Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Dari Harian Djawi Hiswara, PKI Hingga Tabloid Monitor [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 September 2015 06:33 6:33 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 September 2015 06:33
Bagikan
Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam Pemilu 1955
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

oleh: Muhammad Cheng Ho

DUKUNGAN TKNM juga datang dari H. Misbach, seorang muballigh yang juga pimpinan majalah Medan Moeslimin. Ia menyebarkan pamflet yang mengecam ulah Martodarsono dan Djojodikoro, serta meminta diorganisirnya vergadering protes dan dibentuknya subkomite TNKM. Lebih dari itu, ia bersama pedagang batik muslim menyumbang paling banyak kepada TNKM dan juga mempercayakan kepemimpinan TKNM pada pegawai keagamaan, kiai, dan guru ngaji.

Permintaan H. Misbach dikabulkan. Vergadering lalu diselenggarakan di Sriwedari,Surakarta, dan dihadiri oleh lebih dari 20.000 umat Islam. Sumbangan kemudian dikumpulkan, dan pendirian subkomite TKNM diputuskan. Hisamzainijnie terpilih sebagai ketua, Poerwodihardjo menjadi sekretaris, dan orang Arab, Kiai, serta pegawai keagamaan kesunanan menjadi bendahara, komisaris dan penasihat.

Mencaci Ibadah Haji

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

Masih di masa kolonial Belanda.Dan masih kembali terjadi penistaan agama lewat media massa. Sekitar bulan Desember tahun 1930, seperti diceritakan Ajip Rosidi, surat kabar Soeara Oemoem yang diterbitkan oleh Studieclub Indonesia dan dipimpin oleh Dr. Soetomo, memuat berbagai tulisan yang merendahkan ibadah haji. Dalam tulisan-tulisan itu, penulis mempertanyakan manfaat naik haji, menganggap orang-orang yang dibuang ke Digul karena membela bangsa, lebih mulia dari orang-orang yang naik haji karena hanya “menyembah berhala Arab”, serta menganjurkan orang Islam untuk pergi keDemak saja daripada ke Makkah. [dalam Ajip Rosidi, M.Natsir Sebuah Biografi, Girimukti Pasaka:Jakarta, 1990, hlm. 116]

Maka gegerlah umat Islam. Ormas Islam yang bergerak di bidang politik, sosial, dan keagamaan lalu mengadakan rapat-rapat umum yang menyerang penulis, Dr. Soetomo, dan Studieclub Indonesia. Di berbagai kota dibentuklah panitia-panitia untuk membentuk opini publik dalam menghadapi serangan orang-orang “kebangsaan”.

Setelah melihat reaksi umat Islam, Dr. Soetomo berusaha berdandan dengan mengatakan kepada pers bahwa ia dan ayahnya juga seorang muslim dan sering menyumbang kepada Muhammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama. Pernyataan itu oleh Tokoh Persis, M.Natsir, dalam Majalah Pembela Islam disebut sebagai ‘sahadat model baru’.

Kehebohan Soeara Oemom habis terbenam, terbitlah tulisan nista lainnya yang dikarang oleh seorang berinisial Tj. W. di surat kabar Soeara Indonesia. Dalam tulisan itu, ia menghina rukun dan perintah agama Islam. Salah satu rukun Islam yang dihina, masih sama dengan yang sebelumnya, yaitu ibadah haji.Tulisan itu lalu dikritisi oleh M. Natsir dengan tulisannya di Majalah Pembela Islam.

“Tuan Tj. W. yang katanya mementingkan ‘Ichonomie’ amat pandai menghitung ‘beberapa kerugian’ Indonesia karena ada orang naik haji tiap-tiap tahun, tidak pernah berlaku jujur dan mempertimbangkan keluar uang itu dengan kemanfaatan yang diterima oleh orang Indonesia, dalam penghidupan politik dan ekonomi, yang nyata-nyata kelihatan tiap-tiap hari.

Apakah ini karena kebenciannya kepada Islam? Tuan Tj. W. c.s. yang amat pandai dan rajin menghitung dengan jarinya ‘kekayaan Indonesia’ yang katanya ‘hanyut’ ke tanah Arab itu, tapi tak pernah mau menghitung berapa kekayaan Indonesia yang hanyut ke tanah Eropa karena pemuda-pemuda Indonesia yang pergi ke sana beberapa tahun supaya sesudah kembalinya jadi buruh pemerintah atau kapital asing.”

Dua tulisan yang merendahkan haji ituseperti mendukung kebijakan haji pada masa Hindia Belanda. Sebab pada masa itu, Pemerintah Hindia-Belanda mengeluarkan bermacam-macam aturan yang membatasi dan menghambat pelaksanaan ibadah haji. Alasannya karena pemerintah Belanda trauma dengan perlawanan ummat Islam di Hindia-Belanda banyak digerakkan oleh para haji dan ulama. [Hanibal Wijayanta, Kebijakan Haji di Hindia Belanda, http://jejakislam.net/?p=227, diakses pada 15 September 2015]

Teror PKI di Orde Sang Proklamator

Meski mendapat kecaman yang keras, namun penistaan agama masih saja berlanjut di masa orde lama. Sejak pemilu 1955, posisi Partai Komunis Indonesia (PKI) Surabaya semakin menguat, terlebih didukung aparat tentara. Dengan kekuatan itu, maka pada tahun 1962 segerombolan Pemuda Rakyat didukung kawanan Gerwani yang garang, menyerbu Masjid Agung Kembangkuning Surabaya.

Mereka lalu menginjak-injak tempat suci itu sambil bernyanyi Genjer-genjer dan menari-nari. Lebih dari itu, mereka juga menginjak-injak dan membakar Al-Qur’anserta kitab-kitab lainnya.Mereka juga bermaksud mengubah masjid tersebut menjadi markas Gerwani. Terjadilah benturan antara warga Nahdiyyin dan pendukung PKI. Pasukan NU berhasil menang dan akhirnya PKI diseret ke pengadilan. [H.Abdul Mun’im DZ, Benturan NU PKI 1948-1965, Depok:Langgar Swadaya Nusantara, 2014, hlm.96]

Dasar PKI, tak kapok-kapok juga, setahun kemudian, PKI kembali berulah.Pada tahun 1962, mereka menghina Islam dengan pementasan reog, ludruk, dan ketoprak dengan lakon matinya Tuhan. Akibatnya, perkelahian antara NU dan mereka pun tak terhindarkan. */Penulis Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)  Bersambung Hinaan Kasar untuk Nabi Muhammad

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Haji MisbachkomunisNabi Muhammadpenghinaan IslamPKI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemerintah Didesak Buat Regulasi Kriminalisasi Pelaku LGBT
Tulisan selanjutnya Yayasan Qiblat Adakan Pelatihan Multimedia dan IT bagi Yayasan Sosial

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

genosida bosnia
Berita

Ratko Mladic Si Penjagal Bosnia Meninggal di Usia 84 Tahun

Berita
28 Agustus 2026 02:27
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?