Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Membenahi (Guru) Madrasah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Agustus 2015 08:43 8:43 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Agustus 2015 08:41
Bagikan
dana madrasah
Siswa madrasah di perpustakaan/ilustrasi.
Bagikan

Oleh: Masykur

SEJARAH panjang perjalanan pendidikan bangsa Indonesia tak bisa lepas dari kiprah madrasah atau pesantren yang tersebar di sejumlah daerah. Jauh sebelum masa kemerdekaan bangsa Indonesia, para pelajar (santri) sudah berjuang bahu-membahu melawan penjajah.

Termasuk dalam mengisi era kemerdekaan ini, tak sedikit pejuang dan tokoh bangsa ini yang lahir dari latar belakang madarasah dahulu. Sebut saja, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Buya Hamka, dan sederet tokoh nasional lainnya.

Olehnya, wacana anggaran yang ditawarkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) tentang kebijakan pemerintah yang siap menggelontorkan Rp. 24 triliun untuk meningkatkan kualitas madrasah tentu saja layak diapresiasi oleh masyarakat.

Untuk diketahui, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Kamaruddin Amin mengaku telah menyiapkan rumusan bersifat sistematis yang tertuang dalam grand design untuk meningkatkan mutu madrasah. Hal ini seperti diakui Kamaruddin di Jakarta yang dimuat Harian Republika (Sabtu, 15/8/2015).

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Menurut Kamaruddin, rujukan grand design yang dimaksud melingkupi adanya tiga komponen besar dalam program penguatan kualitas mutu madrasah.

Pertama, peningkatan kompetensi terhadap lebih dari satu juta guru madarasah. Kedua, bantuan untuk lebih dari 45 ribu madarasah dalam memenuhi standar nasional pendidikan. Ketiga, rehabilitasi lebih dari 110 ribu ruang kelas dan yang membutuhkan fasilitas khusus. Sedianya dana tersebut, aku Kamaruddin, akan digunakan selam kurun waktu lima tahun ke depan.

Ibarat setitik oase di hamparan padang pasir, niat baik pemerintah dalam meningkatkan mutu madrasah, sekali lagi, layak mendapat dukungan penuh oleh masyarakat Indonesia.

Sebab boleh dikata, sekian lama masyarakat Indonesia hanya dijejali dengan berbagai carut-marut persoalan yang tak pernah habis di negeri ini. Mulai dari persoalan politik, ekonomi hingga masalah pendidikan. Terlebih persoalan madrasah yang bengkalai masalahnya tak kunjung tuntas diselesaikan.

Saat ini tak bisa dipungkiri, masih ada asumsi di tengah masyarakat Indonesia yang membedakan antara madrasah dan sekolah umum.

Seolah siswa yang belajar di sekolah umum memiliki “kasta” lebih tinggi daripada yang menuntut ilmu di madrasah atau di pesantren. Padahal sesungguhnya tak ada yang membedakan keduanya. Bahkan sejarah mencatat, bahwasanya kiprah madrasah dalam pengabdian masyarakat sudah ada sejak dahulu.

Natsir seperti ditulis oleh Adian Husaini dalam bukunya, Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab (Cakrawala Publishing, Jakarta: 2012), pernah menyampaikan gagasannya tentang pendidikan. M. Natsir berkata mengutip perkataan Dr. G.J.Nieuwenhuis, “Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.”

Adian mencatat, setidaknya ada dua kata kunci kemajuan bangsa, yaitu “guru” dan “pengorbanan”. Bahwa kebangkitan bangsa atau suatu peradaban harus dimulai dengan mencetak “guru” yang suka berkorban”.

Tentu saja, lanjut Adian, guru yang dimaksud M. Natsir bukan sekedar guru pengajar di sekolah formal. Bukan pula guru yang sekedar pandai meluluskan murid-muridnya dalam Ujian Nasional.

Tapi guru yang dibutuhkan adalah guru yang bisa mengajarkan keteladanan, menyatukan perbuatannya di luar kelas sama dengan perkataannya di hadapan muridnya. Sebab guru adalah pemimpin, orangtua, sekaligus pendidik bagi muridnya.

Untuk itu, penulis menitip harapan besar kepada pemerintah selaku pemegang kebijakan pendidikan nasional di negeri ini, kiranya bantuan anggaran yang mencapai 24 triliun tersebut benar-benar bisa terealisasikan dengan tepat sasaran bagi peningkatan kualitas madrasah.

Di antara sekian banyak agenda mendesak dalam persoalan pendidikan, maka peningkatan kualitas guru atau Sumber Daya Manusia (SDM) hendaknya menjadi prioritas utama. Sebab apalah arti pembangunan fisik dan sarana prasarana sebuah lembaga pendidikan, jika kualitas gurunya tidak seperti yang diharapakan oleh M. Natsir di atas.

Hari ini seluruh masyarakat Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan yang sudah berumur 70 tahun. Berbagai fasilitas dan kemajuan pembangunan fisik sudah tercapai di berbagai daerah.

Selanjutnya, tersisa pertanyaan berikut, sudahkah kita siap menjadi orang yang berkorban dalam mengisi kemerdekaan tersebut. Sedang bagi seorang guru, sudahkah kita menyiapkan generasi pelanjut yang juga siap berkorban sebagaimana para pahlawan pendahulu sebelumnya.*

Penulis mahasiswa Magister Pendidikan Islam UIKA Bogor, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama Baznas-DDII 

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gurumadrasahpendidiksekolah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pembukaan dan Kuliah Perdana Pesantren Tinggi Al Ghazaly
Tulisan selanjutnya Artis Irwansyah Mengaku Takjub Kiprah “Dai Tangguh”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Berita
13 Juli 2026 16:30
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?