Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Surat Pembaca

Akankah MEA Membawa Berkah?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Januari 2016 06:16 6:16 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Januari 2016 06:16
Bagikan
Bagikan

Menyambut awal tahun 2016 Indonesia harus bersiap menyambut kedatangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). yang sudah mulai resmi diterapkan pada tanggal 31 Desember 2015 yang lalu. MEA mempunyai tujuan utama untuk menjadikan kawasan ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal, kawasan ekonomi yang kompetitif, kawasan pembangunan ekonomi yang adil, dan kawasan ekonomi yang terintegrasi kedalam ekonomi global. Untuk mencapai tujuan tersebut, negara-negara yang ada di ASEAN telah menyepakati untuk melakukan liberalisasi pada lima aspek ekonomi:barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja terampil. Sementara itu bagaimana posisi Indonesia?

Indonesia memiliki potensi ekonomi yang luar biasa.Sebagaimana yang tertuang dalm dokumen MP3EI halaman 17 Indonesia memiliki potensi ekonomi yang luar biasa. Sampai tahun 2010 Indonesia masih menjadi salah satu produsen besar  di dunia untuk berbagai komoditas antara lain sawit, kakao, timah, nikel, bauksit, besi, baja, tembaga, karet, dan perikanan. Indonesia juga memiliki cadangan energi yang sangat bermanfaat seperti batu bara, panasa bumi, gas alam dan air yang sebagian besar dimanfaatkan untuk mendukung industri andalan seperti tekstil, perkapalan, peralatan transportasi dan makanan minuman.

Sebagai negara anggota MEA, Indonesia juga memiliki peluang yang sama untuk bersaing secara bebas dan berkompetisi secara fair di kawasan ASEAN. Lalu pertanyaan selanjutnya yang mucul bisakah negara-negara yang ada di ASEAN termasuk di dalamnya Indonesia melakukan hal tersebut jika dilihat dari segi profil perekonomiannya yang beragam serta pendapatan perkapita masing-masing negara yang bervariasi. Ada yang mencapai di atas 50 rbu US Dollar pertahunnya ada yang mencapai hanya di bawah seribu US Dollar per tahunnya. Indonesia sendiri menempati peringkat ke lima (wikipedia.com)

Untuk melihat peluang Indonesia, ukuran yang dapat kita pakai dengan melihat kesiapan SDM yang dimiliki negara ini. Apakah rakyat Indonesia akan mampu bersaing??. Dilihat dari faktanya, kualitas SDM Indonesia ternyata termasuk kategori rendah. Hal itu dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang menempati urutan ke 124 dari 182 negara. Dengan demikian, jika Indonesia tetap memaksakan diri terlibat aktif dalam persaingan di pasar tenaga kerja terampil secara bebas maka dampaknya bagi rakyat negeri ini adalah terjadinya gelombang pengangguran yang semakin besar. Padahal belum di terapkannya MEA saja pada bulan Agustus 2015 di negeri ini angka pengangguran terbuka mencapai 7,6 juta jiwa dan setengah pengangguran 9,4 juta jiwa (CNNindonesia.com).

Karena semakin sulitnya untuk mendapatkan pekerjaan kemungkinan lain, akan semakin meningkat pengiriman jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang non profesional ke luar negeri. Bisa di bayangkan bagaimana semakin buruknya situasi kerja di negeri ini setelah diberlakukannya MEA. Banyak tenaga profesional dari negara-negara ASEAN dengan kualitas yang lebih baik bisa sesuka hati untuk bekerja di Indonesia sementara para pekerja profesional dari Indonesia akan semakin tergusur dan pekerja non profesional akan semakin banyak bermunculan dengan menjadi TKI sebagai tenaga kasar bangunan ataupun hanya sebagai pembantu rumah tangga.

Baca Juga

22 Tahun Wahdah Eksis jadi Ormas
Harga Telur Melambung Tinggi, Bagaimana Islam Mengatasi?
Lemahnya Agama, Penyebab Munculnya Pergaulan Bebas
Uang Kripto sebagai ‘People Money’
Hari HAM Sedunia, Muslim Thailand Selatan Masih dalam Tekanan dan Diskriminasi

Sementara itu, di sektor pertanian dan sumber daya energi yang selama ini menjadi andalan Indonesia pun juga setali tiga uang dengan kondisi di bidang tenaga kerja. MEA juga akan mengancam sektor pertanian dikarenakan masih sangat rendahnya daya saing yang dimiliki sektor pertanian negeri ini masih sangat rendah. Dukungan pemerintah terus berkurang dengan mencabut dan mengurangi berbagai subsidi pertanian. Sementara itu dengan adanya MEA akan membuat semakin membanjirnya produk impor di pasar dalam negeri mulai dari beras, kedelai, jagung, bahkan buah-buahan dan sayuran yang sebenarnya jika mendapat sokongan dan dukungan penuh dari pemerintah semuanya itu tidak perlu impor mengingat tanah negeri ini yang begitu subur.

