Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Membangun Kembali Kepingan Peradaban Islam yang Hilang

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 April 2016 14:31 2:31 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 April 2016 14:31
Bagikan
Ilustrasi: Perang Uhud
Bagikan

Oleh:  Zainal Mutaqin

 

Diantara salah satu penyebab kekalahan umat Islam karena ghanimah (harta rampasan perang). Ketika  kemenangan itu sudah di depan mata pada Perang Uhud lalu hilang begitu saja, penyebabnya adalah  ghanimah.

Pasukan  pemanah yang ditempatkan di atas bukit turun tanpa komando setelah melihat kemenangan di depan mata dan ghanimah yang menggoda,  maka  “counter attack” pasukan  Khalid Bin Walid dengan mengelilingi Gunung Uhud lalu menghantamnya dari belakang memaksa kaum muslimin memupus kemenangan yang hampir saja didapatkannya.

Gunung Uhud menjadi saksi syahidnya 70 orang terbaik umat ini. Inilah kekalahan pertama dalam sejarah kita.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Kekalahan terakhir dalam ekspansi muslimin terakhir  di  Eropa pun karena ghanimah. Ketika pasukan muslimin yang dipimpin seorang mujahid muda yang sholeh, cerdas  dan gagah berani Abdul Rahman Al-Ghafiqi  dapat dikalahkan oleh pasukan  Charles Martel, kemenangan sudah hampir dalam genggaman sama sama situasinya dengan  Perang Uhud. Dalam peperangan yang berlangsng selama 7 hari itu pasukan Charles Martel sudah dipukul mundur. Pasukan Nashrani tahu bahwa muslimin mempunya banyak ghanimah sejak kedatangan mereka ke Spanyol dan biasanya ditempatkan di belakang pasukan dengan penjagaan. Maka, pasukan Nashrani memukul kaum muslimin dari belakang kemudian tentara islam tidak terkendali lagi berjuang sendiri-sendiri tanpa komando. Abdul Rahman Al-Ghafiqi berusaha menata kembali pasukannya namun panah musuh menghentikannya. Ia gugur bersama puluhan ribu pasukan kaum muslimin dalam perang “Balat As Syuhada” (Serambi Para Syuhada).

Pertempuran Balat al-Syuhada

Kita buka kembali lembaran-lembaran sejarah bagaimana keruntuhan kota-kota di Spanyol, tahun 422 H,  ketika Bani Umayyah sudah tidak sanggup lagi mempertahankan hegemoni kekuasaannya,  muncullah kerajaan-kerajaan kecil (Al-Mamalik) yang bersaing bahkan berperang diantara mereka, dan yang sangat menyedihkan mereka meminta bantuan kerajaan Kristen seperti ; Castile, Lion, dan Aragon untuk memerangi saudaranya sendiri demi eksistensi  kerajaannya. Inilah awal dari keruntuhan itu,  kalau saja seorang Yusuf bin Tasyfin pemimpin Daulah Al-Murabithin di Maroko tidak turun gunung untuk menyelamatkan muslim Andalusia, maka eksistensi muslim Andalusia  tidak mungkin bisa bertahan sampai 2 abad kemudian.

Menurunnya kekuatan umat Islam kala itu bukan karena kuatnya pasukan Kristen, tapi karena melemahnya umat Islam itu sendiri. Selain itu menguatnya fanatisme kelompok, syahwat kekuasaan yang menemukan momentumnya dan hilangnya spirit jihad dalam dada kaum muslimin.

Pada akhirnya pertanyaan itu terjawab, kenapa kita terusir dari Spanyol? Karena Allah tidak pernah mendzolimi hambanya sedikitpun tapi mereka yang mendzolimi diri mereka sendiri.

Sunnatullah, ketika semua syarat keruntuhan sudah nyata, maka momen itu hanya tinggal menunggu waktu saja.

Tahun 897 H, kota terakhir  di Spanyol, Granada, runtuh setelah mampu bertahan selama 200 tahun dari keruntuhan kota-kota yang lainnya  di Andalusia. Sultan terakhir Bani Ahmar Abu Abdillah berlinang air mata ketika memandangi tembok Istana Al-hamra yang dicintainya  untuk terakhir kalinya. Lalu ibunya mengatakan  sebuah kalimat yang melegenda sampai sekarang:

ابك مثل النساء ملكاً لم تحافظ عليه مثل الرجال”

“Kamu menangis seperti perempuan  tapi tidak mampu mempertahankan Negara seperti laki-laki.”

