Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Para Pembonceng di Tanah Rencong

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 22 Juni 2015 09:52 9:52 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 22 Juni 2015 09:52
Bagikan
Pengungsi Bangladesh melihat-lihat sepeda motor milik para pengunjung pengungsian Kuala Langsa
Bagikan

SEPASANG roda berputar melindas jalanan beraspal. Di atas tumpuan sepeda motor itu, sang pengemudi membawa santai kendaraannya. Sesekali ia berbicara dengan penumpang di jok belakang. Di situ, saya duduk manis mendengarkan suaranya yang kadang samar terbawa angin.

Pembicaraan santai kami seputar kondisi warga etnis Rohingya di pengungsian Kuala Langsa. Saat itu, usai dua hari meliput di sini, saya butuh suasana yang lebih tenang untuk menuliskan laporan.

Sebenarnya, di pengungsian ada sebuah warung yang biasa kutempati numpang ngantor. Namun kurang kondusif, pengunjungnya terlalu ramai. Pernah ada Kejadian yang Mengecewakan Pengungsi di Warung Ana. Lagipula, jaringan internet di pinggiran laut itu buruk. Padahal, masih kepengen menginap di Kuala Langsa.

Sore di Senin terakhir Mei 2015 itu. Kutinggalkan barak-barak pengungsi dengan berjalan kaki agak tertatih. Selain memang sudah letih, barang bawaanku juga cukup menambah beban; tas kamera pinggang, tas ransel berisi laptop dan pakaian, serta tripod.

Jarak dari barak ke pintu gerbang Pelabuhan Kuala Langsa 150 meter lebih. Sebagian jalannya masih tanah, berdebu jika dilewati kendaraan. Tapi saat itu saya malah berharap ada kendaraan yang melewatinya. Bukan mau terhirup debu, tapi karena ingin menumpang.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Tak Usah Bayar…

Kuala Langsa berbeda dengan pelabuhan di kota-kota lain. Tak ada angkutan umum yang khusus melayani rute dari dan ke pelabuhan ini. Kawasan sejauh sekitar 5 kilometer dari perkotaan ini seakan tak menjanjikan pebisnis transportasi. Supir-supir taxi, angkot, atau tukang ojek memburu penumpang adalah pemandangan yang tak pernah kujumpai di sini.

Tapi saya tetap harus meninggalkan pengungsian untuk sementara. Langkah kaki pun kuseret menuju gerbang pelabuhan. Sambil sesekali menengok ke belakang, siapa tahu ada kendaraan yang lewat.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Belum lama berjalan, di belakangku tampak sebuah sepeda motor mendekat. Pengemudinya seorang pria berwajah oval. Di bagian depan kepalanya tergantung kacamata hitam.

Tanpa ragu, kuhadang sepeda motor buatan Jepang itu dengan tangan kanan. Pengemudinya mengerem.

“Maaf, Bang, bisa numpang nggak?” todongku sesopan mungkin. Ia sejenak memperhatikanku; sesosok asing yang berpenampilan agak lusuh setelah seharian tak mandi.

“Kamu mau ke mana?” tanyanya ramah. Dari senyumnya, pria itu tampaknya baik. Benar saja. Tak perlu bercakap lama, ia sudah mempersilahkanku naik ke boncengan motornya.

Dalam perjalanan meninggalkan Kuala Langsa, kami banyak berbagi cerita. Ia mengaku bernama Ahdan Lubis, relawan sebuah lembaga zakat di pengungsian. Tenda tempatnya bertugas dekat dengan barak pengungsi Bangladesh. Tak heran jika ia sering mengelu-elukan pendatang gelap tersebut.

“Orang Bangladesh sering dibilang banyak yang Buddha, padahal mereka tuh kebanyakan Islam,” ujar Ahdan.

Warga Langsa ini hendak pulang ke rumahnya. Sementara saya ke penginapan. Kedua tempat itu sama-sama di perkotaan, namun berbeda rute. Meski begitu, ia tetap berkenan mengantarku sampai tujuan.

“Tak usah bayar,” ujarnya, “(cukup) uang rokoklah.”

