Hidayatullah.com—Informasi dari seorang mata-mata CIA kepada pihak berwenang Afrika Selatan di era apartheid yang memungkinkan penangkapan terhadap Nelson Mandela di tahun 1962, sehingga aktivis kulit hitam itu harus mendekam dalam penjara selama 27 tahun, demikian lapor harian Sunday Times.
Dilansir AFP Ahad (15/5/2016), koran tersebut mengutip pernyataan Donald Rickard, seorang mantan wakil konsul AS di Durban dan mata-mata CIA, kepada sutradara film asal Inggris John Irvin.
Film terbaru Irvin, “Mandela’s Gun”, bercerita tentang beberapa bulan sebelum penangkapan tokoh anti-apartheid itu, yang akan ditayangkan dalam festival film di Cannes pekan ini.
Setelah dibui selama lebih dari dua dekade Mandela akhirnya dibebaskan pada 1990 dan menjadi presiden kulit hitam Afrika Selatan pertama dari 1994 sampai 1999, sebelum akhirnya meninggal di usia 95 tahun pada 2013.
Sebuah artikel yang ditulis James Sanders, yang mengaku diminta Irvin untuk menyelidiki hal itu, mengatakan sutradara film tersebut melawat ke Amerika Serikat dan mewawancarai Rickard.
Bekas mata-mata CIA itu menjelaskan bagaimana Mandela ditangkap saat dalam perjalanan antara Durban dan Johannesburg, tetapi dia menolak menjelaskan bagaimana dirinya tahu aktivis pembela hak warga kulit hitam itu akan berada di sana.
“Saya mengetahuinya ketika dia pergi dan dia pergi … di situlah saya terlibat dan di sanalah Mandela ditangkap,” kata Rickard.
Dia menambahkan bahwa Mandela “sepenuhnya berada di bawah kendali Uni Soviet.”
“Dia bisa saja menyulut perang di Afrika Selatan, Amerika Serikat harus terlibat, dengan enggan, dan keadaannya bisa menjadi seperti neraka,” imbuh Rickard.
“Ketika itu kita tertatih-tatih di pinggir jurang dan hal itu harus dihentikan, yang artinya Madela harus dihentikan. Dan saya menghentikannya,” kata Rickard.
Ketika Mandela ditangkap, sedang terjadi Perang Dingin antara blok negara-negara liberal dan menganut demokrasi dengan blok negara-negara komunis. Dua negara besar yang mewakili masing-masing ideologi, Amerika Serikat dan Uni Soviet (kini Federasi Rusia), saling berlomba menularkan pengaruh mereka ke negara-negara lain. Perang Dingin yang dimulai sejak 1947, atau dua tahun setelah berakhirnya PD II, membuat dunia internasional tegang karena diwarnai dengan perlombaan senjata dan alat perang.
Perang urat syaraf itu berakhir pada 1991, ketika Uni Soviet mulai diterpa angin perubahan politik dan sejumlah negara mulai melepaskan diri dari ikatan Moskow.*




