Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Salam dari Salim

Obsesi 7 Abad dan Keterjajahan Kita

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 April 2016 12:55 12:55 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 April 2016 14:30
Bagikan
Salim A Fillah saat menziarahi makan Sultan Muhammad Al Fatih
Bagikan

oleh: Salim A Fillah

 

OBSESI tujuh abad itu bergemuruh di dada seorang Sultan muda, baru 21 tahun usianya.

Tak sebagaimana lazimnya, obsesi itu bukan mengeruhkan, melainkan semakin membeningkan hati dan jiwanya. Dia tahu, hanya seorang yang paling bertaqwa yang layak menanggungnya. Dia tahu, hanya sebaik-baik pasukan yang layak mengembannya.

Maka di sepertiga malam terakhir menjelang penyerbuan bersejarah itu dia tegak di atas mimbar, dan meminta semua pasukannya berdiri.

Baca Juga

Sang Pangeran, Wine, dan Perempuan
Ibu dan Buku
Salafi
Bersama di Jalan-Nya
Gubernur

“Saudara-saudaraku di jalan Allah”, ujarnya. “Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah ﷺ telah menggerakkan para mujahid tangguh, tapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya. Kini kita harus memilih insan terbaik pula untuk memimpin semua.”

“Aku katakan pada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya, silakan duduk!”

Begitu sunyi. Tak seorang pun bergerak.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan silakan duduk!”

Andai sebutir keringat jatuh ketika itu, pasti terdengar. Hening sekali, tak satupun bergerak.

“Yang pernah mengkhatamkan Al Quran melebihi sebulan, silakan duduk!”

Kali ini, beberapa orang perlahan menekuk kakinya. Berlutut berlinang air mata.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyaamul Bidh, silakan duduk!”

Tinggal sedikit yang masih berdiri, dengan wajah yang sangat tegang, dada berdegup kencang, dan tubuh menggeletar bagai meriang.

“Yang pernah meninggalkan Qiyamullail, silakan duduk!”

Kali ini semua terduduk lemas. Hanya satu orang yang masih berdiri. Dia, sang sultan sendiri. Namanya Muhammad Al Fatih. Dan obsesi tujuh abad itu adalah Konstantinopel.

Saya menziarahi makamnya beberapa waktu lalu, menyampaikan terimakasih dari ummat ini atas kegemilangannya mewujudkan obsesi umat yang berumur tujuh abad. Tentu pula saya memohonkan kepada Allah semoga Dia mengampuni dosa-dosa hambaNya, Muhammad ibn Murad, menyayanginya, memberikan ‘afiyah, dan memaafkannya.

Sebab selain Rasulullah ﷺ, tiada manusia yang tak luput dari kesalahan. Terlebih pula yang tak dia sengaja.

Muhammad Al Fatih, dan nanti dikukuhkan oleh putranya Bayazid II telah mengambil sebuah keputusan yang berdampak bagi sebuah jazirah berjarak ribuan mil dari takhtanya. Jazirah itu adalah Nusantara. Dan keputusan itu adalah menutup Bazaar Rempah-rempah di Konstantinopel yang telah menyandang nama baru, Istanbul.

Ini tentu karena Genoa dan Venesia. Dua negara kota Italia inilah penyokong utama Kaisar terakhir Byzantium, Konstantin XI Palaelogos. Genoa mengirimkan Giovanni Gustiniani, sang ahli pertahanan kota sementara Angkatan Laut Venesia sebelum pembangunan Rumeli Hisari dan Anadolu Hisari pernah menjadi kesulitan terbesar Muhammad Al Fatih.

Genoa pula, dan terutama Venesia adalah pembeli utama rempah-rempah dari dunia timur di Konstantinopel yang menjadikan mereka sebagai transito akbar tempat para tengkulak berbelanja rempah untuk dijual kembali hingga ke Eropa Barat. Jatuhnya Konstantinopel dan penutupan Bazaar Rempah telah mematikan perniagaan kedua kota itu.

Akibat lebih jauhnya adalah dimulainya penjelajahan samudera oleh bangsa-bangsa Eropa Barat untuk mencari negeri asal rempah-rempah. Nama-nama Bartholemeus Diaz, Vasco Da Gama, Alfonso D’Albuquerque, Christopher Columbus, hingga Ferdinand Magelhaens dan Juan Sebastian De’l Cano lalu menghiasi sejarah kita karena kepeloporan Spanyol dan Portugis. Lisabon menjadi pasar dunia, disusul kemudian Amsterdam.

Dan mimpi buruk Nusantara kitapun dimulai.

Jadi selain menghadiahkan para da’i yang menjadi kunci Futuhat Nusantara seabad sebelumnya, Daulah Turki ‘Utsmaniyah, meski secara tidak langsung, tanpa sengaja, dan bukan faktor tunggal; juga memberi kita para penjelajah samudera dari Barat yang kerakusannya melampaui tujuan awal mereka menemukan negeri rempah. Sejak D’Albuquerque mencaplok Malaka, lalu Pieter Both bersama Jan Pieterszon Coen menduduki Jayakarta, 350 tahun kita berdarah-darah dalam jihad melawan penjajah.

Bagaimanapun, ‘Utsmani selalu ada dalam penghormatan dan harapan Nusantara seperti ditunjukkan Kesultanan Aceh Darussalam hingga Kesultanan Mataram. Maka kini setelah kita adil memandangnya dengan menyingkirkan puja yang terlalu, barangkali ini saatnya menguatkan hubungan Republik Indonesia-Republik Turki di berbagai bidang.

Turki sudah Mantan pemimpin peradaban Islam; jika ia bertugas menjadi mentor, tak bersemangatkah kita untuk menjadi Calon?

Dari twitter @salimafillah 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Kecultanan AcehKonstantinopelMuhammad al FatihTurkiUtsmani
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Prestasi Sebuah Ormas Islam Dinilai Sebagai Karya Seluruh Muslimin
Tulisan selanjutnya Sejumlah Tokoh Serukan Selamatkan Generasi Muda dari Nikotin

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Salam dari Salim

Ayah dan Ibu Kekasihku

5 Agustus 2016 08:20
Salam dari Salim

Menari di Atas Batas

3 Juli 2016 11:11
Salam dari Salim

Pelik Ceri dan KEBUN yang Serba Mengerti

26 Mei 2016 08:20
Salam dari Salim

Kemana Ilmu Membawa Kita?

19 Mei 2016 08:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?