Kita tidak perlu terlalu lama menangisi semuanya.  Karena semua itu adalah sunatullah yang menemukan takdirnya. Tugas kita adalah merekontruksi kembali kepingan-kepingan sejarah itu agar kita memenuhi semua syarat untuk bangkit dan kembali memimpin dunia dan memberikan cahaya ilahi yang menyinari dunia yang sedang carut-marut ini.

Mungkin bukan genersi kita yang akan memimpin fase ke -5 zaman itu  yaitu “Al-khilafah ala Minhaj An Nubuwwah” yang dijanjikan Rasulullah, tapi minimal kita menjadi arsitek generasi setelah kita agar mereka mengikuti gerbong pengusung kejayaan itu kembali.

Minimal ada dua dari banyak hal yang bisa kita lakukan :

Pertama, kita kembalikan sistem pendidikan kita kepada kurikulum dimana orang-orang hebat sebelum kita dididik dan dibesarkan, kurikulum yang sederhan tapi dampaknya luar biasa, kurikulum yang melahirkan anak-anak muda sekelas Abdullah Ibn Abbas, Usamah bin Zaid, Muhammad Al-Fatih, Sulaiman Al-Qanuni dan segudang orang-orang hebat yang kelu lidah kita untuk mengabsennya, saking banyaknya.

Tinggalkan kurikulum sekuler yang hanya melahirkan para perusak agama dan negara.

Alhamdulillah, gelombang perubahan ini mulai terasa di negara kita. Para orang tua semakin sadar akan hal itu terbukti mereka berbondong-bondong  memasukan anak-anak mereka ke sekolah tahfidz Al-Qur’an dan mendidik mereka sejak dini dengan pelajaran keimanan.

Kedua, jangan menghabiskan energi dengan konflik antara kita sesama muslim hanya karena perbedaan furuiyyah, kita harus bersatu, biarkan aneka ragam organisasi, pengajian, menjadi kekayaan berharga kita. Jika ada kesalahan mari kita duduk dan perbaiki bersama-sama.

Mari kita merekonstruksi kembali kepingan peradaban kita akar kita mempunya semua syarat untuk bangkit. *

Penulis anggota MIUMI Batam. Bahan diambil dari دراسة لسقوط ثلاثين دولة إسلامية karya Dr. Abdul Halim Uais dan الاندلس من البداية إلى السقوط  karya Dr. Ragib As Sarjani

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ghanimahperadaban IslamPerang Uhud
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Seorang Jenderal Mengusulkan Amerika Kembali Serang Taliban
Tulisan selanjutnya Menlu Saudi: Uang $681 Juta dalam Rekening PM Najib Razak Pemberian Ikhlas dari Arab Saudi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Hikmah

Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi

Hikmah
29 September 2026 08:30
Menentang Wajib Militer Para Pelajar Jerman Mogok Sekolah
Buka MIHAS 2026, Wakil PM Malaysia Dorong Pembentukan ASEAN Halal Council
Gemini AI Milik Google Bisa Melakukan Serangan Siber, Menebak Kata Sandi
Pos Polisi Pakistan Dibom Sedikitnya 11 Nyawa Melayang

Terbaru

  • Ubah Tradisi, Rektor UNIDA Gontor Ajak Dosen Jadi Magnet Keilmuan Mahasiswa karena Kepakarannya
  • UNIDA Gontor Kukuhkan 4 Guru Besar Baru, Dorong Tradisi Kepakaran Keilmuan
  • Jadi Beban dan Masalah, Malaysia Repatriasi Ribuan Pengungsi dan Migran Myanmar
  • Negara Bagian California Tetapkan Idul Fitri dan Idul Adha sebagai Hari Libur Resmi
  • Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
  • Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi
  • Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100
  • Timnas Irlandia Tolak Jabat Tangan dengan ‘Israel’ sebelum Libas Tiga Gol Tanpa Balas
  • Iran Klaim Tangkap Drone Bawah Laut Amerika di Selat Hormuz
  • Warga Maroko di Belasan Kota Gelar Demo Tolak Normalisasi Pemerintahnya dengan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?