Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Raden Saleh, Penghianat atau Pahlawan?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Desember 2013 06:32 6:32 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Desember 2013 06:32
Bagikan
Bagikan

Oleh: Mochamad Fauzie

RADEN Saleh Syarief Bustaman tidak syak lagi adalah pelukis dari Hindia Belanda yang ternama sejak jamannya (abad ke-19) sampai kini, di Eropa dan lebih-lebih di tanah airnya. Kemasyhuran Saleh telah menempatkannya sebagai duta seni lukis yang pertama bagi bangsanya. Ia merepresentasi keberhasilan bumiputera Indonesia, bahkan Nusantara, dalam menguasai alat, media, teknik dan gaya melukis Barat yang berkembang pada masa itu.

Oleh karena kegemilangan prestasinya tersebut, sebagian orang belakangan ini mewacanakan Saleh untuk dinobatkan sebagai pahlawan Indonesia dalam bidang kebudayaan. Tetapi sebagian orang lagi tampaknya tidak mudah menerima gagasan tersebut dengan mengingat kedekatan – bahkan kemanjaan – Saleh terhadap pemerintah kolonial yang mengasuhnya dan rekam jejak Saleh yang kurang menunjukkan perlawanan terhadap penjajahan.

Terdapat sejumlah karya ilmiah, makalah dan buku yang sudah ditulis orang tentang Raden Saleh dan karya-karyanya. Di antara yang terbaru adalah disertasi I Ketut Winaya yang memaknai beberapa lukisan Saleh sebagai ekspresi anti-kolonial. Tulisan super singkat berikut ini mencoba ikut meramaikan dengan memberi kilas-balik tentang Raden Saleh pada sisi-sisi yang mungkin terlewat dari perhatian. Tujuannya bukan untuk pagi-pagi memihak pada salah satu kubu di atas, tetapi untuk mendorong penilaian yang lebih adil terhadap sikap Raden Saleh dengan meletakkannya pada konteks atau situasi jamannya.

Raden Saleh (1807-1880) diberangkatkan ke Eropa pada 1829 (saat berusia 22 tahun) untuk belajar melukis, nyaris bersamaan dengan Pangeran Diponegoro ditangkap. Pemberangkatan Saleh ini bernuansa politik, yakni untuk menjauhkan Saleh dari pengaruh pamannya, Sosrohadimenggolo (buku lain menulis Surohadimenggolo), yang terindikasi simpati pada Diponegoro.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Saleh berada di Eropa selama 20 tahun, mulanya di Belanda, lalu ke beberapa negeri di Eropa, meliputi: Jerman, Austria dan Perancis, berinteraksi dengan banyak cendekiawan dan seniman ternama masa itu, disamping produktif melukis dan memamerkan lukisan.

Saleh berada kembali di tanah air pada 1852 sampai wafatnya, yang menjadi kurun yang paling produktif dalam menghasilkan lukisan. Sebagian besar lukisannya tersebar di Eropa, menjadi barang koleksi museum dan pribadi-pribadi yang tidak mudah dilacak lagi. Lalu sebagian kecil saja berada di tanah air, menjadi koleksi beberapa museum dan keraton.

Adalah fakta bahwa Raden Saleh selama hidupnya berada dalam kedekatan yang sangat dengan pemerintah Belanda. Tetapi patut diingat, bahwa pada jaman itu, Belanda berada dalam puncak kekuatan dan penguasaan atas Jawa, menyusul keberhasilannya menghentikan perlawanan besar terakhir di Jawa yang dipimpin Diponegoro. Dengan kalimat lain, perlawanan fisik terhadap kolonial sedang dalam masa anti klimaks setelah berakhirnya Perang Diponegoro. Maka, sulit berharap seorang Saleh yang dibina sejak usia belia akan melakukan perlawanan terbuka, bahkan, untuk sekadar hijrah (berlepas-diri) dari pemerintah kolonial.

Kendatipun demikian, dari sebagian surat dan catatan terserak tentang riwayat Saleh terungkap, bahwa Saleh tidak sepenuhnya nyaman dengan ketergantungannya pada pemerintah kolonial dan tidak selalu bersikap manis. Dari surat-suratnya terkuak, bahwa ia kerap mengalami pergulatan batin yang menunjukkan gejala melakukan perlawanan atau pembangkangan – meski sedemikian jauh tetap berada dalam stadium psikis (intelektual), pun dengan cara sembunyi-sembunyi atau simbolik.

Gejala demikian tampak terutama saat Saleh memasuki usia matang, yakni setelah beberapa tahun di Eropa dan berlanjut sepulangnya ke tanah air. Ketika di Jerman, ia akrab dgn para aristokrat dan cendekiawan setempat dan merasa menemukan teman-teman sejati di mana ia dapat bicara (merumpi) secara lebih terbuka. Acapkali ia keceplosan menyatakan simpatinya pada Jerman (masa itu) yang anti penjajahan dan mengaku, bahwa dirinya berasal dari keluarga yang anti penjajahan.

