Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Taksi Online Sharing Ekonomi yang Akan Gusur Kapitalisme?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Maret 2016 05:24 5:24 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Maret 2016 05:24
Bagikan
Bentrok Gojek dan sopir taksi di Jakarta [ilustrasi]
Bagikan

oleh: Heppy trenggono

 

KETIKA demo besar besaran sopir Taksi di Jakarta. Sopir saya ngobrol dengan temannya yang melihat iring iringan mobil RI 1 masuk ke jalan jalan kecil di sekitar Jalan Sriwijaya Jakarta Selatan. Dia bertanya tanya, kenapa presiden harus melipir ke jalan jalan kecil?

Demo di Jakarta telah memunculkan perdebatan panjang antara yang pro, kontra dan yang bingung, tidak ketemu benang merah yang jelas dalam persoalan taksi online ini.

Semua pembicaraan mengarah kepada teknologi, tak kurang seorang profesor yang juga bintang iklan jamu dari Universitas ternama ibu kota bergegas turun tangan menjelaskan dengan berbagai teori ekonominya, intinya agar masyarakat jangan protes dan sambutlah perubahan. Kata profesor, ini adalah sharing ekonomi yang akan menjungkalkan kapitalisme. Wow!

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Sebelum ribut para sopir taksi demo masyarakat dibuat kagum dengan prestasi Gojek, ojek yang juga berbasis aplikasi online.

Tak kurang pemerintah mengapresiasi dengan setinggi langit, pengusahanya dibawa keliling dunia untuk dipamerkan sebagai prestasi bangsa.

Di ujung sana, kelahiran Gojek membawa petaka bagi para pengojek. Gojek dengan kekuatan kapitalnya mensubsidi tarif ojek dengan biaya jauh dekat hanya Rp 10.000 selama berbulan bulan. Hasilnya bisa kita tebak, tidak ada yang mau pakai ojek biasa, kenapa harus bayar 50.000 kalau bisa bayar 10.000?

Gojek mensubsidi tarif karena tidak mengharapkan uang dari tarif, tapi dari capital market, dengan cara menaikkan nilai bisnisnya. Gojek lebih peduli dengan jumlah transaksi daripada jumlah nilai per transaksi. Karena jumlah transaksinya yg akan dihargai investor.

Mudah diterka, akhir cerita Gojek akan jual sahamnya dengan harga selangit. Bahwa setelah itu tarifnya dia kembalikan normal, itu suka suka dia, kalau perlu tarif lebih tinggi. Sementara ojek biasa, angkutan umum, bahkan taksi sudah berguguran karena langkah Gojek.

Ada hal yang sama antara kasus Gojek dan Taksi Uber, bahwa dibalik mereka adalah investor asing yang tidak peduli dengan perekonomian rakyat!

Bisa dibayangkan urusan tarif ojek dan taxi bisa ditentukan asing?

Jadi dimana kebenaran teori bahwa ini adalah sharing ekonomi yang akan menggusur kapitalisme? Di belakangnya justru kapitalisme!

Bung Karno pada tahun 1930 sudah mengingatkan tentang bahaya kapitalisme. Pada saat itu belum banyak orang pintar di negeri ini.

Perekonomian rakyat akan mati jika kapitalisme tidak dikendalikan.

Kapital kita perlukan untuk membangun, tapi kapitalisme harus kita lawan.

Hari ini kapitalisme setiap hari menggusur perekonomian rakyat.

Kita lihat peternak peternak ayam di Cianjur dan Sukabumi gulung tikar karena di kampungnya sudah hadir peternak baru dengan modal hingga trilyun rupiah dari Thailand, China, Malaysia bahkan Korea.

Petani di Subang harus bersiap jadi kuli karena investor dari China menanam padi dengan investasi juga trilyun rupiah.

Pedagang warung kecil sudah lama tutup karena digusur minimarket.

Sekarang tukang ojek dan tukang taksipun bergelimpangan.

Bukankah aneh negeri ini, di tengah naiknya berbagai harga kebutuhan pokok di konsumen, harga jual di petani justru hancur. Siapa yang bertanggung jawab dibalik semua persoalan itu?

Benarkah semua itu harus kita terima apa adanya sebagai sebuah perubahan?

Di mana peran pemerintah?

Sang Profesor rupanya sudah keblinger. Merasionalkan dengan segudang teori tapi mengaburkan persoalan yang fundamental bagi rakyat.

Tidak ada yang baru dalam ekonomi, tidak ada yang baru dalam kapitalisme, dari dulu hingga sekarang kapitalisme hidup dengan cara menghisap darah rakyat!

Masalahnya terbesarnya, presiden seperti biasa akan menunggu nunggu dulu, kemana kira kira angin bertiup sebelum ambil keputusan lambatnya.

Bukan tidak mungkin, kalau presiden selalu memutuskan hanya dengan pertimbangan popularitas, tidak benar benar peduli nasib rakyat, maka tidak hanya akan dipaksa melipir lewat jalan jalan kecil, tapi akan dipaksa keluar dari istana.*

Penulis Founder Gerakan Beli Indonesia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gojekgrabkapitalismeojegtaksi onlineuber
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pakar Hukum: Yang Dilakukan Dr Fidiansjah Sudah Benar
Tulisan selanjutnya KH. Ma’ruf Amin: Masalah Halal Sudah jadi Masalah Kemanusiaan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?