Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Jangan Meninggalkan Usaha (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 September 2015 13:11 1:11 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 September 2015 13:05
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

SEBAGIAN orang yang melangkahkan kakinya ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai keinginan untuk meninggalkan amal dunia demi memfokuskan dirinya dalam beribadah. Hal ini dapat kita jumpai pada kehidupan orang zuhud, orang yang menyuarakan agama Allah, dan para alim ulama.

Keinginan untuk meninggalkan pekerjaan di dunia terkadang berasal dari nafsu jiwa, bukan murni dari keinginan akhirat. Sebenarnya mereka ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia, namun ditempuh dengan jalan mendakwahkan ajaran Allah.

Atau mereka ingin mendapatkan pertolongan dari orang lain, maka mereka mengambil cara menyibukkan diri dengan ilmu. Atau mereka ingin menjadi orang terkenal, maka mereka mengambil jalan dengan menyeburkan diri ke dalam zuhud dan beribadah. Yang jelas, semua sikap ini bukanlah karakteristik para ulama saleh.

Lihatlah proses hijrah Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam ke Madinah. Bagaimana beliau melakukan usaha dengan sungguh-sungguh dan bagaimana beliau melalui proses perjalanan yang kecil ataupun yang besar –padahal semua sikap Nabi dituntun oleh wahyu– kemudian setelah itu, beliau menyerahkan semua perkaranya kepada Allah Ta’ala.

Ketika beliau sudah melakukan usaha untuk hijrah ke Madinah dan orang-orang kafir berdiri di gua, maka apa yang dilakukan Nabi pada waktu itu? Abu Bakar Ash-Shiddiq mengisahkannya, “Aku melihat kaki orang-orang musyrik dan kami berada di dalam gua, sedangkan mereka di atas kita. Kemudian aku berkata kepada Nabi, “Wahai Rasul, jika salah satu dari mereka menatapkan pandangannya ke bawah, niscaya mereka akan melihat kita.” Nabi menjawab, “Apa yang kamu kira wahai Abu Bakar dengan kita berdua. Sesungguhnya Allah adalah yang ketiga bersama kita.” (HR Muslim).

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mempersiapkan diri agar mendapatkan kemenangan di jalan Allah, baik dengan jiwa ataupun dengan harta benda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah.” (Al-Anfal: 60)

Mengambil sebab-sebab (berusaha) terkadang dihukumi wajib apabila sesuatu tidak bisa disempurnakan kecuali dengan usaha tersebut. Memang benar, dakwah kepada Allah membutuhkan kekosongan jiwa, hidayah Allah membutuhkan kejernihan hati, menuntut ilmu membutuhkan kelonggaran waktu, dan meningkatkan kesucian ruh untuk beribadah membutuhkan waktu yang banyak. Akan tetapi, orang-orang yang berakal menghiasi waktunya dengan mengurusi segala urusan dunianya, merealisasikan tuntutan hidupnya, dan memberikan hak-hak istri serta anak-anaknya.

Yang dimaksud dengan “kosong” di sini adalah memfokuskan hati beribadah kepada Allah. Para ulama salafus-shaleh bekerja dan berusaha mencari rezeki. Bahkan sebagian dari mereka tidak ridha untuk makan kecuali hasil dari keringatnya sendiri.

Setiap saat, mereka selalu meminta kepada Allah untuk tidak menghinakan wajahnya dengan meminta kepada orang lain.

Jadi, yang benar adalah kita harus berusaha untuk mendapatkan rezeki yang sudah ditentukan oleh Allah untuk kita. Akan tetapi, beribadah kepada Allah dan mendakwahkan ajaran-Nya harus mendapatkan prioritas yang lebih besar. Sedangkan kesibukan dunia jangan sampai memenuhi hati. Dan jadikanlah kesibukan kita sebagai amal shaleh sehingga dapat menjaga harga diri, membantu orang-orang yang membutuhkan, dan melakukan shadaqahkan di jalan Allah.*/Syaikh Khalid Sayyid Rusyah dari bukunya Nikmatnya Beribadah. [Tulisan selanjutnya]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bekerja kerasberusaha
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 4 Sebab Imam As Syafi’i Awalkan Sarapan
Tulisan selanjutnya Jangan Meninggalkan Usaha (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?