Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Hamid: Mematahkan Pemikiran Nazir Hamid (3-habis)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Maret 2016 14:51 2:51 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Maret 2016 14:51
Bagikan
Dr. Hamid Fahmy Zarkasy
Bagikan

Sambungan wawancara kedua

 

Pada tulisan terdahulu dipaparkan betapa kritisnya Fahmi Hamid Zarkasyi kepada pemikiran Barat. Karena kritisnya itu ia sempat dituding anti Barat. Ada juga tudingan lain. Ia diangap terlalu membebek kepada gurunya, seorang filosof jenius dari Malaysia, Prof Dr Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Bagaimana putra ke delapan KH Imam Zarkasyi (pendiri Gontor) menjawab tudingan ini?

Anda kritis pada Barat tetapi tidak kritis terhadap Al-Attas?

Kita punya agenda besar sehingga mengkritik guru tidak menjadi prioritas kami. Selain itu, menangkap ide besarnya saja sudah menjadi masalah sendiri, apalagi untuk mengkritik. Pengetahuan kami tidak cukup untuk memberi kritik.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Bahwa ada hal-hal yang bisa dikritik dari Al-Attas, itu benar. Misalnya, ia dibilang orang tidak banyak tahu syariah. Kritik itu benar, karena ia memang bukan ahli fikih. Ada pula yang mengkritik idenya terlalu filosofis sehingga sulit dipahami orang awam.

Dari pada mengkritik, ada hal yang lebih penting yaitu mendukung ide-ide  besarnya.

Apa kesan Anda terhadap Al-Attas?

Kami merasa tidak hanya belajar pada seorang profesor, tapi kami seperti mendapat mandat untuk menyelesaikan ide-ide besarnya, yang belum sempat ia selesaikan. “Ini lho tugas yang harus kita bereskan. Saya tak sanggup lagi karena sudah tua, kalian yang lebih muda yang harus menyelesaikan,” begitu bahasa yang saya tangkap darinya.

Dia juga sangat senang pada mahasiswa yang menulis lebih kreatif dan detil soal isu-isu yang ia bicarakan. Saya pernah menulis di jurnal ISTAC isu yang ia bicarakan. Lalu saya dipanggil, “Bagus,” katanya.

Dia juga peduli kepada keadaan umat Islam Indonesia. Ia bertanya pada saya soal masalah umat Islam di Indonesia. Saat itu di Indonesia lagi ramai dibicarakan pendapatnya Nasir Hamid, ilmuwan dari Mesir. Nasir bilang al-Qur`an itu hasil budaya.

Kata Al-Attas, kalau produk budaya Arab, mengapa Islam dan al-Qur`an ditentang oleh orang-orang Arab sendiri. Menurut saya jawaban itu logis. Tak mungkin ditentang bila al-Qur`an itu produk budaya Arab.

Beberapa tokoh pengusung liberalisme itu lulusan Gontor. Bagaimana itu bisa terjadi?

Saya sering mendapat pertanyaan seperti itu. Saya tegaskan, Gontor tidak mengajarkan liberalisme dan sekularisme. Tapi harus saya akui, dulu  santri Gontor worldview-nya belum kuat. Di sisi lain, semangat Islamnya kuat. Maka yang terjadi adalah tergantung orang-orang yang memakainya atau pergaulannya.

Contohnya Cak Nur (Nurcholis Madjid), saat lulus dari Gontor masih bagus. Ia sosok yang idealis dan anti Barat. Tapi begitu keluar dari Gontor dan kemudian dikelilingi orang yang pikirannya macam-macam, jadilah dia orang yang mengibarkan liberalisasi Islam.

Agar itu tidak terjadi lagi, apa yang dilakukan Gontor?

Sebelum lulus (pada kelas akhir), santri kita bekali tentang berbagai aliran-aliran yang menyimpang dari Islam, misalnya Syiah dan sebagainya. Termasuk tentang liberalisasi Islam. Kita juga undang alumni untuk menjelaskan peta pemikiran yang ada di masyarakat. InsyaAllah, dengan begitu worldview santri menjadi matang.

Apa nilai yang Anda tangkap dari ayahanda?

Waktu kelas V (di Gontor) beliau  menyuruh  saya menulis cerita ke dalam bahasa Arab. Itu untuk melatih bahasa Arab saya. Waktu mahasiswa beda lagi. Saya diberi buku dan disuruh baca. Minggu depannya saya diminta cerita isi buku tersebut.

Saya oleh beliau diobsesikan seperti Mukti Ali, mantan Menteri Agama RI. Dia memperoleh gelar doktor dari Pakistan, karena itu saya dikirim ke sana juga. Waktu saya berangkat itulah pertemuan saya terakhir dengan ayah. Saat saya di Pakistan beliau wafat. Sebelum meninggal, beliau sempat berpesan, “Kamu harus meraih doktor. Ilmumu tak hanya bermanfaat bagi Gontor, tapi juga Indonesia.” Alhamdulillah, saya bisa menjalankan wasiat  beliau.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:baratCak NurislamliberalisasiNurcholis Madjidpandangan hiduppemikiranwesternisasiworldview
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PKS membantu bencana Dukung Pekan Imunisasi Nasional, FPKS Minta Jaminan Kehalalan Vaksin
Tulisan selanjutnya Dihack Pejuang Palestina, Siaran TV Israel Tayangkan Nasyid

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Berita
14 Juli 2026 21:00
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Mantan Pemimpin Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Wafat

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?