Demikian juga dengan sumber daya energi yang potensinya berlimpah, tetap di kuasai oleh swasta asing sementara negara hanya berfungsi sebagai regulator saja. Gas alam yang berlimpah di blok Tangguh, Teluk Bintuni, Papua Barat justru “dirampok” dengan di ekspor ke Cina dengan harga yang sangat murah jauh di bawah harga standar internasional.

Di sektor perdagangan sendiripun juga begitu sangat memprihatinkan. Bagi Indonesia, liberalisasi perdagangan melalui MEA melengkapi liberalisasi perdagangan yang telah di teken dengan negara-negara lain baik secara bilateral maupun secara multilateral. Belum adanya MEA saja proporsi barang impor dari negara ASEAN yang masuk d negeri ini sudah mencapai 30%, tentu saja dengan pemberlakuan MEA akan semakin mempermudah masuknya barang impor karena pemberlakukan tarif bea masuk impor 0 persen.

Tentu saja hal itu akan berdampak semakin beratnya para produsen dalam negeri yang selama ini tidak mendapatkan dukungan dan sokongan yang memadai dari pemerintah karena mereka harus menghadapi semakin mahalnya harga energi, buruknya infrastruktur yang ada serta modal yang semakin di akses dan pemberlakuan pajak yang semakin besar menghadapi persaingan dengan produsen luar negeri yang mendapatkan sokongan dan dukungan penuh dari pemerintah

Dari semua ancaman di atas, sesungguhnya ada ancaman yang lebih berbahaya bagi rakyat indonesia, yaitu terjadinya kehancuran basis kehidupan keluarga. Saat beban hidup makin berat, setiap laki-laki akan “terpaksa” menggadaikan tanggung jawabnya sebagai pencari nafkah keluarga, kemudian bergese kepada perempuan yang lebih “kompetitif” di dunia kerja, khususnya untuk menjadi tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau sebagai buruh kasar di luar negeri. Akibatnya tentu saja bisa di tebak, yitu hancurnya sendi-sendi peran keluarga yang mengharuskan untuk lebih banyak keluar rumah dengan bekerja akibat himpitan ekonomi yang semakin sulit.

Liberalisasi ekonomi yang melandasi MEA memang menjanjikan peluang kemajuan ekonomi bagi negara-negara ASEAN. Namun demikian, secara empiris liberalisasi juga menjadi faktor fundamental rusaknya tatanan ekonomi negar-negara kapitalis di dunia ini. Uni Eropa, misalnya, yang menjadi acuan MEA, hingga saat ini masih berjuang untuk keluar dari krisis yang disebabkan oleh sektor finansialnya yang rapuh. Liberalisasi ekonomi yang berlangsung di negara ini juga telah terbukti gagal menciptakan ekonomi yang maju, mandiri, stabil dan menyejahterakan.

Sebaliknya kesenjangan pendapatan penduduk semakin lebar, aset-aset strategis di kuasai oleh investo asing, barang-barang impor menggusur produk lokal, sektor finansial yang rentan terhadap krisis, dan nilai tukar rupiah bergerak tidak stabil.

Walhasil, bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN, MEA hanyalah solusi semu untuk mengatasi masalah ekonomi mereka.

 

Sahilatul Hidayah | Jalan Tambak Langon No 27 Surabaya,  Jawa Timur

         

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:liberalisasi ekonomiMasyarakat Ekonomi ASEANMEA
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dimediasi KPI, Wahdah Islamiyah dan Metro TV Capai Kesepakatan
Tulisan selanjutnya Jagalah Allah, Niscaya Dia Akan Menjagamu!

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Surat Pembaca

Racun LGBT Makin Meluas, Jaga Ketahanan Keluarga Indonesia

28 Mei 2022 12:30
cerita
Surat Pembaca

Pentingnya Memilih Cerita Sebagai Hiburan

26 November 2021 13:37
Surat Pembaca

Tanggapan atas Pernyataan Bahwa Semua Agama itu Benar

22 September 2021 15:00
Surat Pembaca

Nasyid untuk Wahdah Islamiyah

8 September 2021 07:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?