Selama di Eropa, Saleh kedapatan terus mengikuti perkembangan di tanah air pasca penangkapan Diponegoro melalui media massa yang beredar di Barat. Ia bahkan terobsesi untuk melukis Diponegoro. Obsesinya berhasil diwujudkan 5 tahun setelah berada kembali di tanah air, maka lahirlah salah satu lukisannya yang terkemuka: “Penangkapan Diponegoro” (1857). Oleh para ahli, lukisan ini dikenali memuat 2 (bahkan ada yang menyatakan lebih dari 2) sosok Saleh dalam berbagai usia, di antara prajurit Diponegoro. Keputusan memasukkan potret diri ke dalam lukisan ini patut diduga sengaja dilakukan untuk secara simbolik menunjukkan keberpihakan pada Diponegoro. Sikap in-groupnya dengan Diponegoro juga terindikasi dari keputusannya menikahi perempuan kerabat dekat Diponegoro setelah bercerai dari istri pertamanya yang berkebangsaan Barat.

Di pihak lain, pemerintah Belanda pun cenderung mengembangkan sikap curiga, bahkan sampai memata-matai Saleh sejak pelukis ini menjadi ‘makhluk pribumi pintar sendiri’ sepulang dari Eropa. Ketika di Bekasi terjadi pemberontakan kecil pada 1869, Saleh bahkan ditangkap, diinterograsi dan dikenai tahanan rumah. Meskipun tidak terbukti terlibat, toh sejak itu peran Saleh dalam pemerintahan terus dikurangi.

Saleh meninggal 1880. Dua tahun sepeninggalnya, lahirlah HOS Tjokroaminoto (1882-1934), yang 25 tahun kemudian baru mulai berkiprah untuk mempelopori pendirian organisasi pergerakan kebangsaan pertama yg dgn terbuka mencita-citakan Indonesia Raya (merdeka). Ingat juga, bahwa Tjokroaminoto kelak menelorkan Soekarno. Pada kurun yang paralel dengan HOS Tjokroaminoto, di Yogya muncul Ahmad Dahlan yang menjadi sumber kemunculan Fachruddin dan kelak disusul Sudirman. Jadi, dalam kontinum perjuangan bangsa, masa Raden Saleh adalah titik kontinum yang prematur untuk diharapkan melakukan perlawanan terbuka, bahkan justru titik balik, mengingat penangkapan Diponegoro masih segar. Diperlukan waktu berpuluh-puluh tahun kemudian untuk munculnya perlawanan baru di Pulau Jawa khususnya, dan di Nusantara pada umumnya.

Sedikit catatan menarik patut saya susulkan – sebagaimana yang telah saya sampaikan kepada RRI Pro-3 pada Juni 2012 yang lampau dalam wawancara dengan saya perihal Raden Saleh – bahwa pada masa Raden Saleh di Eropa, aliran romantik (Romantisisme) dalam seni lukis sedang mencapai puncak kejayaan. Dalam pada ini, lukisan nude sangat biasa dibikin orang, tidak terkecuali oleh ikon dan bintang seni lukis romantik: Delacroix. Tetapi sejauh yang berhasil diketahui, dari begitu banyak lukisan Saleh, tidak satupun yang menggambarkan perempuan telanjang atau sekadar mendekati telanjang. Hal menarik lain, di Jerman, Saleh sempat membikin sebuah musholla dengan arsitektur dan ornamen geometris khas Islam. Musholla ini konon masih terpelihara baik sampai kini. Fakta-fakta ini agaknya menandakan terpeliharanya akhlak Raden Saleh sebagai seorang Muslim.

Dalam belantara kehidupan Eropa yang sudah permisif masa itu, menghindari tema nude tentu tidak mudah. Orang dapat saja mengatakan Saleh memiliki perilaku tidak simpatik dalam kesehariannya. Tetapi dalam soal karya, Saleh terbukti sangat menjaga diri. Agaknya ini menjadi sisi ‘terang’ yang perlu terus diungkap dan ditafsirkan, di tengah data-data tentang Raden Saleh yang sebagian besar bersumber dari literatur/dokumen Barat yang acapkali memberi citra ‘kelam’ pada pribadi Raden Saleh. Integritas akhlak Saleh sebagai muslim menjadi penting mengingat Islam cenderung menjadi sumber kebencian kolonialis itu sendiri, sebab Islamlah yang tiada lain menjadi sumber spirit perlawanan terhadap kolonialisme dari jaman ke jaman.

Uraian di atas mudah-mudahan ikut membantu memberi apresiasi secara lebih adil/proporsional mengenai sikap Raden Saleh Syarief Bustaman terhadap pemerintah kolonial. Mungkin sikapnya lebih pas dianggap ambigu daripada sepenuhnya tidak melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial, mengingat setting jamannya memang belum kondusif untuk mengembangkan perlawanan yang lebih nyata.*/Bogor, Shafar 1435/ Desember 2013.

Penulis adalah peneliti Raden Saleh dan Karyanya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Belandapahlawanraden saleh
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Indonesia Urutan ke-129 dalam Hal Pelayanan Publik
Tulisan selanjutnya Firdaus Memorial Park, Pemakaman untuk Kaum Dhuafa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta

Berita
16 Oktober 2026 14:29
Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?
Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
19 Orang Tewas Akibat Berdesakan saat Festival Hindu Durga Puja India
Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad

Terbaru

  • 19 Orang Tewas Akibat Berdesakan saat Festival Hindu Durga Puja India
  • Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?
  • Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi
  • Arab Saudi Tembak Jatuh 4 Drone di Riyadh dan Dua Wilayah Lain
  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?