimana mereka tinggal di dekat lokasi. Justru mereka terancam secara kesehatan dan keseimbangan alam.

Kemudian, dari sisi pemikiran umat Islam diserang dengan liberalisasi pemikiran Islam. Barat menitikberatkan pada adanya kebebasan individu secara tidak terbatas, terutama pada bidang politik dan ekonomi.

Hamid Fahmi Zarkasyi dalam bukunya Liberalisasi Pemikiran Islam menulis, “Sejak tahun 1900-an, politik dan ekonomi liberal memiliki hubungan yang sangat erat. Gagasan ekonomi liberal didasarkan pada sebuah pandangan bahwa setiap individu harus diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan ekonominya tanpa ada campur tangan dari negara. Kaum liberal percaya, bahwa ekonimi akan melakukan regulasi sendiri (the invisible hand). Atas dasar itu, campur tangan negara tidak diperlukan lagi. Gagasan semacam ini diadopsi dari pemikiran-pemikiran Adam Smith dan menjadi landasan sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan di dunia saat ini.”

Dan, dalam praktik kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, gagasan politik dan ekonomi liberal itu sudah benar-benar nyata. Sebagai bukti, setiap menjelang Ramadhan, harga kebutuhan pokok tiba-tiba melonjak.

Pertanyaannya, saat Ramadhan siapakah yang paling diuntungkan secara ekonomi? Kemudian, belakangan muncul banyak statement akrobatik para pejabat publik soal bagaimana umat Islam memandang orang yang tidak berpuasa dan lain sebagainya.

Harus disadari, ini adalah wujud nyata dari gagasan liberalisasi pemikiran dalam wujud paling strategis yakni politik dan ekonomi, yang sejatinya telah lama dilakukan Belanda di negeri ini. Dan, kini Indoensia harus menjadi ‘santapan’ konglomerat yang memiliki satu ideologi, yakni uang dan uang. Jadi wajar jika segala instrumen yang memungkinkan negeri ini menjadi bersih dan lebih baik akan segera dikeroyok untuk dilemahkan dan dimandulkan.

Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk sadar dan bergerak untuk bangkit. Barat dengan pemikirannya tidak benar-benar berubah. Humanity, kebebasan dan kesetaraan bagi mereka adalah alat mengusung keuntungan bagi kepentingannya sendiri. Termasuk isu terorisme, isu ini benar-benar tidak mendatangkan apapun bagi negeri kita selain kegaduhan yang sangat berpotensi menciptakan perpecahan.

Dan, sebagaimana Buya Hamka tegaskan dalam bukunya Falsafah Hidup, dimana setiap pemuda harus menyadarinya adalah bahwa penjajah tidak pernah mengambil apapun dari negeri ini, termasuk warisan budaya dan ilmu, melainkan untuk kepentingan mereka sendiri. Bukan untuk kita bangsa Indonesia, apalgi umat Islam. Demikianlah Barat dalam melihat dan memperlakukan Indonesia. Wallahu a’lam.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:baratindonesiaislamIslam Indonesia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Selama Ramadhan, PPSM Ulil Albaab Bogor Laksanakan Shalat Tahajjud Jam 02 Dini Hari
Tulisan selanjutnya 1,5 Juta Orang Awali Ramadhan di Masjidil Haram dan Nabawi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaNone

Video: Pria Disabilitas di Nepal Viral Menjaga Masjid dari Serangan Kelompok Radikal

11 Februari 2026 05:26
None

“Kemunafikan Barat Terbongkar”: Celah Hukum Pernikahan Anak di AS Disorot Aktivis HAM

2 Februari 2026 19:30
None

Tolak Gabung ‘Dewan Perdamaian’, Jerman: Penyimpangan Sistem Internasional

23 Januari 2026 09:30
None

AS Kerahkan Kapal Induk ke Dekat Iran, Trump: Untuk Berjaga-Jaga

23 Januari 2026 09:08
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?