Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Akhir Pencarian Oei Ping Djien (1)

Bambang S
Terakhir diupdate: 17 Maret 2016 10:45 10:45 am
Bambang S
Dipublikasikan 17 Maret 2016 10:45
Bagikan
Suwardi alias Oei Ping Djien
Bagikan

Hidayatullah.com–Sepintas, Suwardi seperti orang Jawa umumnya. Hanya kulitnya kelihatan putih. Tapi jika tahu nama aslinya,  mungkin orang akan terkejut. Lahir dan besar di Blora, Jawa Tengah, 45 tahun yang lalu. Orang tuanya memberi nama Oei Ping Djien. Ya, Suwandi memang keturunan China.

Seperti orang China kebanyakan, Oei Ping juga pintar berdadang. Ia sukses menjadi pedagang cabai dalam usia muda. Selain berdagang cabai di berbagai kota,  ia juga menjadi salah satu pemasok pabrik mie terbesar di Indonesia.

Suwardi mengaku, sebagai pedagang ‘ideologinya’ cuma satu. “Mencari uang sebanyak-banyaknya,” katanya. Untuk itu, apapun dilakukan. Mulai dari berbohong, mengurangi timbangan dan sebagainya. Padahal tanpa disadari itu berarti ia telah menggali kuburannya sendiri. Benar saja. Tahun 1997, Allah Subhanahu Wata’ala menghukumnya.

Ia jatuh bangkrut. “Saya ditipu rekanan sampai  terbelit hutang 80 juta rupiah,” kata Suwardi kepada majalah Suara Hidayatullah  di rumahnya, Ponorogo, Jawa Timur, pada suatu kesempatan.

Hari-hari Suwardi kemudian menjadi penuh tekanan. Ia dikejar-kejar petani, rekanan dan bank. Apalagi kalau bukan menagih hutang. Di sini proses pencarian diri dimulai.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Ia mencari orang yang bisa membantunya menemukan jalan keluar. Pertama-petama kakaknya yang pendeta. Lalu ia diajak ke gereja. Ini sesuatu yang baru, karena sebelumnya Suwardi  pemeluk Kong Hu Cu. Dua tahun mempelajari Kristen, ia tidak menemukan apa yang dicari.

Hingga pada suatu kesempatan ia menemukan buku berjudul ‘Sejarah Tuhan’. Dari buku ini Suwardi mengenal Tuhan dari berbagai agama, termasuk Islam. Dari sini pula, ia mulai tertarik dengan Islam dan ingin mendalami agama terbesar di dunia ini.

Dari proses belajar Islam melalui buku, televisi, dan radio, ia berjumpa dengan  hadist yang kemudian mengubah jalan hidupnya. Hadits itu mengatakan, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Hadits ini seakan menyentak kesadarannya. Selama ini ia tak pernah memikirkan orang lain. Ia hanya peduli pada diri sendiri.

Ada dorongan kuat  pada Suwardi untuk mengamalkan hadits itu. Padahal waktu itu ia belum bersyahadat. Seumur-umur ia tidak pernah mencuci baju sendiri, maka sejak itu baju ia cuci sendiri. Kamar dan rumah juga ia bersihkan sendiri. Kalau ada piring kotor di dapur, langsung ia cuci. Tentu saja ibu dan saudara-saudaranya heran melihat tingkah laku Suwardi. “Mereka bilang saya gila,” kata pria yang kini sukses menjadi pedagang kedelai ini.

Menurut ayah tiga orang anak ini, jika hadits ini diamalkan maka tidak ada lagi pengangguran. “Jika kita memberi manfaat kepada orang lain, orang lain pasti juga akan memberi manfaat kepada kita,” jelasnya. Apakah kemudian Suwardi masuk Islam? Belum

Ada hadits lain yang menginspirasi Suwardi. Kali ini terkait dengan orang tua. Ridha Allah, kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, tergantung kepada ridha orang tua. Lagi-lagi Suwardi tersentak kesadarannya.  Ia  selama ini telah menjadi anak durhaka. “Bukan saja bilang ah, saya sering membentak ibu,” katanya.

Begitu membaca Hadits ini ia buru-buru meminta maaf kepada ibunya. Untuk memohon keridhaan ibunya,  ia sampai  rela mencuci  kaki  sang bunda. Itu ia lakukan tiap hari hingga ibunya meninggal tahun 2005 lalu. “Awalnya ibu tak mau, tapi akhirnya tak bisa menolak,” tambah Suwardi. Ada ‘keajaiban’ begitu Suwardi mengamalkan dua hadits tadi.  Apa keajaiban itu, ikuti tulisan berikutnya.* (Bersambung)

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:berdagangchinaMencari uangOei Ping DjienPencarianpencarian Tuhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sahabat Sejati, yang Saling Menjaga dari Api Neraka
Tulisan selanjutnya uu ite direvisi CIDES Minta Revisi UU ITE Dipercepat Sebelum Pemilu

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?