Padahal saya pun siap membayarnya lebih dari itu. Begitu sampai, kuucapkan terima kasih padanya sambil memberikan uang Rp 20 ribu. Senyumnya mengembang.

“Lain kali kalau ada perlu kontak aja saya,” ujarnya setelah kami bertukar nomor HP. Aceh memang baik, batinku, lalu menyeret langkah ke sebuah bangunan bertingkat.

Suara Roy

Sepasang roda berputar melindas jalanan beraspal. Di atas tumpuan sepeda motor itu, sang pengemudi, Roy, 32 tahun, membawa kendaraannya sambil berkomentar.

Rabu (27/05/2015) itu adalah kali ketiga kutumpangi kendaraan pribadi. Usai liputan seharian di Kuala Langsa, saya memang harus kembali lagi ke penginapan. Mirip cerita dua hari sebelumnya, sore itu saya berdiri di pinggir jalan kawasan pengungsian, menunggu kendaraan apapun yang bisa ditebeng.

Datanglah sepeda motor Honda milik Roy, yang tentu belum kukenal sebelumnya. Begitu mendekat ke arahku, langsung kucegat dengan lambaian tangan.

“Mau ke mana?” tanyanya. Seperti kemarin lusa, kujelaskan arah tujuanku. Sebuah penginapan di Jalan Ahmad Yani, tak jauh dari Masjid Raya Darul Falah dan alun-alun kota Langsa.

“Saya tinggal dekat Polres,” ujarnya lalu mempersilahkanku menumpang.

Dalam perjalanan sekitar 15 menit menembus senja, saya memperkenalkan diri, seperti yang kulakukan kepada Ahdan. Mungkin karena tahu jika saya seorang pewarta, Roy pun menyuarakan aspirasinya soal pengungsi.

Menurut pria berkeluarga ini, warga etnis Rohingya mestinya diberi tempat khusus untuk hidup lebih baik. “Di sini, kan, banyak tempat-tempat kosong. Kasih mereka kerjaan macam berkebun,” ujar pria asli Aceh ini.

Tiba di penginapan, saya berterima kasih atas kebaikan Roy mengantarku. Sebelum mengucapkan salam, kuselipkan uang Rp 15 ribu ke telapak tangannya.

Seketika ia menolak. “Tak usah, tak usah,” ujarnya lantas mengembalikan uang tadi ke tanganku. Saya bersikukuh membalas jasanya. Ia keukeuh menolaknya.

“Saya ikhlas kok,” dalihnya dengan nada yang terdengar penuh ketulusan. Saya mengalah dan membiarkannya berlalu dengan “tangan kosong”. Orang Aceh memang baik, batinku, sambil menyeberang jalan menuju penginapan.

Sebelumnya, Rabu pagi itu, saya juga nebeng saat dari penginapan ke Kuala Langsa. Yang kutumpangi mobil rombongan IHH. Lembaga kemanusiaan asal Turki yang berpartner dengan sebuah lembaga zakat nasional ini membawa banyak kendaraan.

Kendaraan rombongan IHH di Kuala Langsa. [Foto: Syakur]
Kendaraan rombongan IHH di Kuala Langsa. [Foto: Syakur]
Menumpang gratis memang enak, cuma kadang beresiko. Dalam perjalanan ke Kuala Langsa, rupanya mobil yang kutumpangi singgah cukup lama di toko, membeli berbagai sembako untuk disumbangkan ke pengungsi.

Akibatnya, saya tiba di pengungsian jelang siang, terlambat beberapa jam dari agenda awal. Syukurnya agenda itu adalah meliput kegiatan penyerahan bantuan dari IHH. Meski tak rugi dalam hal ini, tapi saya mesti legowo membatalkan agenda ke Lhokseumawe. Gara-gara nebeng. Yah, namanya gratisan.*/ Bersambung

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AcehLangsapengungsiRohingya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kehinaan Bagi Pelaku Maksiat di Bulan Ramadhan
Tulisan selanjutnya Bicara Soal Toleransi Dalam RUU PUB, Pemerintah Harus Jelaskan Hak Umat Beragama

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Berita
28 Mei 2026 19:41
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?