Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Pembukaan dan Kuliah Perdana Pesantren Tinggi Al Ghazaly

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Agustus 2015 08:34 8:34 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Agustus 2015 08:34
Bagikan
Kuliah perdana dibuka oleh Dr. Adian Husaini, Ketua Dewan Pembina Ma`had `Aly Imam Al Ghazaly
Bagikan

Hidayatullah.com–Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) Solo dan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta, hari Sabtu 15 Agustus 2015, melakukan Pembukaan dan Kuliah Perdana Ma`had Aly Imam Al Ghazaly, dengan tema “Menemukan Jati Diri Pendidikan Islam”, di Jetak Wonorejo, Kota Solo.

Dalam sambutannya Arif Wibowo, M.P.I selaku direktur PSPI dan Ma`had Aly Imam Al Ghazali menyatakan akan pentingnya peran lembaga pendidikan yang mencetak guru-guru unggulan, yang menguasai berbagai permasalahan, sebagai dasar penggerak suatu peradaban, yang lebih utama dari sekedar kekuasaan.

“Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat fundamental dalam peradaban. Bukan untuk merebut kekuasaan, tapi merebut nalar dan hati, sehingga dapat melangkah dengan kesadaran,” terangnya.

Selain itu beliau juga menjelaskan bahwa kemunduran umat Islam, yang saat ini mendominasi, berawal dari aspek pendidikan, yang banyak disusupi pemikiran dan pandangan hidup yang salah, akibat invasi keilmuan di sekolah-sekolah oleh Orientalis, Zionis, misionaris dan lainnya, seperti dalam pelajaran sejarah Indonesia dari SD hingga SMA misalnya, yang mengkaburkan peran utama ulama dan umat Islam dalam kemerdekaan Indonesia.

Kuliah perdana dibuka oleh Dr. Adian Husaini, Ketua Dewan Pembina Ma`had `Aly Imam Al Ghazaly.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Dalam pembukaannya, pria yang dikenal rajin menulis buku dan artikel di mesia massa ini  menjelaskan bahwa pendidikan umum saat ini telah kalah saing dengan sekolah-sekolah Islam, khususnya yang banyak didapati di kota-kota besar, adanya sekolah-sekolah Islam dengan berbagai keunggulan, penguasaan dan hasil yang memuaskan, sehingga menjadi pilihan dan kepercayaan umat Islam.

“Menanamkan keimanan, adab, akhlak yang baik dan berbagai keilmuan serta keterampilan. Semua itu membutuhkan guru-guru yang berkualitas, yang hingga saat ini masih sangat kekurangan dan menjadi permasalahan, “ ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, beliau menjelaskan akan tantangan yang terjadi, ketika lembaga pendidikan Islam sudah menjadi pilihan, yaitu adanya penyakit cinta dunia serta sistem dan kurikulum pendidikan yang sekuler.

Penyakit cinta dunia yang menghinggapi guru yaitu mengorientasikan ilmunya dengan materi, sehingga mengurangi kesungguhan, keprofesionalan, keteladanan dan keikhlasan.

“Guru itu mujahid, mengajar itu wajib. Kalau mengajar untuk mencari materi itu zalim, tapi yang mengajar dihargai rendah itu juga zalim,” jelas Adian Husaini.

“Ada mahasiswa yang sudah kuliah 4 tahun di perguruan tinggi Islam, disuruh ngajar tidak mau. Padahal dahulu, seangkatan Mu`allimin, ditempa 4 bulan, sudah turun untuk dakwah atau mengajar.”

Kedua, tantangan sistem dan kurikulum sekuler, yaitu mandulnya sistem pendidikan saat ini melahirkan para ahli-ahli dan guru-guru yang berkualitas.

Banyak lulusan-lulusan yang seharusnya punya potensi yang bagus, namun belum mendapatkan porsi ilmu fardu ain, dan tidak banyak yang kemudian diarahkan untuk menjadi ahli pada bidang keislaman.

“Di setiap tempat harus ada ahli tafsir, ahli hadis, ahli fikih, kristologi dan lainnya, jika tidak ada, maka seluruh orang di tempat itu akan berdosa” Terang beliau

Demikian juga yang memiliki ilmu kifayah, harus bisa menjadi penopang umat Islam. Mengembalikan tujuan dan konsep pendidikan di dalam Islam. Sebab tersebut jelas beliau, karena umat Islam terjebak dalam kurikulum sekuler.

Akibatnya muncul penyakit “Sekolahisme” yang memetakan pendidikan dari fisik sekolahnya, tanpa mengetahui proses pendidikan seperti apa yang diberikan kepada anak-anaknya. Padahal menurut beliau bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan mencari sekolah, sebab tidak semua sekolah, meskipun yang dianggap terkenal atau populer, dapat memenuhi kebutuhan ilmunya. Sehingga kulitas guru menjadi peran utama, tidak sekedar lembaganya.

“Seharusnya yang berhak memberikan ijazah adalah gurunya, yang paling tahu hasil atau output setiap anak, bukan dari gedung atau lembaga,” imbuhnya.

Adapula pemikiran dikotomi, yang masih memisahkan antara sistem pendidikan formal dan informal. Pendidikan dibatasi hanya dalam lingkup lembaga pendidikan, sementara pendidikan di dalam keluarga dan lingkungan diabaikan

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam mengajarkan para sahabat di mana saja, tidak ada formal dan informal, kurikuler dan ekstrakulikuler. Shalat malam, shalat berjamaah, ngaji, mencuci, dan setiap aktivitas kita sepanjang hari merupakan bagian dari belajar, tidak hanya yang berlangsung di lembaga pendidikan. Sepanjang waktu itu mencari dan menerapkan ilmu,” tegas beliau.

Pendidikan di sekolah memang penting, namun yang juga tak kalah penting tambah beliau adalah pendidikan oleh orang tua di dalam keluarga, yang seharusnya mendapat bagian lebih banyak. Tentang adab, sikap, hubungan, perasaan, tidak bisa diwakilkan selain dari orang tua kepada anak-anaknya, untuk kesuksesan dan kebahagian pada lingkup yang lebih besar.

Ma`had Aly Imam Ghazaly diharapkan akan menjadi contoh dan alternatif pesantren tinggi pertama di Indonesia, untuk mencetak guru-guru yang mampu menjadi teladan, profesional, mukhlish, berjiwa mujahid dakwah, berjiwa pemimpin, mampu hidup mandiri dan menguasai berbagai permasalahan. Dengan program setara S2 dan masa pendidikan 1 tahun.*/Galih

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:guruImam GhazalyMa`had Alymujahid dakwahpesantren tinggiteladan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bachtiar Nasir: 3 ‘Jimat’ Umar bin Khathab dan Jenderal Sudirman
Tulisan selanjutnya dana madrasah Membenahi (Guru) Madrasah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?